Game Change, Tontonan untuk Para Kontestan Pilkada

Bagi para kandidat yang hendak maju dalam Pilkada, membaca buku,berdiskusi  atau menonton  film  mungkin bisa menjadi pilihan.  Diskusi buku maupun film bisa menjadi referensi terhadap pengalaman yang pernah terjadi dalam situasi kampanye dan kontestasi politik.

Salah satu film bergenre politik yang mungkin memberikan banyak pengetahuan adalah Game Change.  Film yang dirilis pada tahun 2012 lalu ini disutradarai oleh Jay Roach dan ditulis oleh Danny Strong. Kekuatan cerita film ini  membuatnya memenangkan banyak penghargaan diantaranya  “Golden Globe Awards” dan “Primetime Emmy Awards”.

Kekuatan dari film ini  adalah memberikan gambaran di balik layar strategi kampanye calon presiden dan wakil presiden AS  dari Partai Republik yakni John McCain dan Sarah Palin yang berakhir pada kekalahan.  Jalan cerita film ini sendiri diangkat dari buku berjudul serupa yang ditulis oleh dua wartawan politik yakni John Heilemann dan Mark Halperin.

Hal lain yang menarik dari film ini adalah  peran konsultan politik yang menjadi  perancang strategi politik McCain, Steve Schmid.  Profesi konsultan politik di Amerika Serikat sendiri telah dikenal sejak tahun  1930an. Konsultan adalahseorang profesional kampanye yang terlibat dalam pemberian nasihat dan jasa-jasa kepada para kontestan pemilu, baik berupa jajak pendapat, produksi, dan penciptaan media.

Diawal digambarkan peran Steve yang sukses merekomendasikan slogan kampanye “John McCain Mengutamakan Kepentingan Negara”. Berkat slogan ini posisi McCain kembali menguat dalam bursa pemilihan. Steve jugalah orang yang  merekomendasikan Sarah Palin sebagai pasangan politik McCain.  Steve beralasan John McCain membutuhkan wakil yang memiliki aura seorang bintang untuk menandingi Barrack Obama.

Sarah Palin  juga dipilih karena pandangan politiknya yang senada dengan McCain yakni Pro-Life. Walhasil , Palin berhasil lolos proses verifikasi yang  dipersingkat yakni lima hari. Hal ini sesungguhnya diluar kebiasan Partai Republik yang membutuhkan waktu  2-3 minggu untuk memverifikasi seorang calon.

Meski demikian film ini juga menggambarkan betapa resiko pemilihan Palin mulai terlihat ketika masa kampanye dimulai. Ketidaksiapan Palin merespons berbagai wawancara dan sejumlah isu menyebabkannya menjadi bulan-bulanan.

Kerja konsultan politik tampak jelas dalam upaya mempersiapkan seorang kandidat dalam masa kampanye.  Palin-pun  berhasil bangkit dan Ia akhirnya bangkit memenangkan debat calon wakil presiden pasangan Obama, yaitu Senator Biden.

Hal yang menarik juga adalah ketika Palin meminta jatah waktu berbiara memberi pidato kekalahan dan ditolak tim McCain karena hal tersebut tidak  pernah terjadi  dalam sejarah politik Amerika. Dua pejabat tertinggi kampanye McCain, Mark Salter dan Steve Schmidt, menolak permintaan Palin yang tidak lazim ini.

Kedewasaan Politik

Pelajaran penting lainnya adalah betatapun kerasnya kontestasi politik antar kandidat tak membuat mereka kehilangan rasionalitas dan kedewasaan politik dalam setiap prosesnya.

Film ini juga menggambarkan situasi ketika  hasil polling menunjukan  McCain tertinggal  5-8 angka.  Para penasihatnya menyarankan untuk menyerang Obama, McCain tidak suka itu tapi ia harus melakukannya demi kampanye. Meski demikian ia tetap menolak saran Fred Davis, seorang Chief Media Strategist yang menyarankan untuk mengangkat isu sara terhadap Obama.

McCain sendiri  sesungguhnya tidak nyaman dengan terus menyerang Obama dan akhirnya sadar kalau cara tersebut salah dan tidak sesuai dengan hati nuraninya. Sejak awal  John McCain ingin memberikan kampanye yang bisa dibanggakan anak-anaknya. Pada sebuah adegan , McCain meluruskan pendapat pendukungnya dalam sebuah kapanye yang menyerang Obama dengan isu SARA.

Sejarah akhirnya mencatat pasangan John McCain dan Saraah Palin gagal mengalahkan Barack Obama dan Joe Biden. Meski demikian ribuan orang pendukung McCain tetap antusias menunggu pidato kekalahan McCain. Di Amerika, pidato kekalahan sudah menjadi fatsoen politik bagi calon presiden yang kalah bersaing.

Secara jantan McCain mengakui kekalahannya ,mengucapkan selamat kepada Obama yang notabene adalah presiden Afrika Amerika pertama. McCain juga berterima kasih kepada para pendukungnya sudah bekerja keras untuk memenangkan pencalonannya.

Veteran perang Vietnam yang saat itu telah berusia 72 tahun  benar-benar menunjukkan sikap ksatria dan kebesaran hati. McCain sebenarnya, telah  berjuang dengan gigih hingga akhir dengan melakukan perjalanan maraton 3.000 km untuk kampanyenya.

“Tidak ada yang tersisa dalam hati saya, kecuali rasa cinta kepada negeri ini dan seluruh warganya, baik yang mendukung saya, maupun yang mendukung Senator Obama,Semoga rahmat  Tuhan tercurah bagi pria yang pernah menjadi lawan saya namun akan segera menjadi Presiden saya,” ungkap McCain dalam pidatonnya

 

Penulis : Oki Hajiansyah Wahab

.