Haji: Sebuah Napak Tilas

Dalam bukunya yang terkenal, Ali Syariati memberikan sebuah refleksi yang sangat mendalam tentang ibadah haji. Bagi Syariati, Haji bukan sekadar ibadah dan napak tilas perjuangan Ibrahim. Haji menyimpan semangat revolusioner, bagi sesiapapun yang menghayatinya. Muhammad Nashirul Haq dalam dua artikel panjangnya di laman Islam Bergerak, juga sampai pada kesimpulan yang sama: Semua prosesi haji, dari Ihram hingga tahallul akhir, adalah pelajaran bagi manusia yang ingin membaktikan hidupnya pada masyarakat yang lebih baik; pada perubahan. Ia, sebagaimana direfleksikan oleh Nashirul Haq, menginspirasi perjuangan melawan kolonialisme, menjadi penyemai intelektualisme tradisionalis dan pembaharuan Islam setelahnya, hingga menjadi ajang untuk merenungi esensinya dari kisah-kisah historis yang menyertainya.

Saya bisa jadi punya pandangan yang agak berbeda, tapi ada banyak hal menarik yang bisa saya tarik berdasarkan pengalaman saya bulan lalu menunaikan Ibadah haji. Saya ingin membuat satu refleksi sederhana, bahwa haji mungkin adalah salah satu simbol dan arena pembelajaran tentang perjuangan. Esensi haji, dalam dimensinya yang paling sederhana, mungkin adalah perjuangan untuk melawan diri sendiri. Ia karenanya begitu spesial. Haji mungkin ibadah yang begitu diidam-idamkan oleh banyak Masyarakat Indonesia. Ia menjadi pilar rukun Islam yang kelima, yang membuatnya menjadi ibadah yang begitu istimewa. Tak terkecuali bagi saya, yang masih tidak percaya bisa berkesempatan menunaikannya tahun ini.

*****

Menapaktilasi perjuangan haji berarti memahami kembali ‘kisah-kisah di balik haji’. Ini mengajak kita kembali pada kisah klasik tentang perjuangan Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail dari perjuangan mendapatkan air di tengah gurun tandus, hingga keteguhan hati Ibrahim dalam perjuangannya melawan godaan hawa nafsu ketika diperintahkan untuk mengorbankan Ismail. Saya tidak akan mengungkapnya dalam perspektif ‘sejarah’ yang bisa saja membawa kita pada perdebatan soal autentisitas. Saya ingin lebih banyak mengupas sisi hikmah yang mungkin bisa kita dapatkan ketika melakukan ibadah haji, dengan sedikit banyak berkaca pada pengalaman menunaikan ibadah haji tahun ini.

Seorang jamaah haji yang baru saja sampai ke kota Mekkah, dan akan memulai prosesi ibadah hajinya, pasti akan melakukan satu ibadah: Umrah. Prosesnya panjang: mulai dari mengambil Miqat di tempat yang ditentukan, berihram, melakukan Tawaf Qudum (mengelilingi ka’bah sebanyak 7 putaran) disertai dengan Raml (lari-lari kecil), dilanjutkan dengan shalat di Maqam Ibrahim dan sa’i (berlari kecil dari Bukit Safa ke Bukit Marwah), lalu ditutup dengan Tahallul (memotong rambut). Ini adalah proses pertama yang harus dijalani.

Prosesi umrah ini mengingatkan kita pada perjuangan Siti Hajar dan anaknya, Ismail, dalam mendapatkan air. Syahdan, Siti Hajar adalah istri Nabi Ibrahim, seorang budak dari Habasyah (konon sering diidentikkan dengan Ethiopia) yang dimerdekakan oleh Ibrahim dan kemudian beliau nikahi. Lahir dari pernikahan ini ialah Ismail, yang kelak akan menurunkan suku Quraisy dan Nabi Muhammad. Selepas melahirkan Ismail, Ibrahim mengajak Siti Hajar kembali ke Syam dan bertemu dengan istrinya, Siti Sarah, istri pertama Ibrahim. Situasi mengharuskan Ibrahim kembali melakukan perjalanan, untuk mengasingkan Siti Hajar ke daerah Hijaz, yang diikuti dengan patuh oleh Siti Hajar.

