Ekstrimitas: Awal Runtuhnya Negara dan Ilmu Pengetahuan

Dan bacalah Al Quran itu perlahan-lahan..” ( Muzammil : 5) 

Pendahuluan

Profesor Kuntjaraningrat, antropolog pertama di Indonesia sekaligus ilmuwan sosial dari Universitas Indonesia dalam bukunya Manusia dan Kebudayaan Indonesia  menerangkan bahwa lemahnya karakter manusia Indonesia disebabkan oleh kebanyakan manusia Indonesia mudah menyukai sesuatu tanpa disebabkan sesuatu yang kuat alias dangkal (unsure of himself).[1].

Hal-hal di atas ditambahkan oleh Muchtar Lubis (1977) seorang sastrawan Indonesia yang tersohor, pada tahun 1977 ketika menyampaikan secara lisan pertama kali sebagai kritik sosial kepada manusia Indonesia di Taman Ismail Marzuki, sebuah bukunya Manusia Indonesia­-nya (dibukukan pada tahun 2001), bahwa sifat-sifat manusia Indonesia di antaranya ; 1) Hipokrit alias munafik ; mengakui sesuatu tetapi menolak kehadirannya 2) Irresponsbility ; tidak bertanggung jawab atas keputusan dan perbuatannya 3) Feodal ; mengendalikan kekuasaan lewat kekerabatan 4) Superstition ; menyukai takhayul 5) Artistik ; memiliki jiwa seni dan 6) Berwatak lemah dan tidak konsisten[2].

Buku Manusia Indonesia-nya Muchtar Lubis dan Manusia Indonesia dan Kebudayaan-nya Profesor Kuntjaraningrat, sampai sekarang masih menjadi referensi utama penelitan antropologis banyak ilmuwan sosial.

Hari ini kita akan lebih banyak lagi menemukan contoh-contoh kelemahan karakter di atas. Kelemahan yang bersumber pada nihilnya keyakinan di atas kebenaran dan pengetahuan. Semakin banyak kita menemukan manusia tanpa keyakinan dan mereka bangga dengan hal tersebut. Dan gejala kedangkalan pengetahuan serta kebenaran ini, selain di dekat sekali dengan idiom ekstrim, juga diekspresikan dengan tindakan-tindakan ekstrim.

Contohnya, banyak orang bilang Indonesia ini bukanlah negara yang ekstrim. Tapi ekstrimitas terjadi dimana-mana, konflik muncul disana sini dan selalu berulang tanpa henti. Konflik itu terjadi juga bukan karena kedalaman pemahaman dan pengatahuan. Karena orang yang memiliki pemahaman dan mengerti tentang bagaimana menyelesaikan sebuah masalah tidak akan memilih konflik sebagai jalan keluar permasalahan.

Belajar dari Bangunnya Kesadaran Eropa dan Bangkrutnya Abbasiyah

Sebagai awalan, mari coba sejenak  kita mengunjungi episode ketika raja Prancis, Louis IX ditawan di kota Mansurah. Saat itu ia dan pasukannya mengalami kekalahan dari pasukan Kekhalifahan Baghdad pada Perang Salib ketujuh (1249-1252 M). Husaini mengatakan (2005) mendekamnya ia di penjara sembari mengamati kehidupan orang Islam mengantarkannya pada kalimat yang kemudian menjadi inspirasi bagi banyak sastrawan, seniman, pemikir, filsuf dan para ilmuwan Eropa untuk datang ke daerah Timur. Kalimatnya adalah

“ Mari kita hancurkan orang-orang Islam dengan pemikiran”[3].

Sejak saat itu delegasi Eropa tidak lagi berangkat dengan baju besi dan pedang, mereka berangkat dengan pena dan tinta. Pasukan salib ketujuh pada akhirnya benar-benar menjadi penggalangan kekuatan militer terakhir yang dilakukan dengan serius oleh kerajaan-kerajaan Kristen di Eropa. Karena beberapa tahun pasca kemenangan orang Islam tersebut, alih-alih menguatkan posisi daulah Abbasiyah, justru Kekhalifahan Bani Abbasiyah runtuh dan kehilangan kedaulatan pada tahun 1258 M[4] bersamaan dengan invasi Mongol ke Baghdad.

