Generasi?

Saat ini, ketidak-seragaman pemikiran sudah menjadi hal yang wajar. Hal tersebut membuat sebuah pertimbangan. Bukan menjadi ancaman, ketika berpikir demokratis. Perbedaan pemikiran hari ini banyak dijumpai, karena berkumpulnya beberapa pihak yang berasal dari beberapa elemen.

Mahasiswa hari-hari ini menjadi sorotan publik. Banyak yang memperbincangkan bahwa mahasiswa adalah agent of change. Banyak tokoh agama, politik dan pejabat pemerintahan mengatakan hal yang sama mendeskripsikan bahwa mahasiswa menjadi penyebab segalanya. Ketika dahulu, Pemegang kekuasaan tertinggi pertama indonesia, Soekarno, dikala iaberpidato mengatakan “beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda maka akan kuguncangkan dunia.”

Suara-suara intagible tersebutharuslah menjadi pendorong untuk mahasiswa pada saat ini. Paradigma berpikir mahasiswa dewasa ini banyak melakukan persinggungan dengan kebijakan pemerintah dan permasalahan politik. Banyak melakukan pergerakan turun ke jalan adalah wajar untuk saat ini. Sebuah pemikiran yang akademis namun tidak pada posisi yang sebenarnya, sesuai kemanfaatan dan proyeksinya.

Jauh dari pada itu, mahasiswa haruslah dapat mengartikan bahwa, sebuah pergerakan bukan hanya harus dapat diarasakan fisiknya, namun yang terpenting adalah manfaatnya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan suara intagible, yang termuat dalam berbagai media. Namun, hari ini mahasiswa di batasi dalam beberapa aspek dalam melakukan pergerakan media, hal yang demikian membuat terbatasinya pemikiran mahasiswa.

Negara demokrasi, memberikan kebebasan sepenuhnya dalam memberikan pendapat. Namun alih-alih memberikan pemikiran, terdapat pula hal yang membatasinya. Salah satunya kalimat-kalimat yang mengandung unsur sara dan bui. Demokrasi terbatas, itulah yang membuat pergerakan menjadi pasif.Dilain hal, sentimen negatif, merupakan hal yang paling buruk dari seorang mahasiswa, misaltujuannya memberhentikan pemimpin. Bilamana hal itu terjadi kita akan mengulas hal sama pada masa orde lama.

Mentransformasikan pemikiran menjadi sebuah gerakan pada saat ini menjadi pilihan yang paling tepat. Bukan menjadi tameng kebijakan pemerintahan. Bila saja sebuah kebijakan menjadi penghancur dari pergerakan, maka di sanalah perlu melakukan koreksi aktif terhadap kebijakan. Aspirasi pemikiran mahasiswa merupakan hal yang harus didengarkan oleh pemerintah. Bukan hanya menjadi slentingan belaka. Karena,mata dan pemikiran mahasiswa tidak hanya berkutat pada kampus dan pelajaran. Mahasiswa juga mempunyai peran yang sangat sentral dalam pembentukan negara, dalam kepribadian.

Mahasiswa bukanlah tenaga yang dapat digerakkan, namun sebaliknya, mahasiswa adalah penggerak, yang berperan, dan yang mempunyai hak untuk negara ini. Mahasiswa adalah sebuah pikiran, yang harus dilibatkan dalam pemerintahan.Mahasiswa merupakan hal yang menjadi penting untuk diperhatikan pergerakannya. Kenapa demikian? Mahasiswa pada prakteknya melakukan kegiatan yang bersinggungan dengan masyarakat. Dari hal-hal yang demikian, mahasiswa juga mengetahui perkara dan beberapa pergejolakan yang ada di lingkungan. Alasan demikian yang menjadikan pemerintah wajib memberikan ruang yang terbuka untuk mahasiswa.

Percepatan dalam aktivitas pembangunan sebuah negara, tidak dapat dipisahkan dari keberadaan mahasiswa. Bahu-membahu adalah hal yang harus dilakukan antara pejabat negara dan pejabat intelektual—mahasiswa. Karena mahasiswa adalah obyek yang vital untuk diberikan ruang dalam berkreasi. Tidak untuk dibubarkan, tidak untuk diacuhkan, tidak untuk di anggurkan.

Mahasiswa adalah singa yang tertidur dengan intelektual dan pergerakannya. Akan dapat terbangun dengan satu kali hentakan kaki. Politik negatif, menjadi musuh utama dari sekelas mahasiswa. Hal yang wajar, bilamana dengan politik mahasiswa akan terlibat, akan terbangun dari tidurnya. Maka, di sinilah peran mahasiswa sebagai generasi lebih lanjut. Menyadarkan pemimpin dan terpimpin menjadi hal yang lumrah dilakukan oleh mahasiswa.

Masa-masa kedewasaan menjadi hal yang sangat penting untuk tidak ditinggalkan ataupun diberikan percuma pada waktu. Tingkat kecerdasan dalam mendewasakan pemikiran menjadi tugas pokok mahasiswa. Karena kecerdasan menjadi hal yang memang tersedia dan siap pakai, tergantung keberanian dan kesempatan. Saat ini, kesalahan mahasiswa yang paling fatal adalah mudah terpengaruhnya seorang intelektual muda dengan parodi isu dan politik. Kecenderungan berpikir tanpa dasar, membuat parodi isu insidental yang tertanggapi, dapat mengangkat pamor seseorang dan dengan mudah dapat mempengaruhi pemikiran generasi intelektual.

Negatif bukan? Parodi isu tersebut menjadi viral. Nalar merupakan hal yang menjadi landasan dalam membaca arah pergerakan parodi isu. Sebagai mahasiswa dianjurkan dapat membaca hal-hal yang negatif tersebut yang tujuannya mengangkat pamor dan memecah belah persatuan dan kesatuan dalam bernegara. Maka, di sinilah peran mahasiswa yang sebenarnya, tidak menjadikan isu sebagai penggerak, melainkan membuat isu yang bergerak karena perggerakan mahasiswa. Artinya mahasiswa tidak digerakkan dengan adanya parodi isu dari kaum kapital, melainkan menjadikan sebuah isu bergerak untuk mahasiswa—karya.

Demikian, adalah seorang mahasiswa yang dapat menjadi generasi bangsa, yang mampu memparodikan isu untuknya. Kreatifitas mahasiswalah yang membuat hal itu dapat terjadi, hingga bermunculanlah generasi penghancur kemiskinan, pengangguran dan ketergantungan. Di sinilah peran mahasiswa. Aktif dalam pergerakan pengentasan kemiskinan, pengangguran dan ketergantungan. Hal tersebut lebih akan menjadi perbincangan publik. Kecerdasan mahasiswa akan diukur dalam konteks tersebut. Bagaimana seharusnya seorang mahasiswa dapat mengimplementasikan kecerdasannya untuk bangsa dan negara dalam lingkup yang lebih kecil dibandingkan dengan pemerintah.

Kesepakatan sudah dibuat oleh mahasiswa dalam mencerdasakan bangsa. Agent of change, akan dapat dirasionalkan bilamana hal tersebut dapat terjadi. Hal tersebut lebih mulia, dibanding dengan harus memposisikan dirinya berada di garda paling depan pada haluan perseruan—haluan perseruan 212.

Dwi Nugroho (Mahasiswa IAIN Metro)