Islam dan Politik Di Indonesia

Islam merupakan ajaran yang menyeluruh, mengatur segala aspek kehidupan secara terpadu. Islam mempunyai hubungan yang integral dengan politik, sosial, ekonomi, hukum, pendidikan, keluarga dalam masyarakat. Islam merupakan agama yang mengatur kehidupan manusia, termasuk tentang negara dan politik. Dalam buku Politik Islam karya Muslim Mufti, dijelaskan secara bahasa kata politik merupakan hasil serapan dari bahasa Inggris, yaitu politic yang artinya “mengatur”. Dalam bahasa Arab diistilahkan siyasah, berasal dari kata sasa-yasusu-siasatan, artinya “mengurus”. Kemudian dari bahasa Yunani, yaitu polis yang berarti kota atau negara kota. Dari kata polis ini diturunkan kata-kata lain, seperti polites (warga negara) dan politikos yang berarti “kewarganegaraan”. Dari penjelasan tersebut dapat diartikan secara umum bahwa politik adalah segala sesuatu yang menyangkut kekuasaan dalam mengatur kepentingan dan kebaikan rakyat secara keseluruhan demi tujuan yang dicapai.

Adapun umat islam berbeda pendapat tentang pengertian politik dalam syariat islam. Pendapat pertama menyatakan bahwa islam adalah suatu agama yang serba lengkap,  yang serba di dalamnya terdapat sistem ketatanegaraan ataupun politik. Dalam bahasa lain, sistem politik atau fiqh siyasah merupakan bagian intergral dan ajaran islam. Sistem keteladanan yang harus diteladani adalah sistem yang telah dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW dan para Khulafaur Rasyidin, yaitu sistem khalifah.

Pendapat kedua menyatakan bahwa islam adalah agama, artinya agama tidak ada hubungannya dengan urusan ketatanegaraan atau sistem pemerintahan. Karena Nabi Muhammad SAW seorang rasul yang mempunyai misi menyiarkan agama, bukan sebagai pemimpin dan pengatur negara.

Berdasarkan penjelasan di atas menimbulkan kontrversi antara Islam dan negara. Pendapat pertama lebih menekankan bahwa politik merupakan bagian integral dan ajaran islam, dan sistem yang harus dilaksanakan yaitu sistem khalifah seperti sistem Khulafaur Rasyidin. Kemudin pendapat kedua bahwasanya islam dan negara adalah suatu hal yang berbeda, islam adalah agama bukan negara. Berdasarkan perbedaan pendapat inilah yang menyebabkan banyak perdebatan dan permasalahan umat islam dalam berpolitik di indonesia.

Sehingga banyaknya umat islam di indonesia berpolitik untuk menyebarkan agama islam, bahkan ada yang bertujuan untuk mendirikan sistem khalifahseperti Khulafaur Rasyidin. kemudian banyak orang yang beranggapan bahwa untuk kesejahteraan rakyat danmenyiarkan  islam harus melalui politik, tanpa berpolitik maka kita akan di pimpin oleh rezim yangzholim.Tetapi dapat kita perhatikanberdasarkan realita yang ada saat ini, bahwa kebanyakan orang yang mengikuti politik,banyak dari mereka terjerumus dan jauh dari nilai-nilai agama, seperti terjadinya permusuhan, perkelahian, sogok-menyogok, saling menghina, saling merendahkan, saling menjatuhkan, bahkan bisa saling membunuh demi merebutkan  jabatan. Banyak fenomena-fenomena yang kurang baik dalam dunia politik saat ini, contohnya sajapolitik yang ada di masyarakat seperti dalampemilihan Presiden, Gubernur, Kepada Desa, Walikota, dan lain sebagainya. Sering sekali kita melihat kejadian-kejadian yang mana saling menjelekan satu sama lain, saling menyogok saling menjatuhkan, saling membanting kursi, saling memukuldan banyak tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan norma dan nilai-nilai agama. Bahkan ketika seseorang sudah mendapatkan jabatan, banyak sekali ketentuan-ketentuan yang tidak sesuai dengan apa yang telahdi sampaikan sebelum menjadi pemimpin, seolah-olah perkataan dan visi misi yang di sampaikan itu hanya sekedar orasi, meyakinkan rakyat agar percaya dengan apa yang di sampaikan dan membuktikan bahwa dia lah yang paling hebat dan paling benar dari yang lainnya.

