Jadi Apa Bedanya Kitab Suci Kita Dengan Kartu Tarot?

Beberapa waktu yang lalu, seorang kawan di Facebook, menceritakan mengenai bagaimana cara kerja peramal Kartu Tarot dan hubungannya dengan “Atensi” serta “Kitab Suci”. Diluar bahwa apa yang dilakukan peramal Tarot itu secara teknis memang di mata saya nonsense, tapi mendengarkan bagaimana dia bercerita terkait keterhubungan atas  attensi dan Kitab Suci memang mengasyikkan. Setumpuk kartu diletakkan di dalam kotak—konon berfungsi untuk mempertinggi kekuatannya—dan seorang yang ingin diramal nasibnya menarik kartu tersebut secara acak dan sang peramal tarot akan membacakan proyeksi nasibnya dalam sebuah rentang waktu yang abstrak juga. Sang peramal kartu tidak memberi disclosure memadai tentang kapan segala yang akan dikatakannya itu akan terealisir kecuali beberapa potong kalimat abstrak yang ditempatkan dalam rentang waktu yang  tidak begitu jelas .

Pada sebuah kesempatan, seorang peramal Tarot pernah saya temui meramalkan “kisah cinta” sang objek ramal yang dikatakannya,“Lu jangan ragu-ragu ambil sikap, karena dia nunggu-nunggu kepastian dari lu.” Bahkan terkait dengan rezeki dia mengatakan,“Lu jangan terlalu boros, managerial adalah hal yang paling penting kalo lu nggak mau kejeblos untuk kedua kalinya.” Pada kesempatan itu, saya tidak tahu apakah memang ramalan sang juru ramal Tarot yang memang begitu logis dan masuk akal atau sang objek ramal yang sebetulnya terpesona dengan dandanan sang peramal Tarot yang terlalu atraktif, percaya dirinya yang berlebih atau  kemampuan melakukan generalisasi dari sang peramal kartu tarot dengan mengatakan sebuah gambaran yang benar-benar abstrak dan kualitatif sehingga hal-hal yang paling standar sekalipun dapat berpotensi membuat si objek ramal berfikir,“memang benar juga ya,” sehingga dalam kesempatan itu dia hanya tampak manggut-manggut takzim.

Dalam penjelasannya, kawan saya   ini  memberikan argumen  menarik. Sejauh yang saya pahami, intinya menurut dia saat kita mencari sesuatu, bertanya, atau ingin menemukan sesuatu, pikiran bawah sadar kita, akan mengupayakannya dan men-drive beberapa gambaran dalam realita, menuju hal yang dimaksud. Apakah kartu tarot-nya yang keren? Aslinya, pikiran bawah sadar kita yang keren. Kartu Tarot, hanyalah ‘tools’ yang membantu kita, untuk berkomunikasi dengan diri sendiri dan dengan alam semesta . Bangun attensi, lalu munculkan niat anda apa, lalu bukalah Tarot itu  anda secara acak. Anda baca semua ayat yang ada di situ, maka anda akan menemukan, hal/ informasi/petunjuk/insight, yang nyambung dengan niatan anda di awal itu tadi. Kok bisa? Padahal kan anda membuka Tarot secara acak? Iya, itulah samudera kemungkinan. Memang acak di level quantum sana, namun, ketika anda memberikan intensi atau niat, anda melakukan “collapse wave“, sehingga pergerakan yang acak itu, akan mengerucut kepada sebuah kemungkinan tertentu, sesuai niatan.
Sejujurnya, di luar aspek theologis-nya yang konon dekat-dekat musyrik (sebuah skandal theologis yang serius sekali itu), menghayalkan bahwa gambaran nasib kita dalam beberapa waktu ke depan bisa kita ketahui hanya melalui penarikan sample secara serampangan atas setumpuk kartu yang ditempatkan di dalam kotak memang membuat saya agak sakit kepala. Bagi saya, dalam kasus kartu Tarot, yang terjadi adalah fakta-fakta itu akan selalu berada di luar sana, terjadi namun abstrak dan tak terbahasakan, gambaran kualitatif ada dalam diri kita sendiri dan kartu tarot hanya akan memberikan anda sebuah cara membaca dari sebuah penarikan sample yang benar-benar random. Semakin kita percaya, hal-hal prediktif yang disampaikannya menjadi semakin “mungkin jadi benar” dalam iman kita namun bagi yang tidak percaya, itu hanyalah sebuah proyeksi asal-asalan. Jadi Triloginya adalah “situasi material, individu dan alat baca.”

