Enam Doktrin Begal

Banyak kelompok, dan bahkan hampir semua gerombolan selalu punya fase-fase doktrin. Jika ada teman yang punya beberapa doktrin, salah satunya taklim, ada lagi yang punya poin budi luhur. Berbeda dengan begal, punya enam doktrin yang semuanya bertingkat. Poin ini agak terlupa, seharusnya setelah saya menguak “Doktrin Filsafat Begal” itu, diikuti jabaran enam doktrin ini. Yaitu, pertama, sirrun.

Sebuah gerakan rahasia yang dikhususkan untuk merekrut anggota. Selain terselubung, sirrun juga mengandung unsur-unsur “bawah tanah” meliputi, peta sasaran yang akan dituju sebagai target. Fungsi target itu ada dua. Yakni, korban dan anggota baru.

Korban, ada tiga faktor yang menjadi cabang, pertama digarap anggota utama, lalu anggota madya, dan anggota muda. Anggota utama ada empat faktor yang mengikuti.

Pertama, utama yang bertugas mengeksekusi perlindungan semua anggota. Ini fungsinya, memberi terapi kejut jika ada yang melukai anggota tertangkap massa. Kedua, utama yang bertugas melindungi dari persoalan hukum. Khusus yang ini tak boleh ditulis. Disebut. Atau bahkan digumamkan pun, tidak boleh. Pamalik. Ketiga, utama yang memberi dalil-dalil teologi. Dan keempat, utama yang khowasil khowas. Dia menjadi semacam mursyid yang bisa memberi penyucian jiwa, penebusan dosa dan berbagai masalah pelik di luar nalar. Kemudian, cabang faktor yang kedua, madya. Bertugas “menjadi pilot” dan yang ketiga, muda sebagai “penjaga gerbang”.

Khusus untuk anggota baru, itu namanya calon anggota. Belum sampai pada level muda, belum bisa terjun ke lokasi. Tugasnya, berlatih caranya menghilang di hutan, di sawah, di kebun, di rerimbun semak, di rawa, dan sampai level bisa hilang dari balik pagar. Artinya, lompat pagar meski dari bambu, setinggi enam puluh centimeter, langsung hilang. Barulah bisa meningkatkan ke level anggota. Setelah sampai level hilang dan tak terlihat ketika hadir di rombongan dan kapan pergi dari jagongan, barulah keanggotaannya dapat naik ke “muda”.

Pertanyaan dasar rekrutmen itu. “Apa punya saudara TNI/Polri?” Pertanyaan itu menjadi semacam pasword atau kunci masuk, terus atau tidaknya upaya rekrutmen.

Doktrin kedua, jahrun. Mempelajari dan mengajarkan ilmu bela diri secara terang-terangan. Maksudnya, sebagai lahan untuk membangkitkan kepercayaan diri anggota.

Kemudian bisa menjadi penghilang rasa takut. Bersikap dingin, tanpa belas kasihan dan menganggap semua orang adalah calon anggota yang bisa mempermaklumkan laku begal.

Level jahrun itu hanya bisa dilakukan oleh anggota muda untuk naik ke level madya.

Ketiga, perpindahan, sebagai pola peniruan sejarah. Sukses itu selalu dilakukan orang yang ke luar dari tempat lahir, berpindah menyongsong kehidupan dewasa.

Perpindahan ini juga bermakna, penetapan lokasi begal dan korban harus yang dari luar darahnya (keluarga), kampungnya, kecamatannya, kabupatennya, provinsinya, sampai negaranya. Kemudian di atur pada periodesasi oleh semacam “protokol begal” yang telah kita singgung dimuka.

Fase keempat, kital. Semacam perizinan perang atas permufakatan semua anggota lewat perwakilan utama. Rapat-rapat kital itu, bisa kita pelajari dari semacam fakta Sion, Yeniceri dan atau apa itu. “Ya, seperti itulah. Illuminatin yang gambar mata satu itu. Maknanya, ya perang.”

Lalu kelima, futuh. Semacam perayaan-perayaan kemenangan di era orang Mongol sukses menakhlukkan daerah jajahan. Usai perayaan itulah, ditandai dengan kesempurnaan laku begal yang bukan saja memberi keuntungan bagi keterbalikan dari “perpindahan” itu. Barulah bisa masuk ke fase keenam yakni, sang pemimpin. Biasanya, bulu-bulu tumbuh di areal tubuh yang tidak normal.

Seperti telinganya punya semacam bulu hidung. Panjang dan atau alis matanya memanjang sampai menyatu dengan jampang atau janggut. Adanya orang yang mampu meraih pencapaian ini, seperti gelang-gelang dari rotan yang terapung di samudera luas, lalu dilepaslah kura-kura yang munculnya hanya sehari sekali ke atas sampai kemunculannya tepat di tengah gelang-gelang dari rotan yang terapung-apung itu. Artinya langka. Katidakadaanya “sang pemimpin” biasanya ditandai dengan maraknya pembegalan tanpa urutan-urutan kalender, penanggalan berbasis rasi bintang.

Saya bertanya, setelah mengetik ini. Lha bukankah ini arti dari enam doktrin Gafatar? Teman saya menghardik marah. “Berarti Gafatar mengikuti doktrin laku begal.” Saya hanya bengong dan tidak mengerti makna kalimatnya.

 

 

Penulis : Endri Y (Jurnalis)