GERAKAN BOLOS SEKOLAH?

Penulis: Taufik Rinaldi

Siang itu saya masuk ke ruang Bu Sur, Guru Pembina Kesiswaan bertubuh subur dengan senyuman yang akan mengingatkan pada kehangatan pelukan Ibu kita di rumah. “Saya ijin mau bolos sekolah, Bu. Dua minggu.” Ia sama sekali tidak terkejut, hanya saja sinar matanya nampak prihatin.

Bu Sur tahu saya bukan sejenis murid yang akan melompat girang tiap ada kesempatan cabut dari kelas dan lebih memilih nongkrong atau jalan-jalan. Hanya saja, belajar di ruang kelas bersama guru-guru yang sudah padam semangat ajarnya, kurikulum yang kadung jadi sebuah rutin ~seperti daftar belanjaan yang harus dituntaskan ketika kita ke pasar atau swalayan, guru yang memulai pelajaran sambil dalam hati berdoa agar bel tanda akhir jam belajar dibunyikan lebih awal, buat saya lebih mirip kesia-siaan.

Waktu itu sebulan menjelang ujian akhir SMA dan saya memilih untuk belajar sendiri di kamar kos-kosan, sambil tiduran di atas kasur yang keras, bercelana pendek dan kaus yang sebagian berlubang. Tidak perlu berhadapan dengan Bu Guru Matematika cantik yang mudah nyolot tiap kali diberi pertanyaan karena kesal selalu digoda murid lelaki. Tidak perlu jengkel bertemu Pak Guru sejarah yang pernah murka ketika saya bilang sejarah seharusnya bukan hafalan tanggal dan nama-nama panglima perang kemerdekaan. Saya ogah mengerjakan soal-soal Fisika sambil mendengar dengkur Pak guru yang entah mengapa matanya selalu saja nampak seperti orang pulang ronda.

Saya tidak benci pada guru. Kebanyakan mereka adalah orang baik dan membuat saya merasa sebagai murid kesayangan. Hanya saja, mereka manusia biasa, yang saya duga menjalani profesi sebagai guru lebih karena tuntutan untuk mendapatkan penghasilan. Tidak keliru, tentu saja. Tapi saya merasa harus melindungi diri sendiri agar kegemaran untuk cari tahu dalam diri saya tidak ikut padam. Sebagai murid, saya merasa perlu merawat tanda tanya dan rasa penasaran di kepala agar tak jadi loyo. Berbahaya, saya pikir, jika belajar di sekolah tak lebih urusan nilai di ijazah.

Saya ingat, pada hari-hari membolos itu, contoh soal-soal ujian nasional tuntas saya kerjakan berulang-ulang. Ada satu siang ketika saya merasa sejenius Einstein karena menemukan persamaan baru matematika. Saya juga ingat air mata bahagia Bu Sur ketika nama saya dipanggil sebagai lulusan dengan nilai terbaik tahun itu. Di buku Rapor, tidak ada catatan “absen” karena dua minggu membolos. Saya duga, Bu Sur pasti menyempatkan diri mengajak bicara Wali Kelas saya.

Dua puluh tahun setelahnya, saya bekerja di seputaran isu perbaikan pelayanan dasar bagi masyarakat miskin terutama pelayanan kesehatan dan pendidikan dasar. Ada rasa gamang tiap kali melihat “angka tingkat kehadiran siswa di sekolah” menjadi indikator penting keberhasilan pelayanan pendidikan. Untuk apa hadir jika sekolah lebih sering terasa membosankan? Apa menariknya duduk di ruang kelas jika sebagian besar guru membenci pelajarannya sendiri atau selalu saja kelelahan?

Sir Ken Robinson, ahli yang sangat dihormati di dunia pendidikan mengirim banyak sekali sinyal bahwa sistem pendidikan dan lembaga sekolah ditengarai sebagai penyebab matinya kreatifitas terutama karena 2 alasan: hanya mengutamakan nilai hasil dan kecerdasan science serta anggapan bahwa semua murid adalah manusia yang seragam. Sementara, para peneliti di bidang ekonomi sepanjang dekade terakhir mulai meneriakkan kecemasan tentang betapa pendidikan kita sekarang berjalan ke arah yang keliru. Di era mendatang ketika Artificial Inteligence mengambil alih secara masif ratusan bidang pekerjaan, sekolah seharusnya mengutamakan pendekatan untuk menyuburkan “soft skills”; kemampuan berfikir, bernegosiasi, persistensi dan mengelola konflik.

Bisakah sekolah kita hari ini menyiapkan anak-anak kita agar tidak menjadi budak mesin sepuluh tahun mendatang? Apakah para guru diperlengkapi kesadaran pentingnya kecintaan terhadap ilmu serta mengembangkan kecenderungan murid untuk percaya diri bertanya dan berbeda pendapat?

Apakah cukup masuk akal buat kita, para orangtua, untuk tetap saja menggedor pintu kamar anak-anak kita setiap pagi, menyuruh mereka segera mandi dan sarapan, agar tidak terlambat hadir di ruang kelas yang kemungkinan justru akan membuat kreatifitas dan keingintahuan mereka padam dan mati?