Bagian paling menariknya, ia kemudian mengabstraksikan Kartu Tarot itu dengan Kitab Suci. Tentu saja, sebetulnya ia dengan pertanyaan ini coba memulai gambarannya dengan sebuah pertanyaan asumtif, apa bedanya Tarot dengan Kitab Suci secara antropologis? Bisakah kita mengabstraksikan trilogi “Situasi Material”, “Individu” dan “Alat Baca” yang ada pada kasus Kartu Tarot  itu kepada orang beragama? Maka jawabannya adalah “Ya bisa”. Bukankah dalam kitab suci kita sering berhadapan dengan ketidak pastian juga dalam proyeksi-proyeksinya terutama dalam rentang waktu apa bedanya dengan Tarot? Bukankah gambaran yang diberikan kitab suci juga sebetulnya sangat kualitatif? Bukankah sebetulnya kitab suci juga pemandu Individu yang gelisah atas pertanyaan-pertanyaan dalam situasi materialnya? Lalu apa bedanya Kitab Suci dengan Tarot? Bukankah Kitab Suci bahkan terbukti  melahirkan darah tertumpah yang bahkan bisa bersaing ketat dengan apa yang dilakukan komunisme? Tentu saja dalam aspek ini Kartu Tarot boleh menang sedikit, setidaknya kita tidak pernah menemukan seseorang yang terinspirasi melakukan peperangan karena didorong nasehat Kartu Tarot.

Sebetulnya, dalam bukunya Battle For God, Karen Amstrong memberikan gambaran bahwa seluruh agama-agama dan para pembaharu di dunia ini turun dalam kronik pembangkangan atas penindasan dan juru bicara Tuhan atas kewajiban berbela rasa pada sesama. Agama adalah perangkat yang diturunkan Tuhan untuk mereka membaca situasi zamannya agar lepas dari situasi “Dukha” dan “Alienasi”. Kata kuncinya adalah Keadilan dan Kasih Sayang-Nya. Fazlur Rahman dalam “Islam” bahkan mengatakan, bahwa begitu seringnya kata-kata ini disebut-sebut hingga terasa bahwa Allah sebagai Tuhan Keadilan dan Kasih Sayang dan bukan Tuhan para Theolog.

Berbeda dengan yang dikira sebagian orang, Quran tidak bicara tentang Tuhan semata-mata sebagai Tuhan, bahkan Quran sendiri memang bukanlah Kitab tentang Tuhan.  Quran bicara tentang Tuhan, Monotheisme dan Manusia dalam artikulasi yang sangat praksis. Transendensi Tuhan dalam Quran selalu bermakna praktis ketimbang theologis. Hampir tidak ada peluang sebetulnya, untuk Quran berkata mengenai spekulasi Theologis yang semau-maunya ala Ahli Kalam di abad 3 Hijriah kecuali karena mereka telah lebih dulu bicara di bawah bayang-bayang theologi asing.

Quran sebagai “alat baca” secara keseluruhan bicara tentang bagaimana berlaku sebagai manusia yang benar dan memperlakukan manusia lain secara benar dalam bayang-bayang tanggung jawab individu di hari kiamat. Untuk itu Quran memberikan gambaran mengenai bagaimana bersikap dengan garis besar panduan moral yang benar terkait “situasi material” yang dihadapi masyarakat berdasarkan sifat-sifat  Kasih Sayang dan Keadilan-Nya. Untuk itu diharapkan agar Individu selalu dalam keadaaan diri yang “bersih dan terkoneksi dengan Tuhan”dalam bentuk praktek-praktek ibadah harian yang disebut “shalat” dan meninggalkan “maksiat” agar setiap saat mereka siap dengan tugas kemanusiaanya menjadi Wakil Resmi-Nya (Deputi/Khalifah) dalam mendistribusikan keadilan dan menghadirkan Kasih SayangNya. Individu yang memperjuangkan “hadirnya Keadilan dan Kasih Sayang Tuhan” itu disebut “Mujahid”, tindakannya yang hidup disebut “Jihad” dan kematiannya disebut “syahid”.

