Fenomena Agama

Agama berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “a” yang artinya tidak dan “gama” yang artinya “kacau”. Jadi secara istilah agama itu berarti tidak kacau. Maksudnya, agama itu diperlukan umat manusia agar hidupnya tidak kacau. Maka itu, agama berisikan aturan ajaran atau doktrin yang memuat nilai-nilai luhur kehidupan.

Untuk penguatan nilai-nilai luhur tersebut, agama mengajarkan aktivitas yang memiliki dimensi ritual dan spiritual. Aturan ritual itu berkaitan dengan aktivitas ibadah yang tampak secara fisik sebagai syarat wajibnya seseorang sebagai pemeluk suatu agama. Sedangkan dalam hal kebangkitan spiritual, meski itu tidak wajib sebagaimana dimensi dalam aturan aturan ritual; agama mengajarkan aktivitas yang nonfisik untuk penguatan ruhani manusia dalam mendekat kepada Tuhan.

Sebagaimana alam ini tercipta dengan hukum-hukum yang melingkupi, maka begitu juga dengan agama, ia harus diturunkan untuk mengatur keseimbangan hidup manusia yang sesuai dengan hukum-hukum Ilahi. Kehendak Tuhan selalu mendahului penciptaan, begitu juga dengan kehendak Tuhan untuk tujuan baik makhluk-Nya yang bernama manusia dalam perilaku agar tetap harmonis, Dia Yang Maha Bijak memberikan tatanan dan aturan-Nya. Nah, seluruh aturan dan pranata hukum yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia itulah yang disebut agama.

Barangkali tidak berlebihan jika dikatakan bahwa usia agama sama dengan usia manusia di bumi ini. Pada dasarnya agama itu diturunkan kepada manusia untuk tujuan-tujuan hidup dalam mengisi dunia ini dengan kebajikan agar dunia ini tetap terjaga dari kerusakan. Tapi anehnya, atas nama agama, masih ada saja sekelompok manusia yang membuat kerusakan di muka bumi ini dengan dalih untuk menegakkan agama Tuhan.

Sejarah seringkali mengulang konflik karena alasan agama sampai pada batas peperangan fisik antar satu kelompok dengan kelompok lainnya bahkan antar negara, yang menunjukkan tingkat kedewasaan berpikir para pemeluknya. Padahal agama itu untuk mengajak pada kedamaian bagi umat manusia. Tidak ada satu contoh dari para Rasul sebagai penyampai risalah agama yang mengajarkan untuk mendahului dalam berperang, kecuali karena terpaksa dan sifatnya difaq (bertahan) saja.

Untuk itu, agar agama ini bisa dioperasionalkan dengan benar, maka perlu orang yang memenuhi syarat sebagai role model bagi manusia lainnya. Dan orang yang dipilih sebagai pemegang amanah dan otoritas untuk menyampaikan pesan-pesan-Nya disebut Nabi atau Rasul. Nabi itu bermakna pembawa kabar gembira serta pemberi peringatan, dan Rasul itu bermakna utusan penyampai risalah-risalah-Nya.

Dengan demikian, agama yang berasal dari Tuhan yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul-Nya pastilah mengandung isi pesan dan muatan nilai-nilai yang sama secara umum serta berlaku universal. Agama dari Tuhan yang benar pasti juga akan sama dalam hal ajaran tauhid untuk mengesakan-Nya, yaitu mengajarkan manusia untuk mengabdi kepada Tuhan sebagai satu-satu-Nya yang layak untuk disembah.

Jadi, agama yang dibawa oleh Rasul itu pada prinsipnya tidak akan bertentangan atau kontradiksi secara tauhid. Dan jika saat ini berkembang aneka ragam bentuk agama, maka bisa dipastikan agama-agama itu ada yang masih asli dan ada juga yang sudah “diotak-atik” oleh umatnya.

Bisa jadi orang menerima suatu agama karena ia berselera merasa cocok dan yakin bahwa kelak punya jaminan di kehidupan mendatang. Atau barangkali ia telah menemukan kedamaian dalam berperilaku bagaimana seharusnya cara hidup itu. Dan mungkin juga alasan penting lainnya, semisal dapat membangkitkan spiritualitasnya. Yang pasti, terlalu banyak landasan berpikir seseorang dalam keimanannya untuk beragama dan menjadi berbeda dengan lainnya. Meski begitu, beragama bukan berarti asal cocok dengan apa yang dibutuhkan. Tapi hal itu adalah pilihan-pilihan rasional sesuai kaidah prinsip logika. Artinya, memilih agama itu bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan batin secara personal, tapi juga memenuhi seluruh aspek dimensi sosial.

