Jangan “Kambinghitamkan” Iblis, Syetan dan Sekutunya

 

Kompleks sudah. Ya, kompleks sudah permasalahan yang dihadapi oleh Negeri ini. Wajar kalau Penulis memulai tulisan ini dari kalimat yang sangat premis. Walaupun premis itu berkonotasi negatif. Betapa tidak, beragam permasalahan melanda Negeri ini. Mulai dari urusan agama, politik, ekonomi, korupsi sampai pada (maaf) urusan “ereksi”. Ereksi? Ya, masalah yang satu ini tidak bisa dianggap sepele. Kenapa? Karena urusan “ereksi” ternyata tidak memandang golongan, kasta, dan jabatan. Tentu Ini sangat berbeda dengan korupsi. Korupsi hanya bisa dilakukan oleh seorang pejabat dan golongan tertentu saja. Tulisan ini tidak akan mengurai secara general kenapa untuk hal sekelas “ereksi” bisa merambah semua lini dan menjadi tontonan publik saat ini. Tentu pula bukan dalam frame men-generalisir bahwa tidak ada lagi orang baik di muka bumi ini yang bisa dan mampu menghindari urusan “syahwat’ yang satu ini. Terakhir, kasusyang menimpa Bupati Katingan Kalimantan Tengah HA Yantenglie dan Farida Yeni, ASN RSUD Mas Amsyar Kasongan Kabupaten Katingan,boleh jadi hanyalah sebuah puncak gunung es. Artinya, aktivitas tak terpuji seperti itu lebih banyak yang tidak terekspose keluar, apalagi bila di antara keduanya, sudah ada komitmen tidak tertulis, bahkan menjadi sebuah konsensus. Cilaka!

Ada sebuah pertanyaan yang menarik untuk fenomena terhadap setiap kejahatan yang terjadi, yaitu: “Apakah untuk setiap hal yang buruk yang bernama kejahatan, kita harus menyalahkan iblis, setan, jin dan semacamnya sebagai penyebab dari hal-hal buruk tersebut? Kemudian, Bagaimana dengan kebodohan manusia? Apakah serta merta segala tanggung jawab kejahatan tersebut, termasuk kejahatan seksual dengan segala bentuknya, harus kita lemparkan kepada ke si iblis sebagai penanggung jawabnya? Well, mungkin memang lebih mudah menurut Penulis, untuk melemparkan tanggung jawab pada sosok makhluk yang tak kasat mata, ketimbang bertanggung jawab atas keputusannya sendiri dengan segala resiko dibaliknya. Di sisi lain, saya lebih percaya bahwa banyak hal buruk terjadi karena ada banyak kebodohan di sana. Bukan lantaran karena godaan iblis, syetan dan jin semata. Menurut Penulis, para pelaku kejahatan tidak cukup pintar untuk mencari jalan lain mendapatkan kepuasan yang lebih. Mereka terlalu bodoh untuk berpikir mencari solusi yang lebih elegan untuk menyelesaikan atau memuaskan keserakahan yang ingin mereka miliki dan rasakan.

Kebodohan yang Nyata

Sebagai contoh, mari kita lihat soal korupsi. Menurut saya, para pejabat itu korupsi karena mereka tidak cukup pintar untuk mencari jalan lain mendapatkan kekayaan lebih. Mereka terlalu bodoh untuk berpikir mencari solusi yang lebih elegan untuk menyelesaikan persoalan ekonomi atau memuaskan keserakahan mereka.Coba bayangkan orang-orang jenius, Bill Gates misalnya. Saya tidak membayangkan bahwa dia akan mencuri uang perusahaannya, Microsoft. Tokoh lainnya, Stephen Hawking mungkin juga tidak akan mencuri uang perusahaan. Buat apa juga kedua orang tersebut mencuri, mereka tahu betul otak mereka cukup berharga dan dapat menghasilkan banyak keuntungan. Hanya mereka yang sangat terbatas yang hanya tahu jalan pintas semacam korupsi untuk menambah penghasilan bulanan mereka.

Bagaimana dengan pejabat yang suka bersyahwat? Bagi Penulis, itu juga sama penyebabnya yaitu kebodohan. Para “pemerkosa” dengan high status tersebut terlalu dungu untuk bisa memikirkan bagaimana cara merayu wanita agar mau tidur dengan mereka secara sukarela. Bisa juga, mereka tidak punya kemampuan berpikir yang dapat diandalkan sehingga wanita dianggap variasi dalam sisi gelap kehidupan mereka. Penyebab lainnya adalah mereka juga mungkin terlalu bodoh untuk menghamburkan penghasilan lebih yang mereka miliki, selain hanya untuk bisa tidur dengan wanita lain yang bukan muhrim nya. Jika pejabat yang  berselingkuh cukup pintar, para “pemerkosa” itu pun juga seharusnya sadar bahwa resikonya tidak sebanding dengan kesenangan yang mungkin mereka dapatkan.  Durasi orgasme laki-laki itu paling lama berapa menit? Bandingkan dengan hukuman penjara yang sampai dengan tahunan durasinya. Belum lagi resiko jabatan yang bisa saja dicopot atau dimakzulkan. Ini sudah pernah terjadi pada Bupati Garut, Aceng Fikri, walaupun kasusnya agak berbeda, akan tetapi kembalinya tetap ke urusan yang itu-itu juga.

