Gatotkaca yang Mati Muda dengan Sangat Menyedihkan

PAKEM lakon dalam pewayangan yang berjudul Gatotkaca Kalajaya, pertama kali dibawakan Ki Enthus. Salah satu petikan dalang yang jadi juru kampanye pasangan Ridho Ficardo-Bakhtiar Basri itu menyatakan, semua penegak hukum mirip asu. Sama dengan anjing. Dimulai dengan sederet olok-olok pada jaksa yang mirip anjing, hakim mirip anjing, polisi begitu juga. Mirip anjing.

Semua itu karena kerusakan hukum di republik ini dilakukan oleh para penegak hukum sendiri, oleh para ahli hukum, orang-orang yang mengerti dan paham tentang hukum, bukan orang-orang bodoh. Demikian secara lugas dikatakan dalang Ki Enthus ketika memainkan lakon Gatotkaca Kalajaya di sini (http://1080.plus/3Uj9CjR_usY.video)

Kita perlu tahu, malam ini, Sabtu (23/4/2016), digelar wayang dengan lakon Gatotkaca Kalajaya di lapangan Waydadi, Sukarame, Bandarlampung. Pertunjukan itu dilakukan setelah Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo menerima kunjungan rombongan pejabat dan seniman dari DIY dalam agenda memeriahkan acara HUT Provinsi Lampung ke-52.

Kepala Diskominfo Provinsi, Sumarju Saini memberikan keterangan. “Gubernur Lampung yang diwakili oleh Staf Ahli Bidang Pembangunan Pemprov mengatakan bahwa wayang tidak hanya budaya milik orang jawa namun sudah menjadi milik dunia. Wayang tidak hanya sebagai tontonan namun juga tuntunan karena di dalam ceritanya mengandung falsafah kehidupan sehari hari, kepemimpinan, politik bahkan agama.”

Saya sangat bergidik dan ngeri membaca keterangan yang diunggah di akun facebook beliau. Kenapa kalimat itu sangat mengerikan dan membuat kuduk seketika berdiri? Tak lain karena lakon yang diambil adalah Gatotkaca Kalajaya.

Apa anda sudah tahu siapa Gatotkaca? Baiklah. Saya jelaskan siapa itu Gatotkaca. Dia adalah putera pasangan Raden Wrekudara dan Dewi Arimbi.

Waktu lahir ceprot, dia sudah berupa raksasa. Sangat sakti, bahkan tak ada senjata yang bisa memotong tali pusarnya. Akhirnya, senjata Karna yang diberi nama Kunta, digunakan untuk memotong, meski putus, sarung senjata itu justru masuk ke perut Gatotkaca.

Kemudian tali pusat itu dapat juga dipotong dengan senjata Karna yang bernama Kunta, tetapi sarung senjata itu masuk ke dalam perut Gatotkaca, dan menambah lagi kesaktiannya. Akhirnya, dengan kehendak dewa-dewa, bayi aneh itu direbus seperti bubur yang dimasukkan segala bumbu-bumbu kesaktian. Tersebutlah, otot kawat tulang besi, darahnya gala-gala.

Gatotkaca dalam semua kisah punya kemampuan terbang dan bermain di atas awan. Kecepatan terbangnya, setara dengan kilat. Dimana berkat kesaktian itu, Gatotkaca diangkat jadi raja di Pringgadani. Punya istri Dewi Pregiwa. Namun anak muda yang sakti sejak bayi itu, tewas dalam perang Baratayudha. Usianya masih sangat belia sehingga banyak yang sangat menyesalinya, terutama keluarga.

Raden Gatotkaca yang juga disebut kesatria di Pringgadani adalah lelaki tampan bersunting mas yang berbentuk bunga kenanga dan dikarangkan berupa Surengpati. Surengpati berarti berani pada ajalnya. Gatotkaca adalah orang yang sudah menerima ilmu tidak takut akan kematian. Bagi anak-anak yang masa kecilnya akrab dengan dongeng perwayangan, tentu ketakutan melihat panggung wayang di Lapangan Waydadi malam ini.

Hal itu jadi perbincangan saya dan beberapa teman yang kemudian secara nakal mengingat kasus robohnya panggung di sana, beberapa tahun lalu. Saya akan ceritakan alur matinya Gatotkaca yang masih sangat muda dan terkenal akan kesaktiannya itu. Yakni, ketika beradu tanding dengan Adipati Karna waktu perang Baratayudha.

Senjata Kunta Wijayadanu milik Adipati Karna yang digunakan untuk memotong tali pusar Gatotkaca, menembus pusarnya. Robohlah dia, kesatria yang tak pernah bersolek dan sakti sejak bayi itu. Tewas. Kematian yang sangat menyedihkan. Kematian di usia muda dan sedang berkuasa di Pringgadani. Gatotkaca adalah sebua ironi kepempimpinan, dan anehnya, dimainkan dengan gembira serta luapan sukacita.

 

Penulis : Endri Y