Istirahatlah Kata-Kata: Kisah Pelarian “Mas Pos”

(Foto: Wiji Thukul di acara deklarasi Partai Rakyat Demokratik, 22 Juli 1996. Fotografer: Zefanya Suryawan)

Film fiksi yang diangkat dari kisah nyata memiliki beban berat. Ada banyak orang yang akan bersinggungan dengan kisahnya dan masing-masing bisa punya harapan berbeda dari film tersebut. Bahkan orang yang tak bersinggungan pun dapat memiliki harapan-harapan yang beragam.

Ketika film Istirahatlah Kata-Kata pertama kali keluar di bioskop, saya ikut mengantri dan tak dapat tiket. 3 kali penayangan sore hingga malam hari telah ludes terjual. Saking bersemangatnya untuk menonton, saya pindah ke bioskop lain dan hasilnya sama. Cita-cita untuk menonton Istirahatlah Kata-Kata di hari pertama gagal dan saya hanya bisa memperbincangkan kisah Wiji Thukul lewat kata-kata. Saya putuskan akan menonton film itu pada hari lain ketika penontonnya telah berkurang.

Secara pribadi saya mengenal Wiji Thukul. Tampilan, kata-kata, serta sikapnya sangat sederhana. Ia tak sungkan minta dibelikan makan jika sedang tak punya uang. Jika ia punya uang lebih dan ada kawan lain yang belum makan, ia mengajaknya. Hal lain yang saya ingat dari Wiji Thukul, selain aktif di Jaringan Kerja Kesenian Rakyat salah satu underbow Partai Rakyat Demokratik (PRD), ia adalah pengantar surat yang rajin. Di era 90-an surat-menyurat masih jadi andalan komunikasi. Mobilitas Wiji Thukul yang tinggi dari satu kota ke kota lainnya, membuat ia selalu dititipi banyak surat setiap kali ia bepergian, baik surat kepentingan organisasi maupun pribadi. Saya termasuk pelanggan jasa antaran surat gratis dari Wiji Thukul. Ia hanya tertawa setiap kali saya menyambut kedatangannya dengan bilang: “Wah Mas pos sudah datang.”

Saya sengaja memilih jam pemutaran paling malam saat menonton Istirahatlah Kata-Kata, dengan pertimbangan penontonnya lebih sedikit. Saya khusyuk menonton sepanjang 90 menitan durasi film itu.

Memfilmkan Wiji Thukul punya beban sejarah dan politik yang berat karena perannya di gerakan melawan rezim Soeharto. Puisi-puisinya banyak dibacakan diberbagai demonstrasi. Salah satu kalimat “Hanya ada satu kata: Lawan!” yang diambil dari puisi “Peringatan” bahkan tetap diteriakkan dalam demonstrasi-demonstrasi hingga hari ini. Belum lagi beban berat soal Wiji Thukul yang menjadi salah satu korban penculikan Mei 98.

Kisah penting Wiji Thukul bagi saya adalah kemampuannya menterjemahkan kemiskinan ke dalam kata-kata sederhana dan mudah diterima banyak orang. Tak hanya menulis, Wiji Thukul bahkan berani membacakannya sendiri di tengah massa aksi. Wiji Thukul menurut saya juga paham betul ungkapan yang berlaku bagi aktivis PRD bahwa melawan rezim Orba saat itu harus siap menghadapi resiko 4B, yaitu: Buru, Bui, Buang, dan Bunuh.

Sayangnya dalam Istirahatlah Kata-Kata saya tak menemukan semangat dan keberanian Wiji Thukul yang lugas namun keras seperti puisi-puisi karyanya. Bagi mereka yang awam dengan gerakan 98 tak akan mendapatkan cerita mengapa sosok Wiji Thukul begitu penting untuk dibicarakan. Sesungguhnya sebelum nonton film ini saya pun membayangkan sosok “Mas Pos” yang sangat berani.

Film ini adalah film yang sangat sederhana yang hanya mengisahkan babak kecil pelarian Wiji Thukul di Pontianak, Kalimantan Barat. Harapan saya dan mungkin juga harapan penonton lain untuk bisa melihat keberanian serta bagaimana Wiji Thukul menghilang sebelum kejatuhan rezim Soeharto tak terpenuhi dari film ini. Apapun sisi cerita pilihan dari pembuat film dan bagaimana ia menceritakan, itu sah-sah saja. Sebuah film memang tak akan mampu memenuhi ekspektasi dari masing-masing penontonnya.

Selain narasi besar Wiji Thukul yang tak muncul, secara teknis banyak adegan yang diambil dengan shot-shot panjang. Akibatnya tempo cerita berjalan sangat lambat. Bagi penonton kategori hanya ingin tau atau ikut-ikutan yang tak benar-benar tertarik dengan kisah Wiji Thukul, ini tentu akan membuatnya lekas bosan dan ngantuk. Namun jika pembuat film memang ingin menampilkan kesan waktu yang berjalan lambat, kesepian, serta lamunan-lamunan seorang pelarian seperti Wiji Thukul maka pilihan shot-shot yang panjang menjadi sangat pas.

Di luar soal Istirahatlah Kata-Kata yang tak memenuhi ekspektasi saya, film ini layak diapresiasi karena berani bersaing dengan film-film bertema lebay dan picisan di layar bioskop. Jika secara penghasilan film ini cukup menguntungkan, bukannya tak mungkin pemain besar di industri film Indonesia juga akan mengeksploitasi tema tokoh pergerakan yang berani melawan rezim Soeharto.

Istirahatlah Kata-Kata layak diposisikan bukan sekedar menjadi tontonan. Banyaknya antrian penonton atau bahkan banyaknya penghargaan dari berbagai festival film jangan dijadikan ukuran utama keberhasilan. Film ini harus dijadikan sebagai momentum untuk kembali membicarakan dan mengajukan tuntutan kepada pemerintah mengenai penuntasan kasus penculikan aktivis tahun 1998.

Ari Trismana (Producer di WatchdoC Documentary)