Berdasarkan penjelasan di atas bahwa dapat kita ketahui begitu jauhnya dari norma atau nilai-nilai agama.  Kemudian jika Islam itu di jadikan tujuan dalamberpolitik di negara indonesia atau untuk membentuk sistem khalifah, maka yang ada adalah kehancuran pada negara indonesia. Karena indonesia adalahnegara yang beridiologi pancasila dan membangun semangat nasionalisme dalam memperkokoh keutuhan NKRI, bangsa indonesia terdiri dari berbagai suku, ras, dan agama. Jika dalam berpolitik itu tujuannya untuk menyiarkan agama islam maka itu tidak akan bisa, karena masyarakat indonesia terdiri dari agama yang berbeda-beda dan akan mempertahankan agamanya masing-masing, jika Islam di jadikan tujuan dalam berpolitik di negara indonesia maka masyarakat yang beragama, Kristen, Budha, Hindu, akan memberontak dan bersaing di dunia politik untuk merebut kekuasaan dengan tujuan menyiarkan agama mereka masing-masing. Sehingga jika demikian yang akan terjadi adalah bentrok antar agama, jika sudah benterok antar agama, maka terpecah-belahnya persatuan bangsa, jika bangsa sudah berpecah-belah sehingga terjadilah kahancuran suatu negara tersebut.

Maka Soekarno juga telah menegaskan adanya pemisahan antara hubungan negara dengan Islam karena baginya agama islam merupakan urusan akhirat hubungan vertikal dengan tuhan, Bahkan dalam islam Nabi Muhammad SAW hanya seorang rasul, seperti rasul-rasul yang lain, yang mempunyai misi menyiarkan agama, bukan sebagai pemimpin, pengatur negara atau merebut kekuasaan, sedangkan negara merupakan hubungan horizontal yang bersifat keduniaan.Pemisahan anatara Islam dan negara menunjukan bahwa Islam tidak bisa menjadi tujuan dalam berpolitik di indonesia. Tetapi agama islamdapat digunakan untuk membentuk masyarakat yang mempunyai nilai dan moral yang baik dalam bernegara. Sehingga negara tersebut menjadi negara yang aman, adil, tentam, sejahterah, dan spiritualitas.

Kehancuran suatu negara itu juga di sebabkan karena jauhnya masyarakat dari nilai-nilai agama. Contonya saja dalam politik di indonesia saat ini, banyak sekali politik-politik yang kurang baik. politik diartikan sebatas pengaturan kekuasaan, bahkan menjadikan kekuasaan sebagai tujuan dari politik. Akibatnya yang terjadi hanyalah kekacauan dan perebutan kekuasaan, bukan untuk mengurusi rakyat. Kurang baiknya politik di indonesia karena masyarakat belum tertanam nilai-nilai agama. Sehingga yang terjadi saling sogok-menyogok, saling bermusuhan, saling menjatuhkan dan lain sebagainya.

Maka dari itu, mengapa hubungkan Islam dengan politik dalam membentuk negara islamtidak realistis diterapkan di indonesia. Karena indonesia bukan negara islam tetapi negara yang membangun semangat nasionalisme dalam memperkokoh keutuhan NKRI, dan indonesia terdiri dari berbagai suku, ras, dan agama. Indonesia bukanlah negara agama, tetapi negara yang beragama. dan politik dapat digunakan untuk mencapai suatu tujuan keadilan sosial, kesejaterahan rakyat, aman, makmur dan mempertahankan kesatuan Republik Indonesia, bukan untuk menyiarkan islam atau mendirikan negara islam. Kemudian mengapa politik di indonesia salah satunya dalam sistem demokrasi banyak kecurangan dan banyak tindakan-tindakan yang kurang baik, itu karena norma dan nilai-nilai agama salah satunya ketauhidan belum tertanam dengan baik pada masyarakat indonesia.Jadi bukan kesalahan pada politik atau sistem demokrasinya tapi pada rakyatnya dalam pelasanaan demokrasi. Jika rakyat sudah tertanam nilai-nilai agama dan ketauhidan yang baik, maka politik yang digunakan dalam sistem apapun, baik demokrasi ataupun musyawarah,pasti akan berjalan dengan baik, bahkan negara juga akan aman dan sejahterah. Dan islam bisa dijadikan sebagai seperangkat tata nilai etika dalam  mengisi kehidupan bernegara.[]