Sampailah kemudian Ibrahim dan Hajar ke padang tandus di lembah Hijaz, yang sekarang menjadi kota Mekkah. Situasi sangat panas dan perbekalan kian menipis. Ibrahim meninggalkan Hajar dengan anaknya untuk bertahan hidup. Tapi Siti Hajar adalah perempuan yang kuat. Ia tidak pasrah dengan nasib; ia berjuang untuk hidupnya dan anaknya. Dicarinya air ke Bukit Safa, yang tak ia temukan. Tak menyerah, Hajar lari ke bukit Marwah, dan tak jua ia menemukan air disana. Ia tak juga menyerah, dicarinya air di dua bukit itu hingga tujuh kali.

Tatkala Siti Hajar sampai ke bukit Marwah, dari kejauhan ia melihat Ismail kecil mengais-ngaiskan kakinya. Allah berkehendak: dari kaisan kaki Ismail, terbitlah mata air. Segera dihampirinya mata air yang kemudian dikenal sebagai ‘Zamzam’ tersebut. Diberinya minum anaknya, lalu ia sendiri minum. Perjuangan Hajar, yang membawanya sampai pada titik batas antara hidup dan mati, yang mungkin bisa jadi dianggap mustahil, sampai pada tujuannya. Hidupnya dan anaknya selamat. Itulah yang kemudian dikenang oleh jamaah haji dengan melakukan Umrah: mengenang perjuangan Siti Hajar dalam mempertahankan hidupnya dan anaknya.

****

Syahdan, beberapa tahun kemudian, kembalilah Ibrahim untuk menjumpai Hajar dan Ismail. Ismail sudah menjadi anak remaja. Alih-alih mendapati seorang Ibu yang membesarkan anaknya, atau mungkin lebih menyedihkan daripada itu karena ditinggalkan oleh ayahnya di padang tandus, Ibrahim mendapati sebuah komunitas. Ya, setelah ditemukannya mata air Zamzam, berduyun-duyunlah para pejalan kaki, yang mengasing dari bencana di daerah asalnya, untuk tinggal di daerah itu. Hajar, seorang bekas budak yang diasingkan oleh suaminya ke padang tandus, kini menjadi seorang wanita yang dihormati. Begitu pula anaknya: Ismail. Mereka, konon, tinggal di tempat yang kini dikenal sebagai Arafah. Versi lain mengatakan Mekkah.

Tentu saja, Ibrahim senang sekali berjumpa dengan ibu dan anaknya itu. Tapi Allah kembali menguji: suatu ketika, di kala Ibrahim sedang terlelap, tiba-tiba datanglah sebuah mimpi. Ya, mimpi yang mungkin sepele. Tapi bagi seorang Nabi, Ibrahim sadar bahwa itu mungkin cara Allah berkomunikasi padanya. Pesannya sederhana saja: Ismail harus dibawa ke tempat penyembelihan, dan ia harus dikorbankan.

Ibrahim menghadapi dilema: Apakah ia harus mendahulukan titah Tuhannya, sebagai seorang Nabi, ataukah mendahulukan keselamatan keluarganya, dalam hal ini Ismail, anaknya, yang telah hilang belasan tahun dan baru saja bertemu dengannnya? Ibrahim bertanya kepada anaknya, dan jawaban Ismail membuatnya terkejut: dahulukanlah perintah Tuhan-Mu, wahai ayah! Inilah jawaban seorang anak yang dididik dalam perjuangan. Ia percaya bahwa ada jalan terbaik daripada nasib pribadinya.

