Festival Waykambas 2016, Era Kebangkitan Pariwisata

BANYAK orang yang pesimis dengan semangat Bupati Lampung Timur (Lamtim), Chusnunia Chalim ketika mencanangkan pariwisata sebagai bagian dari fokus visi misinya ketika maju pada Pilkada 2015 lalu.

Bahkan, sektor pariwisata menjadi skala prioritas dan program unggulan dalam semua cakupan Rencana Program Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Lamtim yang kemudian menjadi acuan kinerja pemerintah kabupaten.

Ini agak menarik, kenapa tidak membuat kalimat-kalimat normatif yang sulit diukur, program utopis yang memang sengaja tak bisa disebut gagal atau berhasil karena memang tak ada indikator yang bisa menjelaskannya? Kenapa pilih pariwisata yang semua orang bisa mencibir, gagal, berhasil atau bahkan secara pesimistis menyebut, mimpi.

Saya sendiri pernah bertanya secara langsung. Kenapa pariwisata? Memangnya siapa yang berani datang ke Lampung Timur? Memangnya jalan-jalan berlubang itu mau dipromosikan model apa? Memangnya aman? Kenapa bupati tidak memajukan daerah atau mewujudkan kesejahteraan rakyat yang output atau keluarannya sulit terukur dalam skala prioritas visi misinya?

Sederet pertanyaan yang tak mudah dijawab itu, cukup singkat dijawab Bupati Lamtim. “Saya hanya bertekad memajukan kampung kelahiran. Inilah tugas pemerintah, mengubah stigma, kesan negatif menjadi energi positif, maka pondasi awalnya, saya menyeru, ayo gotong royong membangun Lamtim,” kata dia.

Jawaban itu, bukan tentang bagaimana dan apa rasionalisasi mempercepat kesuksesannya memimpin Lamtim atau terwujudnya daerah menjadi destinasi pariwisata. Namun tugasnya adalah memberi pelayanan, bertekad dan bekerja demi kemajuan daerah. Pariwisata adalah yang paling cepat mengkonsolidasikan semua lini pembangunan.

Apakah mudah? Semua orang yang pernah masuk Kabupaten Lamtim, pasti akan tertawa. Bagaimana mungkin daerah semacam ini jadi tujuan pariwisata?

Seorang wisatawan, pasti menuntut kenyamanan, keamanan, keunikan, keindahan dan berbagai keistimewaan di luar hidup yang wajar. Dalam beberapa kajian, meningkatkan kunjungan wisatawan harus diiringi kepandaian memadukan 5S, yakni, service (layanan), sea (laut), sand (pasir/pantai), sun (matahari), dan sex (layanan seks).

Amien Rais, ketika berkunjung ke Lampung beberapa bulan lalu, dihadapan ratusan orang di Ball Room Hotel 7, Bandarlampung menjelaskan.  Thailand, maju pariwisatanya karena sex, sebab, jika soal sea, sand apalagi sun, jauh dibanding keindahan Indonesia. Namun negara itu, bisa secara bebas memasarkan layanan seks, dimana jangan heran jika ke Thailand, ketika melihat perempuan cantik, sebenarnya mereka lelaki. Memperkenalkan diri dengan nama shemale.

Mengurai 5S ini, apa yang bisa diunggulkan dari Lamtim? Secara tegas kita bisa menyatakan, tidak ada. Laut dan pantai, kalah dengan Pesisir Barat. Matahari, kalah indah dengan Lampung Barat. Apalagi soal kultur masyarakat jika dikaitkan dengan smile dan service. Lamtim sama sekali bukan tempat yang menjanjikan untuk berwisata. Namun demikian, bukan berarti tanpa peluang.

Penelitian yang digawangi Universitas Muhammadiyah Metro, dan sudah di buat Focus Group Discussion, menjelaskan, potensi pariwisata Lamtim bisa mengandalan seni budaya, objek pariwisata unggulan semacam situs purbakala di Pugung Raharjo. Belum lagi Lamtim punya Taman Nasional Waykambas (TNWK). Dalam laporan hasil penelitian “Strategi Pengembangan Pariwisata Lamtim” yang dibuat oleh, Handoko Santoso, Bambang Suhada, Rasuane Noor, Oki Hajiansyah Wahab dan Rahmatul Ummah itu menjelaskan. Analisa SWOT untuk strategi pengembangan pariwisata di Lamtim, punya kekuatan (strenght) antara lain, komitmen pemerintah daerah dan adanya kalender pariwisata secara periodik. Di sisi kelemahan (weaknesess) ada infrastruktur dan kapasitas SDM.

