Ida Zubaidah Sang Perempuan Embun Pagi

Perempuan embun pagi adalah judul serial eagle doc series yang rencananya baru akan tayang pada 21 April mendatang disebuah stasiun tv berita swasta  Kabar  ini saya dapatkan dari  akun media sosial seorang sahabat yang membagikan link trailer film dokumenter tersebut.

Film dokumenter ini menampilkan Ida Zubaidah seorang perempuan di Jambi yang memilih meninggalkan pekerjaannya di lembaga riset dan pulang ke kampung halamannya. Ida mendirikan PAUD secara swadaya bersama ibu-ibu petani sayur di Kelurahan Paal Merah, Jambi.

Kehadirannya memberi harapan tersendiri, bukan sekedar sekolah untuk anak usia dini, Paud Embun Pagi yang didirikannya menjadi ruang  bagi para perempuan untuk saling berbagi dan menemukan jati diri demikian sekilas sinopsis yang diberikan oleh pembuat film ini.

Saya mengenal Ida , perempuan cantik ini saat menjadi aktifis mahasiswa. Parasnya yang cantik ,tinggi dan berkulit putih mirip bule ini membuatnya menjadi idola dikalangan aktifis  organisasi yang saya ikuti . Jarangnya perempuan cantik yang aktif di organisasi membuat kami sangat bergembira dengan kehadiran Ida.

Jalan hidupnya sebagai aktifis mengantarkannya menikah dengan sahabat saya yang  tak kalah ganteng dan aktifis juga tentunnya. Keduanya berasal dari satu organisasi mahasiswa yang sama dan bertemu saat menempuh kuliah di Yogyakarta.

Sebagai mantan aktifis mahasiswa, Zubaidah meneruskan perjuangannya  di Jambi dengan mendirijan Yayasan Beranda Perempuan  pada tahun 2010..Ida memilih fokus kepada nasib perempuan yang  terpinggirkan akibat minimnya akses, kontrol, dalam pengelolaan sumber daya hutan. Menurutnya perempuan merupakan elemen penting dalam mata rantai sistem tata kelola hutan yang bersifat sosial.

Ida melihat banyaknya penguasaan lahan dan hutan untuk perkebunan sawit dan industri  telah menyingkirkan sumber penghidupan  perempuan. Terlebih  ketika industri ekstraktif diberi peluang untuk menguasai dan mengeksploitasi hutan.

Kembali ke film Perempuan Embun Pagi, Ida mendirikan PAUD Embun Pagi untuk membantu perempuan petani ditempatnya yang mengalami kesulitan ekonomi. Minimnya pendapatan sebagai petani sayur itu, berimbas pada banyaknya anak usia dini yang tidak mendapatkan pelayanan untuk mengenyam pendidikan.

Sekolah Embun Pagi berbentuk PAUD. Sekolah ini menerapkan kurikulum sesuai standar nasional, dan mengintegrasikan konsep agrikultur, di mana anak-anak bisa berinteraksi dengan alam sekitar. Bagi Ida Sekolah Embun Pagi tidak hanya menjadi ruang bermain dan belajar anak usia dini, tapi sekaligus menjadi tempat perempuan untuk belajar, dan mendapatkan informasi seputar hak kesehatan, pendidikan, dan politik.

PAUD Embun Pagi yang dikelola Ida dan kawan-kawannya awalnya memanfaatkan saung milik petani untuk kegiatan belajar-mengajar. Saat ini PAUD Embun Pagi menempati sebuah bangunan di atas tanah wakaf di Kelurahan Paalmerah, Jambi.

Awalnya, tenaga pendidik PAUD Embun Pagi berasal dari relawan Beranda Perempuan  tempat Ida bekerja dan sejumlah  mahasiswa yang peduli terhadap nasib pendidikan anak-anak petani. Baru pada Agustus 2013, terbentuk pengurus dan pendidik sekolah yang terdiri dari enam orang berlatar pendidikan SMP dan SMA yang berasal dari keluarga petani sayur.

Selanjutnya saya tak perlu bercerita lebih banyak lagi tentang bagaimana seorang aktifis bekerja ditengah berbagai kesulitan hidup. Terakhir saya mendengar sahabat saya Ipang yang notabene adalah suami Ida membuka rumah makan untuk menjalani hidup dan meneruskan perjuangannya.

Setelah lama tak mendengar kabarmu, saya menyampaikan rasa hormat dan apresiasi yang tinggi. Kepada suamimu, yang juga sahabatku, Selamat bung, kamu berhasil menempanya dalam kerasnya perjuangan.

 

Penulis : Oki Hajiansyah Wahab