Istirahatlah Kata-Kata

Di kereta, Usai nonton (lagi) “Istirahatlah Kata-Kata,” Senep! Itu kata yang paling tepat  mewakili. Kisah sunyi Thukul di pelarian, bertahan dalam sepi, dicekam ketakutan, dalam-dalam ditikam rindu pada anak istri digambarkan dengan sangat indah.

Seorang kawan terpekur usai menonton.  Jadi ingat zaman dulu ya? Ujarnya lirih. Saya lihat matanya memerah.

Di kereta, potongan adegan itu seperti berkelebat satu per satu. Lalu beralih ke fragmen berbelas tahun lalu. Jarang saya punya kesempatan (dan kemauan) untuk secara kusyuk mengingatnya lagi. Tapi film ini benar-benar menyeret kembali ingatan itu. 27 Juli 1996 yang mengubah segalanya. Jadi pelarian. Mengubah identitas, Berpindah-pindah lokasi demi menyelamatkan diri. Memahami betul arti kebaikan, ketulusan dan solidaritas ketika ada tangan-tangan terulur menolong kita, selamatkan kita, meski nyawa jadi taruhannya.

Sepotong adegan yg tak akan pernah lupa hingga saya mati: seorang bapak memeluk kami, membacakan doa untuk anak-anak muda yg bersembunyi di rumahnya, lantas melepas kepergian kami dengan air menggenang di pelupuk matanya, semata karena rumahnya sudah tak aman kami tempati. Seorang ibu sepuh, menyeduhkan teh panas, memeluk saya dalam diam ketika melihat saya termenung tercekam resah di kamar yg ia sediakan. Membaca berita di koran satu per satu kawan ditangkapi. Terpantul wajah bapak ibu di kampung yang rumahnya pasti sudah digeledah. Mendengar siaran radio yang menjelma seperti teror di kepala. Ketakutan menyaksikan orang berseragam dan sepatu lars. Jantung berlompatan bahkan mendengar bunyi sinere ambulans di jalan.

Semua. Semua. Seperti berlompatan dari kepala. Di persembunyian, saya menerima surat dari bapak saya yang dititipkan ke seorang kurir. Saya membaca goresan tinta itu dengan dada seperti meledak. Bapak tidak pernah menyalahkan saya. Bapak hanya meminta saya berhati-hati karena situasi belum aman. Dua mobil berisi aparat menggeledah rumah, anak bapak komunis, tuding aparat. Begitu cerita bapak. Bapak saya, saat itu hampir 70 tahun, menghadapi dengan gagah, meski kemudian lunglai di kamar sambil merangkul ibu.

Berbulan kemudian, situasi sudah mereda, saya kembali ke rumah. Saat itu sore menjelang Magrib. Bapak ibu memeluk saya dengan erat. Sangat erat. Ibu langsung menutup pintu dan jendela, mematikan lampu teras. Menggandeng saya ke kamar. Tak ingin ada yang tahu saya pulang. Malam itu, saya tidur di samping ibu. Sepanjang malam, Ibu memegang tangan saya erat-erat. Memeluki anak bungsunya seperti tak mau dilepas lagi.

Adegan-adegan itu berlintasan di antara deru roda kereta. Rindu pada bapak dan ibu, kembali menghantam-hantam sanubari. Menyaksikan film tentang pelarian Wiji Thukul, suatu yang luar biasa emosional buat saya. Tentu juga buat kawan-kawan lain yang alami serupa. Film ini, dahsyat meremuk redamkan hati kami.

Anak muda,  bangunan sejarah hari ini tidaklah disusun dengan mudah, semudah kita komentar, berdebat dan menyebar hoax. Terlalu banyak luka dan kepahitan, termasuk duka derita keluarga 13 orang yg diculik dan belum kembali hingga kini. Film “Istirahatlah Kata-Kata,” akan membantumu untuk memahami sejarah bangsamu sendiri. 19 Januari, akan diputar di bioskop. Nontonlah!

Lilik HS