Analoginya mungkin seperti ini: Jika seorang laki-laki –termasuk pejabat- bisa orgasme selama 6 bulan lebih tanpa henti, mungkin resikonya akan sedikit lebih sebanding dengan kenikmatan syahwat yang bisa didapatkan. Itupun sebenarnya masih sangat merugi untuk hitung-hitungan ‘risk and gain’.Orang yang sadar betul dengan logika, tidak akan mau mengorbankan waktu 10-15 tahun penjara untuk ditukar dengan 10-15 menit kepuasan syahwat – toh juga sebenarnya waktu 10-15 tahun juga sudah lebih dari cukup untuk bisa digunakan berusaha demi mencapai kepuasan birahi tanpa resiko sama sekali.Saya sangat percaya dengan satu hal: orang yang masih bisa mengandalkan otaknya, tidak akan menggunakan syahwat sebagai solusi birahi yang dihadapinya. Bagi saya, syahwat birahi sama dengan luapan emosional seseorang. Orang-orang yang mudah emosi adalah orang-orang cengeng yang berlindung dibalik kegagahan semu yang dimilikinya.Manusia, paling tidak Penulis pribadi, cenderung untuk menyerah pada emosi ketika merasa mentok saat menghadapi masalah. Umpamanya saja seperti ini, ketika kita merasa tahu benar jawaban dari sebuah soal ujian, kita tidak akan menggerutu atau menangis karena soal tersebut. Kita pasti akan langsung menjawabnya sesuai dengan logika berpikir kita masing-masing.

Subhat Pemikiran

Diantara para pejabat yang korup atau penzina (atau malah keduanya) itu, mereka  dengan sadar dan paham, tindakannya. Bukan mereka tidak mengerti dan paham atas tindakan yang sangat terkutuk, dan tidak lagi memiliki moral alias melakukan moral hazard.Sejatinya mereka itu tidak lain para penipu dan pendusta terhadap rakyat. Mereka bertopeng seakan mereka menjadi pembela rakyat. Mereka bertopeng seakan menjadi manusia mulia. Tetapi, sejatinya mereka itu, hanyalah para penjahat, yang berpura-berpura, sebagai manusia-manusia mulia. Mereka memiliki hidden agenda (agenda terselubung), menghancurkan kehidupan rakyat dan bangsa.Mereka hanya beribadah kepada syahwat perut dan kemaluannya. Tidak kepada al-haq. Mereka dengan fasih ber-orasi dan ber-retorika di depan para pengikut dan bawahannyanya, dan berhasil menyihir dan menipu para pengikut dan bawahannya tersebut, tetapi mereka tidak akan pernah bisa menipu terhadap diri mereka sendiri.

Mereka dengan kemahiran dan kecanggihan berwacana berhasil  mengelabui para pengikut dan bawahannyanya dengan ungkapan kata-kata, tetapi mereka itu secara tidak sadar telah membuka topeng-topeng busuk mereka sendiri, dan yang sangat menjijikan.Apa yang mereka sembunyikan itu, akhirnya  terpampang dengan telanjang bulat, bahwa sejatinya mereka itu bukan pejuang dan penegak al-haq. Tetapi, mereka para pemuja syahwa perut dan kemaluan, dan mereka menghalangi-halangi umat manusia kepada kepada kebenaran (al-haq). Kalau realitas empiriknya seperti ini: masih pantaskah kita secara absolut menyalahkan iblis, syaitan dan sekutunya sebagai penyebab utama terjadinya kebobrokan nilai pada diri seorang manusia yang memiliki kesempurnaan dan ketinggian standar pikiran, hati, dan perasaan?Ataukah kita sudah termasuk ke dalam golongan yang terjangkit subhat dalam menghasilkan pemikiran?Pemikiran yang sangat tergantung kepada para aspek materi dan kenikmatan semata. Apa saja yang dikerjakan dan keputusannya, dianggap selalu benar, dan tidak pernah salah. Karena terapi terhadap “lemah syahwat” yang sebenarnya adalah dengan menkonsumsi obat-obatan yang menjauhkan kita dari kebodohan dan kekufuran terhadap nikmat yang sudah kita miliki saat ini.

Akhirnya, mengkambinghitamkan iblis, setan, jin dan semacamnya itu menjadi trend yang  juga sebenarnya salah satu akibat kebodohan yang tidak mau melihat satu persoalan lebih jauh, sehingga mencari sebuah jawaban yang lebih singkat, lebih universal, dan lebih tidak dapat disanggah oleh kebanyakan orang. Kalaupun misalnya iblis, setan dan keluarganya itu memang eksis, apa yang bisa mereka lakukan jika sang manusianya tetap berpegang teguh pada logika berpikir? Yah, akhirnya, tulisan ini hanyalah opini semata dan saya tidak pernah mau memaksakan pendapat – bisa saja tulisan ini juga salah satu akibat dari kebodohan saya sendiri. Namun paling tidak, coba tanyakan lagi apakah memang tidak ada penyebab lain selain iblis, setan, kuntilanak, jin dan kawan-kawannya atas berbagai hal buruk yang terjadi di sekitar kita? Apalagi jika kita berbicara antara kebodohan dan Iblis, setan,serta sekutunya, saya kira kita semua tahu manakah yang lebih nyata.

Buyung Syukron (Dosen IAIN Metro)