Jangan Generalisasi Moral Guru,Kritik untuk Endri Kalianda

“Sebagai guru hati saya menangis menyaksikan ulah anak-anak itu. Tapi, tidak bisa deh lalu semua kesalahan karena gurunya. Peran orang tua penting di sini ke mana mereka kemarin? Saya lihat di PKOR juga banyak sampe jam 23.00 WIB. Lumayan malam untuk anak sekolah. Wis biarkan saja. Orang tua mereka aja enjoy anaknya kelayapan ga jelas. Sebab, saya yakin setiap guru pasti sudah memberikan pengarahan yg benar,” tulis Puwan Mahadewi 14 menit lalu.

Saya mencoba memahami komentar terakhir terhadap catatan Endri Kalianda di Facebook, Minggu (8/5/2016) berjudul “Lihatlah Bejatnya Moral Guru Kita”.

Ada yang lebih keras dari Suryani Salim: “Maaf ya, lelaki yang membuat opini ini. Kalau saat ini Anda atau ke depannya Anda menjadi seorrang guru, maka Anda akan menyesal membuat tulisan ini (smile emotikon). Jika Anda tak tau kondisi siswa itu seperti apa Anda jangan sok berkomentar dan sok tahu ya…”

Komentar lain, “Gurunya sudah mengingatkan, anaknya saja ndablek”, “Sok moralis, kayak gak pernah ABG aja”, “Wah kalau semua kesalahan ditimpakan pada guru yang ga benar juga dong bapak dan ibu”, “Ini yang nulis artikel gak salah, tetapi juga gak benar semua”, dan masih banyak lagi.

Sekarang coba kita periksa tulisan Endri Kalianda ini. Dari judulnya “Lihatlah Bejatnya Moral Guru Kita”, menurut saya sudah bermasalah. Saya pikir tulisannya akan mengungkap bukti-bukti betapa bejatnya guru. Tapi, yang terjadi adalah betapa Endri menimpakan kesalahan pada guru atas aksi corat-coret dan tindakan tidak terpuji beberapa (tidak semua!) siswa.

Paragraf ini misalnya: “Tiba-tiba saya teringat, betapa bejatnya moral guru di sekolah saat ini. Guru-guru perempuan mereka yang shelfie dengan goyang dan memonyong-monyongkan bibir. Guru-guru yang mencabuli murid dan mengajarkan anak-anak SMA membuka situs redtube. Saya terus mengamati jalur mereka dari mana berasal dan hendak kemana di sore hari ini.”

Atau alenia penutup ini: “Guru yang rusak moralnya, bukan pada sisi ajaran. Melainkan ditandai dengan anak muridnya setelah lulus, kemudian pesta pora seperti habis bebas dari penjara. Lantas, sang guru menepuk dada dan gembira karena anak muridnya lulus semua. Guru yang baik, guru yang menangis, kasihan pada pelajar yang baru lulus itu. Nak, hendak kemana kamu setelah SMA?! Kamu dari Lampung, tak mungkinlah masuk kedokteran UI atau kerja di Astra.”

Terasa sekali sikap menyamaratakan atau menggeneralisasi* sebuah fenomena sosial. Ada dua variabel yang hendak dihubungkan begitu saja oleh Endri Y, yaitu moralitas guru (variabel X) dan perilaku siswa (variabel Y). Kalau kesimpulannya rendahnya para moral gurunya telah mengakibatkan siswa-siswa berperilaku buruk…

Waduh, tak bisa begitu saja. Banyak faktor kenakalan siswa dan banyak pula faktor pengganggu, sehingga tak selalu berpengaruh.

Jelas, ini gak bener! Tak boleh ada generalisasi untuk berbagai fenomena. Kejadian-kejadian tetap harus sebagai kasuistik, penyimpangan dari yang kesemestian. Begitu.

 

 

* generalisasi dalam KBBI didefinisikan sebagai 1 perihal membentuk gagasan atau simpulan umum dari suatu kejadian, hal, dan sebagainya; 2 perihal membuat suatu gagasan lebih sederhana daripada yang sebenarnya (panjang lebar dan sebagainya); 3 perihal membentuk gagasan yang lebih kabur; 4 penyamarataan;

 

Penulis : Umpu Ni Hakim