Maka menjadi aneh ketika dalam faktanya “Tuhan” tidak pernah hadir dalam bentuk advokasi  ketika warga Urut Sewu, Kebumen, berunjuk rasa mempertahankan tanah pertaniannya yang diklaim sebagai lokasi latihan tempur. Tuhan juga tidak pernah hadir dalam Aksi penyelidikan ketika aktivis-aktivis dihilangkan dari bumi Indonesia dan sampai sekarang tidak pernah diketahui keberadaannya. Tuhan absen dari cerita keseluruhan cerita ini untuk mengajarkan ketika Ekosistem kita hancur binasa di tangan taipan-taipan sawit, mangrove kita dihajar reklamasi, dan jutaan hektar tanah Papua yang bisa menghasilkan 20 ton sagu harus diganti dengan padi yang hanya akan menghasilkan 4 ton gabah setiap kali panen. Tuhan bahkan diam saja dari isu terbaru ketika korupsi makin masiv dan perangkat-perangkat-Nya justru sibuk jadi bagian dari korupsi itu sendiri, soal kurikulum pendidikan kita yang sinting itu atau  ketika sekelompok media besar menerima proposal milyaran untuk menjaga pemberitaan agar selalu mulus dalam persidangan terkait Grup Lippo baru-baru ini.

Tuhan tampaknya selama ini selalu hadir hanya dalam hal-hal yang paling menyebalkan seperti ketika pilkada DKI ia dibutuhkan untuk berkoalisi melawan seorang keturunan Tionghoa bermulut kasar, atau ketika seseorang tersangka korupsi ditangkap dan dibawa oleh petugas KPK, ia akan mengatakan “Cobaan dari Tuhan”. Dengan seenaknya Tuhan hadir ketika seorang mengkritisi partainya sendiri yang membawa bendera agama, hanya agar yang mengkritik itu bungkam. Sejarah kita mengenai Tuhan rupanya juga begitu mengerikan sehingga agar Tuhan termanifestasi sempurna kita harus menghilangkan nama-Nya dari keseharian karena jika tidak ia justru akan hadir dalam bentuk syahwat dari orang-orang yang mengatasnamakan-Nya.

Perkembangan terbaru, Tuhan selalu hadir dalam bentuk motivasi dan kutipan-kutipan inspiratif.  Biasanya seseorang akan membawa sepotong kata-kata indah yang diklaimnya sebagai inspirasi Illahiah dan menyebarkannya kepada khalayak ramai yang terbius dan rela mengeluarkan 15 – 60 juta sekali tampil. Jumlah yang cukup jika ia pandai menabung dan “berjaga-jaga demi hari esok” untuk membeli Lamborgini dan Rubicon terbaru. Seorang yang menghadirkan Tuhan dalam format semacam ini sebetulnya tidak berbeda dengan pengemis yang memakai trik cacat tubuhnya agar kita “bersyukur” memiliki kesempurnaan dan kemudian tergugah untuk bersedekah. Kolumnis Mesir Fahmi Huwaidi dalam ‘Azmah Al – Wa’yi Ad-dini’ menyebut orang semacam ini sebagai penganggur yang mencuri uang masyarakat yang tergugah. Imam Ghazali menggambarkan tentang sekelompok orang yang tidak akan menipu orang lain dengan menyebut dirinya penipu secara terus terang, karena akan dikatakan kepadanya “Peraslah keringatmu dan bekerjalah seperti orang lain,” yang dilakukan penipu itu adalah  dengan menggunakan trik halus untuk mengalihkan harta orang lain ke pundi-pundinya. Mereka itu adalah orang-orang yang kata Imam Ghazali,“Sekelompok orang yang melontarkan kata-kata atau melakukan tindakan yang membuat orang yang melihatnya terbius dan terhibur sehingga mereka rela memberi uang.”

Jika Tuhan selalu hadir  secara random dalam hal-hal yang bersifat legitimatif  bahkan berpotensi mengelabui, atau hanya hadir dalam kutipan-kutipan sepotong yang memberi motivasi, maka memang tidak ada bedanya Kitab Suci anda dengan Kartu Tarot yang dikocok untuk meredakan kegelisahan atas ketidaktahuan anda menghadapi dunia. Hanya jika kita  berani menjadi juru bicara Tuhan yang bertanggung jawab secara utuh menghadirkan sifat-sifatNya, maka baru pada saat itulah kita beranjak dari menggantungkan persepsi pada  kocokan kartu “kitab suci” menjadi orang merdeka yang tidak harus tergantung kepada “peramal” yang ternyata juga hanya cari uang.

Khairun Fajri Arief (Peneliti Sosial Keagamaan)

.