 

Syahdan, Ibrahim kemudian menyiapkan pisau belati dan membawa Ismail berjalan. Di tengah jalan, di bukit Aqabah, Ibrahim bertemu dengan seorang manusia -atau katakanlah demikian- yang menyapanya. Tak dinyana, orang tersebut menggoda Ibrahim, berseru padanya supaya mengabaikan mimpinya dan kembali ke kota, tidak perlu mengorbankan Ismail. Godaan itu datang dengan kuat. Ibrahim sadar, ia harus menghadapi dan melawan godaan tersebut. Perintah Tuhan harus dijalankan. Ia ambil batu, lalu ia lempar orang tersebut sebanyak 7 kali, sampai orang tersebut menghilang. Ia sadar, godaan tersebut harus dilawan.

Ibrahim sampai ke bukit berikutnya. Orang lain datang, menyeru pesan yang sama. Untuk apa mengorbankan Ismail? Ia adalah anakmu, wahai Ibrahim! anak yang baru saja bertemu denganmu selepas belasan tahun. Tapi lagi-lagi Ibrahim sadar, ini juga godaan. Ia lakukan hal yang sama dengan yang ia lakukan di bukit sebelumnya: melemparnya dengan batu hingga orang tersebut hilang. Ibrahim meneruskan perjalanan, dan lagi-lagi di bukit berikutnya ia bertemu dengan orang lain yang melakukan hal yang sama. Tapi Ibrahim tetap teguh: ia tetap melempar orang tersebut hingga hilang dari pandangan. Dengan kata lain, Ibrahim tetap melawan.

Lalu sampailah Ibrahim di sebuah batu, tempat dimana ia akan menyembelih Ismail. Ibrahim menyiapkan pisau dan membaringkan Ismail, yang juga sudah siap dan ikhlas. Hal yang buruk sudah siap terjadi. Tapi betapa terkejutnya Ibrahim ketika kemudian Allah menyiapkan pengganti: alih-alih Ismail, seekor domba yang gemuk, siap dikorbankan. Allah mewahyukan padanya untuk mengorbankan domba itu, alih-alih Ismail. Perjuangannya sudah tuntas. Ia sudah menghadapi ujian, dan dengan demikian, tak perlu mengorbankan Ismail.

Lalu Ibrahim membawa kembali Ismail kembali ke kota tempat Ismail tinggal. Di sanalah kemudian mereka membangun peradaban. Ibrahim, di kemudian hari, memancangkan sebuah rumah tua. Itulah ka’bah. Proses perjuangan batin Ibrahim dan Ismail itu kemudian diabadikan dalam prosesi ibadah haji. Jamaah haji memulai semuanya dari Ihram, meninggalkan semua aksesoris keduniaannya kecuali dua lembar kain putih. Itulah yang kemudian dibawa ke Mina dan Arafah. Lalu menjalankan Wukuf, berdiam diri di Arafah untuk memahami semua kedaifan diri dan memanjatkan doa kepada Allah. Selepas Maghrib, bergegas untuk bermalam di Muzdalifah (Al-Qur’an menyebut: Masy’aril Haram). Lalu meneruskan dengan melontar Jumrah Aqabah. Semua jamaah haji yang kembali dari melontar Jumrah, entah di hari pertama (tanazzul) atau hari kedua dan ketiga, akan kembali ke Ka’bah untuk melakukan Tawaf dan Sa’i, lalu melakukan shalat di Maqam (tempat) Ibrahim berdiri untuk memancangkan fondasi terakhir Ka’bah. Selepas ber-sa’i, jamaah berhak melakukan Tahallul, menghalalkan diri dari larangan-larangan ihram (kecuali menikah, menikahkan, dan berhubungan suami istri), hingga ia selesai melontar di hari kedua (bagi yang mengambil nafar awal) atau hari ketiga (bagi yang mengambil nafar tsani).

