Filantropi Islam

Penulis: Hairus Salim

Filantropi memiliki dasar-dasar ajaran yang kuat di dalam Islam sekaligus praktik-praktik historisnya yang luas dan panjang dalam sejarah Islam. Hal ini tak terkecuali di dalam sejarah Islam Indonesia.

Tumbuh, berkembang dan bertahannya ratusan hingga ribuan pesantren di Nusantara jelas menunjukkan kuatnya tradisi filantropi sejak zaman kolonial hingga sekarang ini. Demikian juga dengan perkembangan organisasi Muhammadiyah dengan amal-usahanya mulai sekolah-sekolah, rumah-rumah sakit, rumah yatim piatu, dll. Jelas memperlihatkan kuatnya tradisi filantropi.

Hal yang penting dicatat posisi lembaga-lembaga keagamaan ini bisa vis-a-vis negara dan bisa juga dekat dengan negara. Atau netral saja. Tetapi, seperti dikemukakan dalam studi Amalia ini, dalam posisi vis-a-vis dengan negara, bukan hanya tanpa subsidi tapi bahkan dalam banyak hal dibatasi, kelembagaan-kelembagaan Islam yang berbasis filantropi ini tetap tumbuh dan berkembang dengan kuat dan mandiri.

Salah satu kekuatan filantropi Islam tentu pada janji-janji eskatologisnya. Janji sekeping sorga untuk penyumbang masjid atau pahala yang terus mengalir untuk amal jariyah tentu menjadi motif yang utama. Ini membuat filantropi Islam seperti tidak ada matinya, meski misalnya derma-derma itu –karena Tidak ada atau lemahnya kontrol– kerap diselewengkan. Juga kenyataan pengakuan insentif untuk para pengelola filantropi sebagai suatu yang sah. Tidak aneh kalau filantropi berbasis Islam ini tumbuh pesat.

Lantaran janji eskatologis merupakan kekuatan pendorong bisa dimaklumi jika kebanyakan subyek filantropi adalah penguatan dan pengembangaan lembaga-lembaga keagamaan. Karena itu tidak aneh jika misalnya, pertama Jarang sekali, untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali, kegiatan-kegiatan kesenian atau kebudayaan secara umum menjadi subjek filantropi Islam. Rasanya hampir tidak ada gedung kesenian atau pertunjukan teater yang dibiayai oleh hasil filantropi Islam. Membangun galeri atau gedung pertunjukan bkn jaminan masuk sorga. Membeayai pagelaran teater tidak akan dapat pahala. Alih-alih bikin dosa dan kemudaratan.

Kedua, Filantropi Islam juga mungkin secara umum membatasi dirinya untuk kepentingan orang Islam saja. Sekali lagi ini terjadi karena sifat eskatologisnya tersebut.

Memang akhir-akhir ini ada perkembangan baru di mana bantuan terhadap bencana alam secara kelembagaan mulai berkembang di lingkungan Islam seperti munculnya lembaga penanggulangan bencana di NU maupun Muhammadiyah. Bencana tidak mengenal negara, etnis dan agama. Karena itu bantuan pun bisa dari manapun dan melintas batas. Meski demikian, sebagian dari kalangan Islam masih saja hendak membatasi kegiatan membantu bencananya hanya untuk orang Islam saja dan cenderung cuek atau lambat kalau itu menimpa masyarakat yang bukan Muslim.

Tampaknya filantropi Islam harus diinterpretasikan lebih luas, termasuk untuk kegiatan kebudayaan dan perdamaian. Filantropi Islam jangan dibatasi hanya untuk membangun “republik sorga” tapi juga “sorga di bumi”, yakni dunia yang damai dengan saling bantu dan solidaritas.

Dua buku ini adalah karya dua akademisi Muhammadiyah ttg filantropi. Yang pertama karya Dr. Amelia Fauzi dan kedua karya Dr. Hilman Latief. Studi keduanya menarik, luas dan dalam. Yang putih itu terbitan Gading, jadi bisa dipesan ke Gading.

By the way, kenapa teman-teman Muhammadiyah lebih perhatian terhadap topik filantropi ini ya?