Distorsi Kualitas Keberagamaan

Tulisan Saya kali ini bukan untuk mengukur kualitas aqidah seseorang, ataupun ingin menjustifikasi standar-standar keimanan seseorang. Karena keduanya memang hak prerogatif Tuhan dan manusia masing-masing. Tapi konsep kualitas yang penulis maksud dalam tulisan ini adalah bagaimana kita bersikap toleran, atas sebuah realitas faktual yang terjadi, akan tetapi terkadang kita claim sebagai sesuatu yang salah, hina, haram, tidak sesuai dengan ajaran agama.  Bahkan mengkafirkannya, dan lain sebagainya dengan berlindung pada ajaran-ajaran dan nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah Kitab Suci. Inilah diksi yang disebut dengan “dibohongi dengan kitab suci”. Lantas, apakah orang kemudian berkesimpulan bahwa kitab suci pembohong? Ya, jelas dengan mengatakan sekali tidak, apakah orang yang menyatakan “dibohongi dengan kitab suci” secara tersirat mau mengatakan bahwa kitab suci pembohong? Juga sangat jelas tidak.

Padahal, persoalan diterima atau tidaknya ibadah seseoang juga bukan manusia yang menentukan, melainkan mutlak menjadi kewenangan dari Tuhan orang tersebut. Karena itu, bisa jadi  apa yang saya tuliskan atas dasar pemikiran saya tersebut sangat subyektif. Artinya, apa yang saya anggap benar, tetapi orang lain bisa saja dan sangat mungkin menganggapnya salah. Sebagai contoh, dalam realitas politik misalnya, terkadang penulis merasa bingung melihat kondisi yang berkembang. Ketika agama dijadikan alat justifikasi untuk mempengaruhi konstituen dalam memilih atau menolak seorang calon pemimpin. Sebagai contoh, tendensi pengaruh itu ditulis secara halus: “Seburuk-buruk Lulung dia itu Muslim dan sebaik-baik Ahok dia itu kafir. Muslim walaupun buruk masih bisa masuk surga, kafir walau baik tetap kekal di neraka.” Kenapa ini Penulis jadikan contoh? Karena kata muslim dan kafir, Syurga dan Neraka dalam kalimat tersebut bagi penulis pribadi mencerminkan kualitas keberagamaan. Dengan kata lain, dalam hal keberagamaan, sikap yang paling tepat dikembangkan adalah bagaimana sehari-hari  memperbaiki dirinya sendiri hingga meraih kualitas terbaik.  Selalu menganggap orang lain kurang dan apalagi salah, disadari atau tidak, yang bersangkutan sudah berada pada wilayah kesalahan. Artinya, tatkala  menganggap orang lain salah, bisa jadi  kesalahan itu sebenarnya ada pada dirinya sendiri.

Orang yang rajin shalat pasti akan masuk syurga, karena orang yang rajin shalat pasti mengetahui dan akan senantiasa mengaktualisasikan nilai-nilai shalatnya dalam konteks kebajikan. Kalau pertanyaannya penulis buat seperti ini: bagaimana kalau orang tidak shalat, tetapi ia selalu melakukan kebaikan? Apakah dia akan masuk syurga juga? Jawaban penulis adalah: Ya, masuk syurga juga. Kenapa? Karena dia telah merealisasikan atau mengaktualisasikan sholat dalam format yang berbeda, yakni dia tidak melakukan sholat. Orang yang tidak sholat dan selalu melakukan kebaikan dianalogikan sebagai orang yang ikut ujian dan dia tidak menghafal sedikitpun akan tetapi dia mendapatkan nilai yang memuaskan. Mungkin dia berfikir buat apa sholat kalau hanya untuk mencegah dirinya dari berbuat kejahatan. Toh dia juga tidak sholat tidak pernah berbuat jahat. Tetapi kondisi di atas tidak akan bisa diberlakukan untuk orang yang setelah sholat mencuri sandal dimasjid/musholla, untuk orang yang membuang sampah dan juga mencari rezeki dengan cara “sembarangan.”

Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih berkualitas yang akan muncul adalah: Muslim seperti apakah yang akan masuk surga? Betapa murah dan “murahannya” surga itu, jika hanya dengan “tiket Islam” bisa memasukinya. Bukan Islam, melainkan kualitas keislaman yang membuat orang masuk surga itu. Bukan agama, melainkan kualitas keagamaan, yang mengantarkan orang ke surga. Saya percaya, surga itu bukan disediakan untuk agama ini dan itu, untuk etnis ini dan itu. Tetapi untuk umat manusia yang memiliki “kualitas kemanusiaan” apapun agama dan etnis mereka.

Tidakkah kita sebagai kaum muslim malu ketika saudara-saudara kita dizalimi oleh saudara kita yang lain, mereka meminta perlindungan kepada kaum Nasrani dan kafir? Tapi pada saat yang sama mulut kita fasih mengucap ayat-ayat yang memusuhi orang-orang Nasrani, memelihara permusuhan kepada mereka. Ingatlah,  musuh abadi kita sebenarnya bukan Yahudi dan Nasrani, melainkan rasa permusuhan itu sendiri. Rasa permusuhan itulah yang telah mengalirkan banyak darah kaum muslimin, mengalir menjadi kubangan darah sesama saudara. Sesama saudara pun bisa saling berbunuhan kalau ada permusuhan di antara mereka.

Berbicara kualitas keberagamaan, menarik apa yang disampaikan oleh Martin Lukito Sinaga, seorang Pendeta dan Purek III Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta, yang menyatakan bahwa: “kecenderungan ummat manusia untuk beragama sangat terkait dengan tingkat kecemasan hidupnya (existential security). Semakin tinggi kecemasan hidup, semakin beragama suatu masyarakat. Dan begitu juga sebaliknya. “… orang membutuhkan agama hanya untuk membalut luka-luka dan ketidakpastian hidup yang mereka alami dan jalani.” (Martin L. Sinaga, The Sacred and the Secular, 2005).

Kualitas keberagamaan adalah sesuatu bersifat dinamis dan dalam proses dari waktu ke waktu. Semua orang selama dalam hidupnya berada pada proses itu. Mereka menuju pada kesempurnaan. Sedang siapa sebenarnya yang paling sempurna juga tidak ada seorang pun yang tahu. Kualitas keberagamaan tidak cukup dilihat dari simbol-simbol yang  tampak, seperti bentuk pakaian, jabatan, ilmu, gelar, posisi dalam organisasi, dan sejenisnya, tetapi lebih dalam dari itu semua,  dan hanya Tuhan sendiri yang mengetahui. Tugas manusia adalah berusaha untuk meraih kesempurnaan itu. Kita  berdoa, semoga semua mendapatkan kualitas terbaik dan sempurna.

Akhirnya, distorsi kualitas keberagamaan tidak hanya diukur dari keshalehan formal secara individu semata. Dan bukan pula satu-satunya parameter yang dijadikan alat untuk menilai kualitas keberagamaan seseorang. Terlebih lagi untuk menilai kualitas keberagamaan seseorang, tidak bisa dilihat dari satu sisi  saja, karena agama adalah pemahaman dan pengamalan. Implementasi dari keyakinan beragama seseorang  bisa dilihat dari bagaimana dia bisa menyeimbangkan  antara  hablumminallah dan hablumminannas dalam kesehariannya.  Jadi jika kita ingin menilai kualitas beragama seseorang, tidak bisa  melihat dari Ibadah formalnya saja, melainkan bagaimana perlakuannya terhadap sesama manusia. Meskipun berbeda dalam keyakinan dan keberagamaannya. Dan itulah salah satu makna sebenarnya dari kualitas keberagamaan yang tidak pernah akan mengalami distorsi.

Buyung Syukron (Dosen STAIN Metro)