Gegara Guru Bejat,Jawaban untuk Umpu Ni Hakim

SAYA baru bangun, tiba-tiba ada orang bertamu. Menyalami dengan sekadarnya, manahan mulut menguap. Beliau langsung menunjuk-nunjuk. Tidak terima disebut guru bejat.
Tidak lama kemudian, guru lelaki datang, ngamuk dan mengajak saya beradu tanding. Juga beralasan, tak terima dibilang bejat.

Dia marah dan menyebut, saya ngawur, tak punya otak serta emosional. Semua guru pasti marah. Kembali, saya hanya tersenyum, lalu izin mandi serta menyedu kopi. Biar paham alur kenapa tiba-tiba banyak orang marah.

Tanpa beban, pada orang-orang yang marah dan berprofesi guru itu saya menggumam. “Dasar guru bejat!”

Saya dipaksa minta maaf serta mengganti atau menyertakan kata “oknum”. Baiklah, saya ganti. Mari membahas “oknum guru bejat”

Termasuk kepada beberapa guru yang marah itu, saya bilang tanpa ragu. Kenapa marah, hai guru bejat? Eh, oknum guru bejat.

Baiklah, saya jelaskan makna bejat. Sebagai orang yang sudah maha bejat, saya benar-benar paham ukuran dan batas bagaimana seseorang itu bisa dikategorikan bejat. Dimana Anda bisa menambahkan semua profesi di belakang kata bejat itu. Namun, kita akan kehilangan elanvital makna jika hanya menyebut. Misalnya, “Endri Bejat.” Mungkin akan berubah jadi gala-gala atau air mendidih jika kemudan kalimat itu diganti. “Alumni ponpes ini semua bejat”.

Orang kemudian bungkam, jika disebut, oknum alumni ponpes ini bejat. Setiap atau sebagian, mengingatkan saya pada proses perdebatan masa kecil ketika membahas makna kata “kulu” pada hadist tentang bidah dan “kulu” pada ayat nafsin dzaikotul maut. Kadang artinya tiap-tiap, kadang sebagian.

Apa bedanya dengan “guru bejat”. Umpu Ni Hakim menulis, basis argumen yang saya gunakan serta kecenderungan mengeneralisasi. Artinya, sama dengan makna “kulu” itu.

Padahal kata bejat, diadopsi dari makna geronjong, tenggok, obrok, keranjang, tikar, sepatu atau apa pun yang terbuat dari anyaman atau rajutan. Bejat untuk menyebut barang yang telah mecotot rajutannya. Artinya, bejat itu ketika wadah tersebut rusak. Tak bisa dipakai lagi sebagaimana mestinya. Minimal berkurang fungsi utamanya.

Sedikit atau banyak kadar bejatnya, punya barometer tersendiri. Terutama dalam kaitan “pembejatan” dan “kebejatan”.

Diksi inilah yang saya diskusikan dengan salah satu mantan guru yang kini jadi pejabat dari jam 20.00 sampai adzan subuh. Menurut dia, seorang guru bisa disebut bejat ketika dalam pentas O2SN tingkat Provinsi Lampung dalam kategori kreasi musik Lampung, namun menampilkan kreasi musik Jawa. Apakah kemudian guru kesenian bejat yang melatih anak-anak dalam kreasi seni itu bisa menang? Saya tidak tahu dan tak ingin tahu.

Kembali pada obrok bejat. Obrok sebagai wadah, sepeda motor sebagai pembawa obrok. Jika obroknya bejat, isi obrok akan berceceran, nilai obrok akan berhamburan jatuh ketika dibawa jalan alat. Sebut saja alat itulah sistem pendidikan, obrok adalah guru dan isi dalam obrok adalah murid.

Kausalitas corat-moret, mungkin saja benar sebagai variabel lain namun itu bisa disebut produk pembejatan. Yang merasa guru baik, marah karena menilai lingkungan dan orang tua yang melakukan pembejatan.

Salah satu guru baik yang menjadi teman saya menghadiri nikahan di pedalaman Lampung Tengah, ngomel-ngomel tak karuan dan tentu menyerang kedangkalan berpikir dan pisau kajiurai yang saya gunakan untuk menyebut “Guru Bejat”.

