Disekuilibrium, Relasi Alam dan Manusia

Disekuilibrium adalah gejala kontradiksi manusia dengan alam.Sebagaimana diungkapkan oleh James Lovelock bahwa bumi memiliki konsep Homeostatis yaitu kemampuan bumi untuk menyeimbangkan diri dari ketimpangan (hal 2).Buku ini mengungkapkan ketidakseimbangan relasi manusia dengan alam.

Alam dilihat sebagai subyek sekunder dan dianggap sebagai properti pemuas kebutuhan manusia.Kita hidup dengan beragam keinginan yang harus terpenuhi.Saat manusia mengandalkan alam menjadi tumpuan semua keinginan saat itu kita sedang mendayagunakan seluruh nafsu antroposentrisme yang berakhir dengan kerusakan alam.

Gagasan antroposentrisme yang menjangkiti manusia modern saat ini berlaku mengesampingkan keberadaan alam.Dengan pijakan antoposentrisme itulah manusia berperan sebagai penguasa yang mendominasi alam.Sehingga manusia berasumsi dapat menaklukkan alam dengan rasio nalar yang dimilikinya.

Bantahan dikemukakan oleh Leopold yang menyatakan bahwa manusia hanyalah “biotic citizen” yaitu bagian kecil dari organisme kolektif di alam raya.Banalitas antroposentrisme tersebut diakui para tokoh ekologis sebagai akar terjadinya ketidakharmonisan hubungan antara manusia dan alam.

Saras Dewi menggugah kesadaran kita semua tentang ‘disekuilibrium’ ini.Dengan pendekatan fenomenologi, persoalan ekologi yang terjadi saat ini adalah gejala perilaku manusia yang tidak memahami posisinya.Dengan menggabungkan filsafat, buku ini mengurai persoalan kerusakan lingkungan dengan berbagai teori.

Beberapa pertanyaan filsafati yang melatarbelakangi penyusunan buku ini diantaranya yaitu mengenai apa penyebab disekuilibrium, bagaimana disekuilibrium dapat terjadi. Namun hal penting yang dikupas dalam buku ini adalahapa yang dapat dilakukan untuk memulihkan relasi manusia dan alam agar tercipta ekuilibrium?

Berbagai metode digunakan untuk mengungkap hubungan manusia dengan alam, mengurai posisi manusia dengan alam.Misalnya kajian ekologi dan etika lingkungan tidak cukup gamblang dalam menjawab masalah kemerosotan lingkungan hidup.Ekologi dan etika lingkungan belum mampu mengubah paradigma manusia saat ini, untuk meruntuhkan antroposentrisme apatah lagi menanggulangi masalah kerusakan alam.

Kekhawatiran Leopold mengenai fondasi utama ekologi bukan hanya sekedar sikap reaksioner terhadap kerusakan alam. Namun diperlukan cara essensial untuk mengetahui alasan kerusakan alam dan ketidakharmonisan hubungan manusia dengan alam. (hal.37). Selepas Leopold, teori lingkungan diteruskan oleh Naess. Ia melengkapi etika lingkungan dengan mengawali gerakan yang dikenal sebagai Ekologi-Dalam. Gerakan ini menolak pandangan bahwa alam hanya relevan dengan kepentingan manusia saja, karena sesungguhnya masa depan manusia ada di dalam alam yang berkelanjutan.

Sesuai dengan disiplin fenomenologi, buku ini menekankan pemikiran tiga tokoh utama yakni Edmund Husserl, Maurice Merleau-Ponty dan Martin Heidegger.Saras Dewi sejatinya ingin menegaskan bahwa walaupun berbeda dengan alam, manusia adalah subjek yang terlibat di dalamnya.Penulis meyakini, ketimpangan relasi antara manusia dan alam yang terjadi saat ini dapat dipulihkan apabila ada kesadaran ontologis relasi manusia dan dan alam yang lebih adil (hlm 146).

Tanpa manusia alam akan tetap ada, namun tidak sebaliknya. Sehingga tak perlu berdalih kita menjaga alam, karena sejatinya alamlah yang menjaga kita.Kesadaran itu yang perlu kita benahi bersama dan membuang jauh-jauh pemikiran antroposentrisme serta meletakkan kembali pemahaman kita sebagai organisme yang berada di tengah gerak ekosistem, sehingga tidak berlaku superior terhadap alam.

 Data Buku

Judul Buku      :  Ekofenomologi (Mengurai Disekuilibrium Relasi Manusia dengan Alam)

Penulis             :  Saras Dewi

Penerbit           :  Marjin Kiri

Tebal Buku      :  172 Halaman

Cetakan           :   Maret 2015

 

Penulis : Hifni Septina Carolina (Mahasiswa Paska Sarjana Universitas Muhammadiyah Metro)