Harga Gotong Royong

Mbah Kasiyo adalah contoh nyata warga yang setia dan mendahulukan kepentingan gotong royong. Jumat pagi ini beliau menyadarkan kami pentingnya gotong royong. Gotong royong lebih mahal dari uang, gotong royong bahkan tidak bisa digantikan dengan uang. Ongkos dari gerakan warga yang paling mahal adalah gotong royong itu sendiri.

Seseorang bisa memberi rokok, jajanan, kopi atau barang pengganti karena tidak gotong royong. Tapi itu tetap tidak bisa menggantikan solidaritas, yaitu bersama-sama mengerjakan hal-hal baru secara sukarela. Orang-orang dahulu lebih matang batinnya. Orang-orang dahulu lebih bisa menyelami kebudayaan manusia dan membangkitkan kepekaan. Apa yang kita lihat hari ini dengan kemudahan fasilitas dan teknologi tidak bisa menggantikan mata batin budaya lama.

Jadi jika anda-anda ingin melalukan perubahan di sebuah tempat, hal yang paling sulit adalah menggerakan solidaritas itu sendiri. Sebaik apapun gagasan anda, gotong royong adalah awal dari semua semua perubahan itu sendiri. Manusia-manusia yang menyadari bahwa perubahan bukan karena uang. Perubahan terjadi karena kita mau saling mendengar, saling menghargai pendapat, saling menurunkan ego, dan saling memberi inspirasi.

Mbah Kasiyo berujar,”kalau gotong royong digantikan uang, tentu orang semua akan mengganti dengan uang, tapi gotong royong itu harganya lebih mahal. Kalau suruh memilih, saya lebih memilih membayar dan melanjutkan pekerjaan. Tapi bukan begitu cara bermasyarakat, gotong royong adalah budaya kita sejak dulu.”

Payungi sejak awal dibangun dengan semangat gotong royong. Tidak mungkin pasar berdiri sendiri dan mengandalkan uang. Sebanyak apapun uang untuk memulai, tetap gagasan muncul karena mata batin yang mau bersimpul. Mendaratkan ide dengan bersama-sama dan melihat perubahan dengan pasti. Gotong Royong adalah Koentji.

Salam Payungi ☔☔☔

Dharma Setyawan