Islam Agama Yang Menakutkan?

Tulisan pendek ini dimulai dari sebuah kegundahan dan kegalauan seorang muallaf yang belum menemukan ‘entitas’ dan ‘identitas’ keberagamaannya, pasca dirinya memeluk Islam. Dan dalam konteks narasi, tulisan ini bersifat analogi. Walaupun secara empirik, cerita ini mungkin saja bisa kita temui dan hadapi. Seperti ini ungkapan kegundahan tersebut: “….10 tahun sudah aku memeluk Islam, tapi selama itu pula aku merasa tidak nyaman. Aku merasa ketakutan…” ujarnya.

Pertanyaan prinsipil yang saya ajukan dari kegelisahan tersbut adalah: “apa yang membuatmu takut?”, Lalu sang muallaf menjawab,”entahlah…tapi yang pasti di dalam Islam ada siksa kubur, ada orang-orang yang mengkafirkan, aku diruqyah meski aku gak tahu untuk apa? jujur itu membuatku takut. Buku-buku hadist sudah aku baca agar aku bisa memahami apa itu Islam, namun tetap aku tak bisa nyaman dengan semua ini. Aku bahkan masih suka menemui Romo di Gereja dan menceritakan masalahku. aku lebih suka Kejawen. Aku harus bagaimana?” Begitu pungkasnya, dengan penuh harap mendapat jawaban yang dapat membuat batin dan pikirannya menjadi tenang.

Jujur saja, bagi saya itu pertanyaan yang sangat sulit, yang secara legal dan resmi bodoh soal agama, lah wong baca Kalam Ilahi aja masih blepotan kok ditanya begitu, kan mumet banget. aku kudu piye? apa aku harus meminta dia tetap dalam Islam dan aku mencegah dia menjadi kafir kembali lantas aku beroleh surga? ‘asyik’ atau aku harus bilang “sakarepmu?”

Sebenarnya fenomena di atas, kerap dan banyak terjadi. Ada berbagai faktor yang menjadi penyebabnya. Mulai dari keyakinan sampai dengan karena perkawinan, ekonomi, politik, sosial, bahkan budaya. Untuk masalah di atas,  latar belakang dia menjadi muallaf karena perkawinan dan juga sejak kecil dia dididik sebagai seorang Katolik, akhirnya saya memberanikan diri untuk mengatakan kepada teman saya (tanpa mengutip satu ayat ataupun hadits) tersebut:

“kosongkan hatimu lebih dulu, kosongkan dari semua tentang Islam, kosongkan dari semua tentang Katolik, kosongkan dari semua tentang kejawen, biarkan hatimu yang merasakan, biarkan hatimu yang menuntun.”pinta saya kepadanya.

Mengapa begitu? karena saya percaya bahwa untuk bisa menerima cahaya Illahi tidak bisa dalam keadaan hati yang penuh dengan kegundahan. Ibarat gelas, tidak akan bisa menampung air apabila dia penuh. Tidak akan bisa mencampurkan kopi dengan sirup dalam satu gelas. Maka itu kosongkan dulu dan Tuhan Allah yang akan menuntun hati kita.

Siapapun yang tak mengakui adanya Tuhan dan mengabaikan peran penting agama dalam kehidupan manusia, pendapatnya takkan dapat menjadi pendapat mayoritas manusia. Dan ia tak kan dapat merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Hidupnya akan gelisah, hampa, bahkan sengsara. Seakan ada yang hilang dari jiwanya. Karena itulah orang yang demikian rentan terlilit masalah rumah tangga, masalah dengan lingkungan atau masyarakatnya, masalah dengan pekerjaannya, gangguan jiwa, dan lainnya, sehingga sangat mudah untuk terjun dalam kehinaan dengan melakukan bunuh diri.

Islam! bagi saya agama yang tidak dapat dipaksakan. Semua harus dilandasi atas keikhlasan diri menerima Tuhan di dalam hati. Jika diibaratkan Islam itu sebuah rumah, maka dia harus menjadi tempat yang nyaman sehingga siapapun yang masuk ke dalamnya mendapatkan kenyamanan itu. Islam itu indah karena tidak ada paksaan di dalamnya. Islam bagi saya adalah ajaran keselamatan. Bagaimana orang bisa menjadi Islam, menjadi selamat, sementara jiwanya justru tertekan ketika berada di dalamnya?

Lihatlah, ketika sekelompok orang sama-sama beragama Islam, namun sikap, kepercayaan, dan penerimaannya akan ajaran Islam tidak sama. Penganut paham Mutazilah dan Ahlussunnah atau Syafiiyah, Malikiah, dan Hanafiah, yang sama-sama beragama Islam, punya kepercayaan, sikap, dan tindakan yang berbeda dalam berbagai hal.

Begitu pula, sikap dan kepercayaan orang-orang Katholik dan Protestan juga banyak berbeda walau mereka dikatakan sama-sama beragama Kristen. Bahkan, kepercayaan, sikap, dan amalan orang-orang NU sering berbeda dari orang-orang Muhammadiyah. Padahal, keduanya bukan merupakan madzhab, melainkan “hanya” organisasi sosial keagamaan. Perbedaan itu tidak membuat mereka berbeda agama, karena agamanya tetap satu.

Menurut perspektif rasionalitas berfikir saya, ketakutan-ketakutan seperti itu wajar terjadi apabila wajah dan ‘performance Islam yang ditampilkan oleh sebagian orang adalah wajah yang sangar, berangasan, dan merasa paling benar. Jangankan bagi mereka yang non-muslim, bagi yang muslim pun terkadang menjadi gerah dengan keadaan seperti itu.

Seorang cendekiawan Muslim yang juga sejarawan, Syekh Muhyiddin al-Khayyath mengatakan, “Agama adalah kebutuhan hidup manusia.” Menurut ulama yang juga wartawan tersebut, manusia membutuhkan aturan-aturan yang dijadikan pedoman hidup, dan manusia lebih tunduk pada aturan agama dari pada aturan lainnya. Tanpanya, manusia akan hidup seperti binatang. Beberapa ilmuwan atheis seperti Charles Darwin dan Stephen Hawking boleh saja meragukan atau menafikan adanya Tuhan Yang Maha Kuasa, yang menciptakan manusia dan alam semesta. Tetapi mereka tak dapat membungkam kebenaran yang terang, yang dipercaya oleh umat manusia sejak awal keberadaannya, bahwa Tuhan itu ada dan agama adalah ajaran yang disebarkan oleh utusan-Nya.

Tapi saya yakin bahwa Islam akan tetap indah dan damai. Mari kita sama-sama menjadi pembawa pesan Islam yang damai, ramah, pengasih dan penyayang kepada segenap ciptaan Allah SWT sebagaimana kita mengawali doa kita, “dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang”. Ini hanya cerita dari saya yang hanya seorang yang dhuafa dalam ilmu agama dan menjadi catatan dan renungan pribadi di Jumat barokah.

Buyung Syukron (Dosen IAIN Metro)