***

Cerita di balik ibadah haji menyiratkan satu hal: haji bukan sesuatu yang dilakukan hanya untuk mendapatkan prestise. Tapi lebih daripada itu, haji adalah perjuangan. Menapaktilasi Ibrahim, Hajar, dan Ismail, berarti membangunkan sebuah memori tentang perjuangan. Bahwa untuk mewujudkan ‘Masyarakat Utama’, seorang manusia harus berjuang sampai pada dimensi spiritual. Bahkan pada dimensinya sebagai ibadah mahdhah, haji memerlukan perjuangan. Sejak para jamaah haji melafaskan niat dan menyatakan diri pada kondisi Ihram, sejak itu pula ia harus berjuang. Paling tidak, ia harus berjuang menahan diri dari kondisi yang membatalkan ihram. Lalu memperbanyak mengingat Allah, sebagaimana ditanfidzkan dalam Al-Baqarah. Itu saja bukan hal yang mudah. Haji, sebagaimana juga diingatkan oleh Ali Syariati dalam perenungannya, adalah berjuang untuk melakukan perubahan diri dan masyarakat.

Hal ini membawa kita pada perenungan-perenungan lain. Apa yang mungkin bisa kita ambil, sebagai manusia yang hidup berabad-abad setelah Ibrahim, Hajar, dan Ismail, dan hidup di zaman yang serba berkemudahan, ketika melakukan Ibadah Haji? Saya ingin memberikan sebuah refleksi sederhana. Mungkin, Ihram adalah perlambang persamaan derajat. Mina adalah tempat peristirahatan. Arafah adalah tempat berkumpul, mengorientasikan niat kita. Masy’aril Haram adalah tempat persiapan. Jamarat adalah perlawanan. Dan Tawaf Ifadah mengingatkan kita bahwa hanya kepada Allah kita akan kembali. Sai adalah pelambang bahwa mungkin kita harus mengerahkan seluruh tenaga, dan bahwa pertolongan Allah itu dekat. Nashrun Minallah wa Fathun Qariib.

Haji mengajarkan kita untuk memulai dengan diri sendiri, dengan mensucikan diri, dengan ber-Ihram. Terkadang, sebagai generasi muda, dengan semangat yang berkobar-kobar, kita menyalakan ambisi untuk mengubah masyarakat, dengan jargon-jargon heroik semacam ‘pemimpin masa depan’ atau ‘agent of change’ dan semacamnya. Kembali pada Ibrahim, kita dituntut untuk mawas diri: sebelum menjadi future leaders atau semacamnya, ber-Ihram-lah! Lepaskan semua kepentingan diri dan serahkan semua pada Allah. Pada titik ini, maknanya tidak hanya menjadi spiritual, tetapi juga sosial. Kita dituntut untuk menyadari bahwa diri kita bukan siapa-siapa. Dan ternyata tidak hanya terbatas pada hal-hal demikian. Ada godaan yang melunturkan niat ikhlas kita, yang juga harus kita lawan. Haji mengajarkan kita untuk melawan dan berjuang, dengan mengesampingkan nafsu. Itu saja bukan hal yang mudah, tentu saja.

‘Ala kulli hal, Haji mengajarkan bahwa upaya-upaya kita untuk mengubah masyarakat, tak bisa tuntas hanya dengan jargon. Ia membutuhkan perjuangan semua pihak. Haji, maka dari itu , adalah tempat pembelajaran. Belajar untuk berjuang menaklukkan diri sendiri, sebelum kemudian turun ke masyarakat dengan kompleksitas permasalahannya, berjuang melawan “syaithan” yang lebih nyata. Dan bisa jadi syaithan-syaithan itu kini tidak lagi hanya berada pada ilusi Ibrahim. Ia mungkin nyata, di tengah rumah-rumah yang tergusur, di tengah petani-petani yang kehilangan lahan, atau di tengah gedung-gedung pemerintah yang bergelimang suap dan penyalahgunaan anggaran. Ia bisa memanggil kita untuk merenungi hakikat haji dalam dunia nyata. Dan hanya kepada Allah kita menyembah, dan hanya kepada Allah kita berserah diri.

Nuun wal qalami wa maa yasthuruun.

Ahmad Rizky Mardhatilah Umar

*Materi untuk disampaikan dalam Pengajian Online PCI Muhammadiyah UK, 1 Oktober 2016/1 Muharram 1438 H.