Peluang (opportunity) ada trend yang baik kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara serta prospek bisnis pariwisata. Dan dari sisi threat (tekanan) Lamtim punya citra buruk daerah dan ketatnya persaingan antar-daerah.

Riset itu menyarankan, memakai strategi turn around yaitu memperbaiki kelemahan untuk merebut peluang yang ada. Penelitian itu mengambil contoh Kabupaten Banyuwangi, dimana mampu mengubah kesan (negatif) Kota Santet menjadi Kota Binternet (positif). Artinya, bukan tidak mungkin, kampung begal (negatif) menjadi kampung santri (positif).

Mengubah kesan negatif menjadi positif, memang tak bisa semudah membalik telapak tangan. Namun puncak peringatan hari santri di Lapangan Merdeka, Sukada pada Sabtu, 22 Oktober lalu bisa menjadi modal awal. Daerah yang biasanya tak pernah ada pejabat (bahkan ketika jam kerja) terutama pada hari Jumat, mendadak berubah jadi acara yang dihadiri hampir semua pejabat meski di ibukota kabupaten itu hari libur. Lapangan yang biasa sepi itu menjadi lautan manusia yang menegasikan sebagai kota santri. Ribuan anak perempuan berjilbab, yang lelaki memakai sarung. Mereka berbaris mengumandangkan semangat hari santri. Jauh meninggalkan kesan horor, wajah dan tatapan curiga bagi para pendatang. Bahkan dengan ramah, mereka meminta tolong orang yang tak dikenal agar berkenan memotretnya sembari mengepalkan tangan dan teriak gembira.

Mungkin, banyak yang belum tahu, di Lampung khususnya Lamtim, wisatawan yang paling banyak berkunjung adalah mereka yang sebenarnya mencari hiburan dengan rekreasi keluarga. 5S bukan saja tak berfungsi, sebab, memang tak dimiliki potensinya. Namun siapa menyangka, ada satu desa yang sudah meneguhkan diri sebagai desa wisata justru menjual nuansa perdesaan. Mengajak para bule menikmati tandur, tanam padi dengan jalan mundur, mendaut atau mencabut benih padi, menginap di rumah penduduk, serta aneka hiburan khas perdesaan.

Menariknya, jika Lamtim bisa bangkit dengan tanpa 5S, melainkan menciptakan potensi baru seperti Desa Wisata Brajaharjosari Kecamatan Brajaselebah itu, bukan tidak mungkin, mimpi Lamtim jadi daerah tujuan wisata terwujud.

Jika merujuk  UU Nomor 10 Tahun 2009 tentang pengertian pariwisata (tourism industry), perjalanan orang ke suatu tujuan, didukung berbagai fasilitas dan layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha dan pemerintah. Apakah ini yang akan dikerjakan Lamtim? Entahlah. Yang jelas, ada dua catatan menarik dari beberapa even yang sudah dilakukan Pemerintah Lamtim.

Bahkan, peran warga menyukseskan acara itu, terlibat jauh melampaui ekspektasi dan di luar dugaan. Memberi daya kejut dimana bupati sendiri beberapa kali mengakui, kaget dan akhirnya meminta maaf secara terbuka.

Pertama, dari Festival Reog ke Karnaval Budaya. Bulan-bulan pertama Bupati Chusnunia memimpin Lamtim, digelar Festival Reog di Kecamatan Purbolinggo dan dilanjutkan dengan Karnaval Budaya di Kecamatan Sukadana.

Agenda itu memang belum  bisa disebut maksimal, namun upaya meletakkan tonggak seni budaya sebagai festival dan menarik orang untuk datang, sudah terbukti berhasil, meski dalam skala lokal. Termasuk adanya festival reog, mulai terjawab di festival Waykambas. Dimana komunitas seni budaya model reog, hadir dan lahir nyaris tanpa sentuhan bantuan pemerintah. Itulah yang kemudian menstimulan lahirnya sanggar seni budaya Lampung yang meramaikan Tapis Karnival, subacara dari Festival Waykambas serta beberapa tari tradisi Lampung di sela-sela acara, seperti Tari Bedana, Melinting, dan Tari Kreasi Ugat Gelang.

Kedua, Festival Waykambas. Penulis ikut melihat bagaimana semua proses dan tahapan gelaran festival itu dikemas dan dikerjakan oleh Pemerintah Kabupaten Lamtim. Beberapa di antaranya, irasional dan bisa disebut, mustahil dikerjakan pemerintah.

Festival selama tiga hari dengan sembilan acara unggulan itu, semuanya berjalan sukses dengan menyisakan kemarahan warga di hari terakhir, Minggu, 13 November 2016. Sebab, warga terjebak kemacetan parah, tak bisa bergerak ke luar maupun masuk ke TNWK, lokasi festival.