Saya kemudian mengurai, kita sudah banyak kehilangan “guru”. Namun hanya menemukan “seorang guru”. Ilmu tercecer dan informasi antara ilmu dan sampah menebar. Sulit tersaring. Akan tetapi, jika belum tahu beda antara “Guru” dengan “seorang guru”. Sebaiknya mari koor dan menyanyikan, dasar guru bejat.

Tulisan itu saya buat bukan bermaksud menjelek-jelekkan guru, melainkan benar-benar untuk menyatakan, guru bejat bisa cukup mudah ditandai dengan melihat keluaran atau output prilaku muridnya. Meski kemudian, tulisan yang saya buat sembari menunggu matahari terbit dan tak saya edit lagi langsung naik di facebook itu ada beberapa kelemahan alur logisnya. Tetapi, membaca komentar-komentar itu saya menemukan.

Pertama, ada generalisasi dan ada sentimen yang membuat orang merasa dianggap bejat, meski seolah-olah atau setidaknya, dia pribadi merasa baik atau dalam kadar tertentu, tak menyadari kebejatannya dan pembejatan yang dilakukan. Kemudian marah dan menyerang pribadi saya, apa kemudian saya marah. Ketahuilah, orang bejat, tak akan pernah marah jika dianggap bejat. Justru senang sebab dengan itu dia tahu, betapa pembejatan ada di depan kita serta akibat dari banyak hal.

Kedua, keterbukaan informasi dan kemudahan berpendapat, membuat semua orang lekas marah. Anda bisa membayangkan, masifnya kemarahan massa hanya lantaran kalimat yang dianggap menghina profesi dan atau institusi.

Soal guru, baiklah, saya kutipkan opini Misnawati di Lampost,3 Mei 2016. “…faktor lain yang tidak bisa kita abaikan sebagai penyebab lunturnya budaya sopan santun siswa, yaitu faktor dari guru, di antaranya penampilan guru, kinerja guru, perilaku guru, dan kepantasannya menjadi teladan bagi murid. D Zawawi Imron mengatakan guru yang baik ialah yang menganggap bahwa semua murid adalah anak-anaknya sendiri yang setiap hari akan mendapat curahan kasih sayang. Guru yang baik ialah yang memberikan masa depan cemerlang dengan membekali anak didiknya dengan visi yang tajam dan ilmu yang menjanjikan. Jadi, mengajar yang baik bukan sekadar persoalan teknik dan metodologi mengajar…”

Artinya, guru yang melakukan pembejatan, dampaknya lebih berbahaya dibanding orang bejat macam saya. Ada lagi yang lucu, merasa di kotanya tak ada pembejatan. Padahal dari daerahnya itu semua bermula. Sebab, kotanya berjuluk kota pendidikan. Kemduian menyatakan, akibat pendidikan agama yang hanya 2 jam seminggu. Lha ini orang sangat lucu. Bukankah pendidikan agama di sekolah itu yang memicu maraknya anak-anak usia sekolah jadi begal?

Saya jadi ingat, membaca buku, tak boleh hanya daftar isinya saja. Maka perlu saya tegaskan pada guru bejat yang marah-marah itu. Jangan hanya membaca satu postingan tulisan, lalu membuat keputusan embrional, yang justru menunjukkan seperti orang kesetanan namun mengaku maha suci.

Ada juga kalimat aneh, kayak tak pernah muda saja. Jika orang yang tak saya kenal, saya maklum. Ternyata gelar yang tinggi sama sekali tak berkorelasi pada kemampuan membaca sebuah argumen secara runtut. Jangan-jangan dia seperti lazimnya anak-anak gank notradamus itu. Yang hanya membaca dan tahu hadist dari google, lalu membagikan ceramah-ceramah agama seolah-olah paham tafsir dan jadi guru hadist.

Itulah kenapa saya sering marah pada anak-anak muda, yang saya kenal tentu saja. Hanya mempelajari ayat Al Quran atau hadist tanpa guru, namun sudah dijadikan bahan ceramah seolah-olah dia ahli tafsir dan ahli hadist, bukan untuk ditadaburi guna petunjuk dan pencerahan spiritualnya sendiri. Bagi saya, anak macam itu juga guru bejat.

Kalau saya, dengan senang hati jika kemudian disebut sebagai orang bejat.

 

Penulis : Endri Kalianda