Dukung Bunda Eva Raih Rekor MURI

KALAU saja sembari berlibur kita melihat-lihat info di medsos, tentu kabar yang paling banyak dirundung atas peristiwa di Bandarlampung, seputar penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Sebab, MURI di Lampung sering menjadi lembaga yang lucu dan aneh. Mungkin semacam biro jasa perekoran.

Dari minum kopi, makan sruit, makan udang, baca koran, senam sehat, makan durian, berkantor di luar, sampai istighosah (demo pada Tuhan) pun dianugerahi rekor MURI. Perlu Anda ketahui, bisa saja secara perorangan dapat MURI misalnya, Anda berak terlama, makan terpelan, dan tentu Facebookan atau Twitteran terlama, terupdate, atau bahkan terlucu.

Apa syaratnya? Selain mendaftar, Anda juga harus punya koneksi ke penyelenggara MURI. Kabarnya, cukup hanya membayar mahar Rp.25 juta, sepanjang belum ada di database MURI, penghargaan pemecah rekor itu bisa kita dapatkan dengan mudah.

Benar atau tidaknya kabar itu, silahkan dikonfirmasi sendiri sama pihak MURI.

Akan tetapi, sebagai warga Bandarlampung, saya berharap ada rekor tertinggi untuk orang yang dapat MURI. Tentu saja saya mengusulkan Bunda Eva. Apa Anda sudah kenal siapa Bunda Eva? Kalau di era 80an awal, ada puisi mbeling yang berjudul Teka Teki karya Mahawan untuk mengejek HB Jasin, bunyinya begini;

Saya ada dalam puisi

Saya ada dalam cerpen

Saya ada dalam novel

Saya ada dalam roman

Saya ada dalam kritik

Saya ada dalam esai

Saya ada dalam wc

 

Siapa saya?

Jawab: h.b. jasin

 

Bayangkan, Bunda Eva juga ada dalam berbagai MURI itu. Lantas apa yang meragukan pihak MURI memberi anugerah sebagai perempuan paling banyak mendapat rekor MURI?

Ganti saja diksi dalam puisi dari puisi sampai wc menjadi, pengajian, pelatihan saksi, Koni, PKK, senam, menyanyi, dll.

Apakah kemudian mesti ada panitia yang mengurus dengan membayar mahar Rp.25 juta untuk memberi penghargaan?

Baiklah, bisa saja nanti kita carikan salah satu peserta umroh yang enggan berangkat, kan uang untuk umrohnya bisa diambil panitia MURI. Oh ya, mungkin penting juga, Provinsi Lampung jadi daerah paling banyak yang warganya ibadah umroh? Kalau penerimanya kurang spesifik, tinggal dialihkan pada pihak travel. Mungkin “Aryo Tour” satu-satunya travel di dunia yang paling banyak memberangkatkan klien untuk ibadah umroh selama sepuluh tahun terakhir ini.

Tiba-tiba kita harus merasa kasihan pada kepala daerah yang tidak pernah sekali pun mendapat rekor MURI. Ya, semacam Bu Risma, Ridwan Kamil, Kang Yoto, alangkah tololnya mereka tak bisa meraih rekor MURI. Orang istighosah saja bisa meraih rekor MURI? Kalau makan udang, makan sruit, minum kopi, bolehlah dapat MURI lha ini istighosah? Apa panitia MURI tidak membandingkan dengan beberapa istighosah di pondok pesantren. Kalau alasannya tidak didaftarkan, berarti membenarkan kabar harus membayar itu. Sebab, saya yakin jamaahnya bisa lebih 23 ribu orang.

Dulu, zaman awal-awal KH Soleh Bajuri memimpin NU Lampung Selatan saja, istighosah di Masjid Agung Kalianda, penulis lihat sendiri, ada lebih kalau 30 ribu orang yang hadir. Atau yang baru dilaksanakan oleh Pak Bupati Sujadi dalam HUT Pringsewu. Itu saya yakin, lebih kalau 40 ribu orang hadir. Lantas kenapa mesti Bunda Eva dan Majelis Rachmat Hidayat yang dianugerahi MURI?

Coba kita simak kalimat Pak Walikota Herman HN. “Saya berterima kasih kepada warga yang hadir, dengan ini Bandarlampung berhasil memecahkan rekor MURI dalam kegiatan istighasah dengan peseta terbanyak,” kata Walikota Bandarlampung, Herman HN, Jumat (6/5) sebagaimana dilansir teraslampung.com.

Herman HN mengatakan, kegiatan ini bertujuan mengingatkan warga muslim di Bandarlampung tentang anjuran shalat dan amalan baik lainnya. Kita tidak menyoal acara Isra Miraj-nya, yang kita pertanyakan adalah MURI-nya. Jangan salah persepsi. Oh ya, takut kalau Anda belum tahu. Bunda Eva atau Hj. Eva Dwiana itu istrinya Walikota Bandarlampung Drs.H.Herman HN, MM. yang telah dua periode memimpin ibukota provinsi ini. Beliau juga anggota DPRD Provinsi Lampung dari Fraksi PDI Perjuangan. Beliau, jauh lebih hebat dibandi Tri Risma, Walikota Surabaya dua periode. Jika dilihat dari rekor MURI tentu saja.

Bu Megawati jangan-jangan belum tahu, apalagi Puan Maharani yang tidak pernah baca berita. Sebab, kalau tahu pasti PDI Perjuangan menjagokan Bunda Eva untuk maju dalam Pilkada DKI Jakarta.

Akan tetapi kita perlu bersyukur, Bunda Eva tidak ikut Pilgub DKI. Sebab, kita nanti bisa mendukung beliau, maju Pilgub Lampung melawan M Ridho Ficardo. Saya berani bertaruh dengan potongan kuku saya yang hitam di ujung jari, kalau Bunda Eva bisa mengalahkan incumbent M Ridho Ficardo. Sebab, kemarin ada candaan kalau seandainya Herman HN bertarung lawan Bunda Eva dalam Pilwakot Bandarlampung, Bunda Eva pasti pemenangnya.

Bayangkan, saya pernah ikut dalam pertemuan beliau ketika melatih saksi di dalam masjid. Ary Ginanjar, Mario Teguh, Felix Siuw, atau siapa pakar motivator yang Anda kenal, pasti kalah dibanding cara motivasi Bunda Eva. “Bapak-ibu, harus tetap waspada, jaga TPS. Nanti kita kirim nasi bungkus lauknya ayam. Daripada nasi kotak lauknya endok, ingat bapak-ibu, lawan kita bisa menggunakan segala cara untuk curang, bla..bla…” demikian bunyi rekaman suaranya yang saya dengar ulang semalam.

Sebelum buru-buru masuk mobil, beliau juga meminta saksi-saksi di dalam masjid itu ikut medoakan calon walikota yang juga suaminya, sehat wal afiat. Begitu juga calon wakilnya.  “Tidak mati seperti di Lampung Timur.”

Besoknya, di hampir semua TPS yang beliau langsung turun memimpin pemberian pembekalan, pembagian uang saksi hingga suaranya terlihat serak, menang telak. Ibu-ibu pengajian, begitu ideologis membela Bunda Eva.

Dari sini saya sepakat, di belakang lelaki hebat, ada perempuan dahsyat. Apa lagi yang menghalangi MURI memberi anugerah pada Bunda Eva?! 😀

 

Penulis  : Endri Y