Entah bagaimana para sejarawan kemudian menyusun historiografi kejayaan. Sejarah mencatat, bangsa Eropa yang hidup dalam kegelapan dan terbiasa membuang feses-nya di pinggiran jalan sebelum itu, kemudian belajar dan menemukan banyak hal dari Timur. The Dark Ages sebagai wujud ekstrim kebodohan dan mimpi kelam bagi ilmu pengetahuan perlahan mulai meninggalkan Eropa. Begitu kaum sejarawan menggambarkan revolusi Eropa di waktu itu mengikuti Petrarch (1304-1374 M).  Seorang yang kemudian dikenal sebagai Father of Renaissance dan peletak dasar konsep Humanisme.

Kincir angin, konsep lensa, ilmu bedah manusia sampai inspirasi pesawat terbang dari Abbas Ibn Farnas menjadi pengantar dari pintu gerbang Renaissance di Eropa. Paling tidak, itulah yang diungkapkan Gustave Le Bon dalam bukunya Islamic and Arab Civilization,

Orang Muslim mengkaji sains dengan bertujuan untuk penggunaannya. Oleh itu adalah tepat untuk memberi gelaran kepada tamadun orang Muslim sebagai guru kepada Eropa karena melalui mereka sains Romawi dan Yunani ditemukan kembali dan kembali kepada Eropa sewaktu ia keluar dari Zaman Kegelapannya”

Sedangkan di saat yang bersamaan, hari-hari yang berlalu di Baghdad sebagai ibukota Daulah Abbasiyah menjadi saksi bisu runtuhnya pemerintahan tersebut di atas puing-puing yang ditinggalkan. Chapra (2010) menjelaskan bahwa ‘tragedi’ mihnah (pengujian Al Quran sebagai makhluk) dengan menggunakan otoritas represif dalam periode kekuasaan Al Makmun (813-833 M) sampai Al Watsiq (842-847 M) berpengaruh terhadap resistensi masyarakat Islam pada kedaulatan Baghdad sebagai pusat pemerintahan.

Di masa tersebut memang terjadi kemajuan dalam ilmu pengetahuan, kesenian, kebudayaan dan filsafat dan berbagai aspek ilmu pengetahuan dan peradaban. Dimana para sarjana (scholars) yang tergolong rasionalis berada di atas angin. Sedangkan kaum ‘ulama konservatif banyak dihabisi oleh otoritas represif daulah Abbasiyah.

Al-Kindi (866 M), Al-Farabi (950 M) dan Ibnu Sina ( 1037 M ) adalah contoh-contoh para sarjana rasionalis yang banyak menerbitkan risalah-risalah mereka dalam berbagai disiplin ilmu. Namun dibalik kemajuan science tersebut, terdapat banyak tragedi kontra-produktif terhadap penyelenggaraan negara oleh Daulah Abbasiyah karena keterlibatan pemerintah yang menggunakan ilmu pengetahuan untuk membenarkan beberapa kebijakannya.

Gambar Besar

Gambar besar dari periode sejarah yang beririsan antara Eropa dan Abbasiyah ini sebenarnya sederhana untuk dibaca. Kekhalifahan Abbasiyah mulai mengalami kemunduran sejak memaksakan otoritas kekuasaan untuk mengembangkan rasionalitas. Di sisi lain penggunaan akal secara bebas berkembang tanpa diimbangi dengan pembacaan Al Quran sebagai kitab suci dan sumber keyakinan yang utama. Jadi walaupun semakin banyak buku dan risalah yang menumpuk di Baitul Hikmah[5]  namun hal tersebut tidak memiliki pengaruh terhadap kedaulatan pemerintah Islam di Baghdad atas daerah-daerah kekuasaan yang semakin luas. Keruntuhan, yang dalam ilmu tamadun didefiniskan sebagai hilangnya kedaulatan dan terkikisnya pengaruh pusat sebuah negara kepada daerah-daerah kekuasaannya, terjadi pada pemerintah daulah Abbasiyah.