Satu contoh kegiatan, Waykambas Adventure Trail. Acara yang digelar di hari kedua, Sabtu, 12 November 2016 itu, sebelumnya menyisakan ketakutan panitia. Pasalnya, hanya di anggarkan Rp.10 juta.

Camat Labuhan Ratu, Ibnu Santoso mengaku sempat khawatir, bagaimana mungkin dengan target peserta minimal 300 orang pembalap atau pengendara motor trail, dengan dana sepuluh juta. Namun akibat perintah langsung Bupati Lamtim, doktrin gotong royong membangun daerah, membuat semua elemen bekerja maksimal. Bukan hanya para pembalab dari luar Lamtim seperti Mesuji, Lambar, Bandarlampung, bahkan dari Sumatera Selatan juga ternyata ikut hadir. Menurut dia, hari pertama pendaftaran, dua hari sebelum pebukaan Festival Waykambas, sudah ada 700 pendaftar. Jersey Waykambas Adventure Trail sudah habis. Tepat pada hari turun ke arena sejauh 70 kilometer yang mengelilingi Waykambas itu, total ada 1600 peserta. Selesai sampai menjelang maghrib dengan kendaraan yang rusak parah terdeteksi ada 5 unit sepeda motor. Salah satunya, punya Kapolres Lamtim yang ikut berlaga, mesin sepeda motornya pecah. Peserta lain yang stangnya patah, pelk roda bengkok, atau rusak-rusak ringan, sudah tak terhitung. “Alhamdulillah semua peserta selamat dan sampai di lokasi sebelum jam enam magrib,” kata Ibnu.

Begitu juga sesi Fox Hunting Signal Waykambas. Acara yang langsung dibuka bupati dan wakil bupati itu bahkan menempatkan Harminto, kakek berusia 55 tahun mampu meraih juara ketiga dalam loba balap sepeda di sekitar area panggung utama Festival Waykambas. Kakek dengan 4 cucu yang berasal dari Tanjungbintang itu, dengan nafas tersengal mengaku bangga bisa juara ketiga. “Yang juara dua itu, usianya baru 40 tahun,” kata dia setelah mengalahkan 23 peserta lain.

Artinya, saya ingin mengatakan, komitmen memajukan pariwisata Lamtim mulai ditunjukkan pemerintah. Even Festival Way Kambas  sudah mulai berangkat dan berpijak dengan melibatkan masyarakat. Bukan sekadar model  lomba 17-an di level kelurahaan yang dibawa ke level kabupaten. Di sana sudah ada pesona lain, semangat dan menunjukkan kelasnya, mantan juara PON wakil Lampung pun tumbang dari pembalap sepeda asal Palembang. Sayangnya, panitia masih terlihat bingung membuat pengumuman dan dokumentasi. Pasca pesta makan buah, lomba sepeda, sehari sebelumnya bahkan berbarengan antara jeprat-jepret Waykambas dengan motor trail, marathon, dan semuanya, tak ada yang tahu siapa juara dan pemenangnya.

Begitu juga setelah penutupan, panitia tak bisa menjelaskan secara detil peraih juara. Nama-nama pemenang dan peraih hadiah hiburan yang berbasis undian, semua hilang ditelan kemacetan dan tenta-tenda yang dirobohkan menjelang maghrib.

Pembagian tugas dan kerja-kerja panitia terutama yang mebidangi dokumentasi, publikasi, perlengkapan, terlihat gagap dan kaget ketika ratusan pedagang tiba-tiba membuka lapak, ribuan orang datang bersamaan, dan akhirnya, wajah-wajah kecewa sebab tak bisa naik gajah, melihat tari-tarian model Ugat Gelang yang dibawakan anak-anak SMA Budi Utomo, Wayjepara tak terbendung mengeluh di medsos.  Namun ada yang menarik dari sambutan Bupati Lamtim Chusnunia. “Saya minta maaf pada ribuan warga yang belum bisa masuk dan terjebak kemacetan, jumlah pengunjung total 3 hari selama festival diperkirakan sampai 100 ribu orang ini, diluar perkiraan kami, semoga tahun depan Festival Waykambas jauh lebih baik, lebih sempurna dengan tetap melibatkan masyarakat sebagai subjek pembangunan.”

Kita berharap, ada politik anggaran yang juga lebih manusiawi. Agak menarik, melihat nasi kotak di jam makan siang, semua orang nyaris dengan kotak berbeda, ada yang nasi bungkus dan banyak yang tidak kebagian. Karena, beberapa pejabat mengaku, iuaran sendiri , masing-masing SKPD  membeli makan siang hanya untuk para pegawainya.(*)

Endri Y ( Pendiri Nuwobalak.Com)