Memang benar bahwa beragama itu untuk dijalani, bukan diperdebatkan. Karena ia merupakan pilihan-pilihan atas dasar kesesuaian, kecocokan, dan keselarasan bagi penganutnya, maka memperdebatkan keimanan dalam konteks beragama akan menjadi sia-sia. Selain itu pula, proses beragama adalah bentuk kesadaran privasi manusia dalam wilayah batin yang sifatnya sangat personal. Jadi, jika ada sekelompok orang yang usil terhadap keimanan kelompok lainnya, maka dapat dipastikan mereka sesungguhnya telah benar-benar salah paham tentang arti “apa itu agama?”

Bahwa otokritik terhadap sebuah agama yang diimani, itu memang perlu, karena ia merupakan bagian dari urusan hidup pribadi yang harus bisa dipertanggungjawabkan secara personal dan sosial. Tapi kalau jahil dan sibuk selalu mengurusi keyakinan orang lain, maka itu artinya mereka telah menunjukkan “sakit mental” dalam hal beragama. Atau jangan-jangan mereka beragama yang fiktif? Sebab agama fiktif itu seringkali diciptakan oleh manusia dengan tujuan untuk memalsukan agama yang hakiki dari Tuhan Pemilik Agama.

Analoginya begini, mana ada uang palsu dibuat kalau tidak ada uang asli yang beredar dan bernilai di masyarakat. Kalau tidak ada uang asli lalu apa yang mau dipalsukan? Maksudnya, agama fiktif itu diciptakan untuk mengalihkan perhatian manusia dari agama asli agar ia tampak seolah-olah agama original. Dengan embel-embel memurnikan tauhid, kembali pada al Kitab dan Sunnah, harus ada negara atau khalifah atas dasar agama, dan seterusnya, yang pada gilirannya mereka justru berperilaku jauh dari apa yang ada dalam agamanya. Membid’ah-bid’ahkan, mengafirkan, menuduh yang lain sesat, bahkan sampai menghilangkan nyawa sesama atas nama jihad yang justru seharusnya mereka dakwahi dengan bijak.

Cukup kita katakan bahwa mereka memang sedang “sakit” yang perlu direhabilitasi mental dan cara berpikirnya. Karena jika penyakit itu dibiarkan dan tanpa penanganan khusus, sedikit banyak akan mempengaruhi pikiran orang lain. Seperti layaknya penyakit yang menular, maka penyakit mental dalam urusan agama juga akan berlaku sama. Agama yang dalam perkembangannya dengan metode pengajaran sebagai dogma, cepat atau lambat akan mempengaruhi keyakinan dan pikiran manusia lainnya. Jika doktrin itu benar maka kebaikan akan menerpa sesama. Tapi jika sebaliknya, doktrin itu dapat menyesatkan pikiran. Bayangkan seandainya kesalahan dalam doktrin itu menimpa suatu kelompok masyarakat atau negara, lalu apa jadinya?

Tidak bisa dipungkiri bahwa krisis logika yang menjangkiti manusia pada akhirnya akan menjadi bencana bagi semua, apalagi dalam persoalan keimanan. Kalau kesalahan dalam keyakinan itu tidak sampai merusak umat lainnya, itu masih bisa disikapi dengan arif. Akan tetapi, terlalu banyak cerita sejak dulu sampai dewasa ini di mana kegagalan dalam memahami agama menyebabkan kehancuran suatu peradaban.

Artinya, bahwa kita tidak boleh menganggap remeh terhadap “mentalitas” dari kelompok masyarakat yang memiliki potensi untuk merusak. Ada kalimat bijak yang mengatakan bahwa, “kerusakan terjadi di muka bumi ini karana diamnya orang baik.” Maka itu, salah satu anjuran agama bahwa kita harus menyampaikan kebaikan walau satu ayat itu adalah valid dan autentik. Sebab dengan cara itu, paling tidak kerusakan di muka bumi ini tidak sampai parah.

Agama itu konsepsi, dan untuk membenahi kegagalan konsepsi dalam memahami agama juga harus dengan konsep, bukan dengan jalan fisik apalagi kekerasan, anarkistis, teror, perang, dan kudeta berdarah. Agama mengajarkan untuk mengedapankan kasih sayang bagi para penganutnya, akan tetapi masih ada prilaku umat beragama dengan dalih untuk membela agamanya yang menunjukkan kebiadaban dan kebengisan layaknya manusia yang sama sekali tidak mengenal Tuhan dan agama.

Dalam al Kitab surah al Baqarah Tuhan menyindir kelompok orang yang mengaku beriman akan tetapi masih saja membuat kerusakan di bumi ini:

“Dalam hati mereka ada penyakit lalu Allah menambah penyakitnya itu, dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta. “”Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di muka bumi!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.”” (QS 2: 10-11)

Pada akhirnya agama akan berkembang alamiah sesuai jalannya, yang membuat semakin dewasa cara berpikir penganutnya karena perjalanan sejarah dan dinamikanya sebagai fenomena yang harus direfleksi, dikritisi, dievaluasi, dan diperbaiki oleh penganutnya yang disebut dengan hamba-hamba yang saleh.

Masroni Wijaya