Sedangkan di waktu yang bersamaan, Eropa, seperti yang disebutkan Al Turabi (2003) mengalami gejala Esoterisme, masyarakat mulai bosan dengan otoritas Gereja yang mengatur berbagai upacara dan ritus keagamaan dalam bentuk formal dan menggunakan sikap represif dalam otoritasnya. Dampaknya adalah liberalisme sebagai warisan dendam pada kesewenangan gereja sebagai otoritas agama dan keyakinan. Kemudian muncul pembaruan agama yang menjadikan agama sebagai sekedar sikap jiwa abstrak tanpa harus diwujudkan dalam ucapan dan perbuatan[6].

Walaupun pembaruan ini cenderung bergeser dari satu titik ekstrim ke titik ekstrimnya lainnya (dalam hal aktualisasi), tapi ia memiliki dampak yang luar biasa terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang tidak lagi mendapat campur tangan gereja yang represif dan ekstrim. Karenanya para ilmuwan, filsuf, pemikir dan sastrawan sudah imun terhadap doktrin gereja. Terbukalah gerbang Renaissance untuk Eropa.

Pembacaan Kitab Suci

Pembicaraan ini sebenarnya mengarah kepada bagaimana seorang Muslim membaca sebuah kitab suci agamanya dan kemudian mencari sumber keyakinannya secara moderat. Otentitas dan keaslian Al Quran yang menjadi kitab suci agama Islam sudah tidak diragukan lagi. Berbagai perubahan baik dalam skala individu maupun massal yang pernah terjadi pada masyarakat Islam melibatkan Al Quran.

Kenyatannya. hari ini banyak orang Islam yang menunggu dalam bilik hari-hari mereka tentang janji Tuhan untuk membebaskan mereka dari himpitan tembok-tembok kemiskinan dan kemelaratan, menuju pada kebebasan dan kesejahteraan seperti tertera dalam Al Quran.

Itulah masalahnya. Pembacaan Al Quran tidak sesederhana menafsirkan perintah Tuhan agar orang Islam berkeliling tembok selama tiga belas kali dan kemudian mereka akan mendapatkan kejayaan. Ada sebuah kompleksitas yang mau tidak mau harus dipelajari oleh orang Islam.

Maka ketika kita mendapati daulah Abbasiyah mulai bermain-main dengan otoritasnya terhadap pembacaan kitab suci dan perannya dalam ilmu pengetahuan, kita akan mendapati awal mula kemunduran mereka. Kemajuan ilmu pengetahuan, seni, budaya dan peradaban tidak ada artinya tanpa diimbangi dengan penempatan kitab suci sebagaimana mestinya.

Walaupun kemudian Imam Syafi’i yang diteruskan oleh murid-muridnya berhasil menekuk akal dan rasionalitas kaum rasionalis ekstrim, hal tersebut tidak mengubah kenyatan bahwa pernah ada ekstrimitas dan pemaksaan dalam pembacaan kitab suci Al Quran.

Melawan Ekstrimitas dalam Islam

Pembaruan pemikiran Islam tidak boleh berhenti berjalan dan karenanya penggunaan akal harus terus dilakukan. Pembaruan pemikiran Islam harus terus melangkah di atas pembacaan yang benar terhadap Al Quran. Dari secuil kisah masa lalu di atas kita dapat mengambil pelajaran betapa mengancamnya sebuah ekstrimitas, baik diwujudkan dalam pemikiran maupun kekuasaan. Apalagi jika menggabungkan keduanya.

Karena sebenarnya ekstrimitas di antara dua golongan konservatif dan rasionalis-lah yang menimbulkan suasana tegang dan mengubah konteks perdebatan menjadi ajang konfrontasi. Sebagai contoh, Ibnu Ar Rawandi dan Abu Bakar Ar Razi dari pihak rasionalis ekstrim berpendapat bahwa akal dan wahyu tidak dapat disatukan. Dan semua persoalan, termasuk baik dan buruk harus dtentukan oleh akal saja. Di sisi lain golongan Hasywiyyah mengatakan bahwa keseluruhan iman harus disandarakan pada Quran dan Sunnah dan sama sekali tidak ada tempat dan ruang untuk akal[7].

