The Good Lie : Kala Kita Berbohong untuk Kebaikan

“Tapi ada kalanya kita harus berbohong demi kebaikan.”

(Djenar Maesa Ayu, Mereka Bilang Saya Monyet)

 

Menonton film The Good Lie segera mengingatkan saya pada kata-kata Djenar Maesa Ayu diatas. Ketika sebagian besar agama menolak berbohong tetapi dalam film produksi Warner Bros ini, kita diajak memahami bahwa terkadang “berbohong” adalah sebuah hal yang justru bisa menyelamatkan nyawa.

Film yang dirilis pada tahun 2014 lalu ini dibintangi salah satu artis pemenang Oscar, Reese Witherspoon . Film  berlatar belakang perang sipil di Sudan pada tahun 1983 ini mengisahkan perang sipil  yang akhirnya mengakibatkan ribuan orang meninggal, mengungsi.  Film ini bercerita tentang sekelompok anak yang demi menyelamatkan diri harus berjalan kaki ribuan mil untuk menuju di sebuah kamp pengungsian yang ada di Kenya.

Dalam arus pengungsi tersebut, dihadirkan cerita lima  anak yatim piatu. Mereka bertahan dalam kebersamaan walau kelaparan, kelelahan dan serangan cuaca yang tak menentu dan datang silih berganti. Tersebutlah Mamere (Arnold Oceng), Jeremiah (Ger Duany), Paul (Emmanuel Jal) dan Abital (Kuoth Wiel) yang terpaksa berjuang tanpa Theo, kakak tertuanya yang di tengah perjalanan menuju Kongo diciduk oleh tentara sipil.

Theo menyerahkan dirinya kepada tentara sipil untuk melindungi 4 adiknya yang tengah tidur pulas diselimuti oleh rerumputan. Ia mengatakan bahwa ia seorang diri terpisah dari rombongan pengungsi. Pada saat itu, Mamere menyaksikan sembunyi-sembunyi kakaknya diciduk dan mendengar kakaknya mengatakan bukan hal yang sebenarnya tentang keberadaan mereka. Theo berbohong agar empat adiknya tetap hidup.

Mamere kemudian menggantikan posisi Theo untuk menjadi ketua bagi Jeremiah, Paul dan Abital. Setelah menanti selama 13 tahun, akhirnya Mamere bersama Jeremiah, Paul dan Abital mendapat kesempatan memulai hidup baru yang mereka harap lebih aman dan nyaman di Amerika. Pemerintah Amerika menerima beberapa pengungsi untuk bekerja dan menempuh pendidikan di USA.

Di Amerika,  mereka harus menghadapi konflik baru seperti pekerjaan, gegar budaya dan berbagai urusan berbau birokrasi lainnya. Beruntung mereka terbantu dengan hadirnya  Carrie seorang agen pencari pekerjaan dari sebuah lembaga amal. yang diperankan oleh Reese Witherspoon.

Selang  beberapa tahun kemudian, keempat bersaudara ini  mendapat kabar tentang Theo yang ternyata masih hidup. Lalu Mamere berinisiatif untuk pulang ke Kongo dengan bantuan Departemen Luar Negeri dan Imigrasi USA. Singkatnya, Theo berhasil ditemukan oleh Mamere di kamp pengungsian. Sampai kemudian Theo diberangkatkan ke Amerika dengan identitas Mamere.

Pada adegan Mamere melepas kakaknya di bandara, terjadilah perbincangan singkat tentang good lie. Mamere mengajak penonton untuk berhenti sejenak dan berefleksi  apakah good lie ini dibenarkan? Apakah demi alasan yang baik dan benar kita bisa berbohong?

Mamere merelakan Theo pergi sendiri menyusul adik-adiknya di Amerika. Ia berusaha membalas pengorbanan Theo sebelumnya yang telah menyelamatkan hidup mereka. Mamere dan Theo mewakili emosi dan dilema penonton yang bergejolak tentang pertanyaan seputar good lie. Kita diajak memahami bahwa ada saatnya dimana kita diyakinkan bahwa sebuah kebohongan terkadang bisa berdampak positif demi suatu tujuan yang baik.

Dalam The Good Lie juga ada pesan dan semangat kebijaksanaan yang mereka genggam sehingga selalu berusaha untuk bersama. Sebuah ungkapan dari Afrika menggambarkan film ini dengan sempurna If you wanna go fast, go alone. If you wanna go far, go together.

 

Genre : Drama
Tanggal Rilis Perdana : 03 Oktober 2014
MPAA Rating : Bimbingan Ortu
Durasi : 92 min.
Sutradara : Philippe Falardeau
Produser : Molly Smith, Brian Grazer, Ron Howard, Karen Kehela Sherwood
Penulis Naskah : Margaret Nagle
Pemain : Reese Witherspoon,Corey Stoll, Arnold Oceng, Ger Duany, Emmanuel Jal, Nyakuoth Weil, Sarah Baker, Thad Luckinbill, Maria Howell, Sharon Conley, Mike Pniewski, Joshua Mikel, Victor McCay

 

Penulis :  Ridho