Namun bukan berarti tidak ada ruang pula untuk pandangan-pandangan ekstrim di masyarakat. Terkadang pandangan ekstrim memberikan sumbangan yang bagus bagi perkembangan manusia. Tetapi kedamaian sosial dalam banyak hal berfungsi lebih baik manakala kondisi ekstrim dihindarkan. Di samping itu, jika pandangan ekstrim tidak memberikan arti pentingnya dengan sendirinya ia akan mati.

Meruginya daulah Abbasiyah karena ekstrimitas kemudian memaksakan kaum rasionalis untuk tidak mengapresiasi keterbatasan akal, tidak adanya toleransi dan memaksakan penggunaan otoritas negara untuk mendukung pemikiran mereka. Puncaknya adalah ‘tragedi’ Al Quran sebagai makhluk. Konfrontasi artifisal yang kaku dan keras yang dipicu oleh suasana demikian, membuat banyak sarjana Islam terlibat dalam debat yang tidak berujung dan berpangkal tersebut selama berabad-abad.

Sekiranya tidak ada campur tangan negara dalam mendukung gerakan ekstrim, niscaya tidak akan terjadi hal yang demikian. Tidak ada perpecahan antara negara dan ‘ulama.  Ataupun pemisahan antara fiqh dan pengetahuan, filsafat dan agama.

Ekstrimitas tidak lain dan tidak bukan adalah bentuk kedangkalan pemahaman terhadap akhlak. Karena orang yang dalam pemahamannya, penyelesaian sebuah perbedaan tidak akan dijalani melalui konflik.

Konsepsi Pendidikan dan Kebudayaan

Akhirnya kita akan mampu menjawab pertanyaan mengapa pendidikan harus dirangkai bersamaan dengan kebudayaan dalam satu bingkai kementerian atau departemen. Bahwa usaha untuk memberikan pendidikan dan pengetahuan kepada seluruh anak bangsa, akan berpengaruh langsung terhadap konsepsi kebudayaan sebuah bangsa. Oleh sebab itu membangun sistem pendidikan sama saja dengan membangun sistem kebudayaan.

Jika kita hari ini menemukan ekstrimitas dalam kebudayaan kita  walaupun dengan sangkalan-sangkalan, maka sebaiknya kita memperhatikan kembali bagaimana bangun arsitektur pemikiran dan pengetahuan kita. Maka tindakannya, sistem pendidikan harus diatur kembali agar pemahaman-pemahaman agama, konsepsi ilmu pengetahuan dan aturan sosial dapat difahami dengan baik untuk seluruh anak bangsa terutama di masa yang akan datang. Terutama, menjauhkan mereka dan ekstrimitas baik dalam pemikiran maupun tindakan. Wallahu muwafiq ilaa aqwamit thariq

[1] Koentjaraningrat. 2002. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Penerbit Djambatan

[2] Lubis, Muchtar. Manusia Indonesia : Sebuah Pertanggungjawaban. Yayasan Obor Indonesia. 2001

[3] Husaini, Adian. Wajah Peradaban Islam : Dari Hegemoni Kristen ke Demokrasi Sekular-Liberal. GIP, 2005.

[4] Sryzewska dalam Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam. Pustaka Setia, 2008. h.128.

[5] Pusat studi, perpustakaan dan penerjemahan serta penelitian berbagai ilmu pengetahuan paling besar yang didirkan oleh Harun Al Rasyid (786-809 M)

[6] Al-Turabi,Hasan. Fiqh Demokratis : Dari Tradisionalisme Kolektif menuju Modernisme Populis, terj. Abdul haris dan Zimul Aim. Jakarta, Arasy. 2003

[7] Chapra, Umer. Peradaban Muslim ; Pernyebab Keruntuhan dan Perlunya Reformasi. Amzah, 2010.

Faqih Addien Al Haq