Diam Adalah Pengkhianatan

The darkest places in hell are reserved for those who maintain their neutrality in times of moral crisis” – Dante Alighieri

Awalnya saya diam, tidak mengambil sikap sama sekali tentang dugaan penistaan Agama. Bahkan saat aksi gelombang pertama saya bersikap sinis. “Buat apa pake demo segala? Toh ahok sudah minta maaf dan sudah dilaporkan ke pihak berwajib”. Saya menstigma mereka yang aksi akan membangkitkan stigma Islam yang marah, bukan Islam yang ramah. Hingga aksi berlangsung saya masih bungkam, terhadap kawan dan saudara saya yang berangkat saya juga masih bersikap sinis. Ditambah kasihan dengan mereka yang dalam anggapan saya ditunggangi kepentingan politik tertentu.

Ternyata saya salah, sama sekali salah. Saya terpana, setengah tidak percaya. Siapa yang mampu menghadirkan massa sebanyak ini? Jakarta Memutih!. Jutaan orang tumpah ruah di jalanan protokol Ibukota. Siapa yang menggerakkan mereka? Kepentingan politik? Massa bayaran? Berapa biaya yang harus ditanggung untuk menggerakkan massa sebanyak ini? . Ada bapak tua yang rela bersepeda motor dari Malang ke Jakarta, ibu-ibu majlis taklim, para jamaah masjid yang muda maupun lanjut usia, banyak pula terlihat satu keluarga berjalan bersama. Saya pun tahu orang-orang dekat saya rela berangkat dengan kantong sendiri atau patungan menyewa kendaraan bersama. Saya terus bertanya apa yang menggerakkan mereka? Amat kejam jika mengatakan ini hanya kepentingan politik semata.

Saat disana pun nampak dokumentasi pembagian makanan dan minuman berseliweran untuk massa aksi, GRATIS dari para donatur pribadi maupun lembaga sosial atau masjid yang terus berdatangan. Relawan Medis pun tampak berseliweran sigap mencari mereka yang sakit. Setiap peserta aksi pun saling mengingatkan satu sama lain untuk tidak menginjak taman dan tanaman. Dan yang tak ketinggalan para pasukan pemungut sampah, merekalah penjaga kesempurnaan keimanan, mereka ingin membuktikan bahwa aksi ini adalah ekspresi dari keimanan, dan kebersihan adalah sebagian dari iman!.

Massa aksi ini berdatangan dari beragam latar belakang dan daerah, banyak diantara mereka yang tak saling mengenal satu sama lain. Bahkan banyak massa aksi yang datang perseorangan. Artinya mereka tidak ada dalam satu garis komando, tidak ada briefing teknis lapangan sebelum aksi. Bayangkan bagaimana hendak mem-briefing massa aksi sebanyak ini?. Karena saya sering terlibat dalam aksi, saya benar-benar tercengang, bagaimana bisa?.

Dan aksi berlangsung damai, tak hanya damai tapi setiap orang berlomba-lomba dalam kebaikan. Yang berkelebihan uang mendonasikan untuk konsumsi, yang punya tenaga memunguti sampah, yang datang perseorangan dan tidak masuk dalam relawan secara pribadi mengingatkan agar tak menginjak tanaman. Bahkan tak ketinggalan aparat juga ikut melantunkan asmaul husna dan sholawat, saling membantu memberikan air wudhu dengan massa aksi. Ini bukan sekedar aksi menuntut ahok yang perkataannya tak terjaga, tapi ini aksi demonstrasi keimanan!. Ya umat Islam sedang mendemonstrasikan keimanannya. Setiap muslim ingin menunjukkan bahwa mereka sedang membela keimanan mereka maka harus dilakukan dengan penuh keimanan.

Dan kita tahu, di akhir aksi terjadi kericuhan. Hei sejak pagi aksi berlangsung baik-baik saja, tapi begitu massa aksi mulai pulang justru kericuhan terjadi. Dan perlu digarisbawahi bahwa massa aksi ini adalah massa aksi awam yang bisa jadi baru pertama kali ikut aksi, sebagian besar pulang, yang bertahan pun akan kebingungan. Menunggu presiden tak kunjung datang, yang datang ke mereka justru gas air mata.

Ketika ada yang mulai memprovokasi justru para laskar FPI yang biasa distigma anarkis membuat pagar betis di depan barikade polisi, ya mereka justru melindungi dan membantu polisi menertibkan massa aksi. Meski muncul banyak info soal pemicu kericuhan, kita tahu justru mayoritas massa aksi, FPI bahkan mereka yang terkena gas air mata berusaha menjaga dan membantu aparat agar massa tetap tertib.

Saya yang sejak awal tidak bersimpati dengan aksi ketika tahu yang bertanggungjawab atas aksi ini adalah Habib Rizieq yang juga kasar kalimatnya terhadap Ahok, Panglima lapangannya pun Munarman yang terkenal pernah menyiram muka lawan bicaranya saat LIVE. Tapi mereka memegang janjinya untuk aksi damai, menjaga aksi tetap damai dan menertibkan mereka yang ricuh. Dan saya sangat menghargai upaya tersebut.

Saya yang di awal merasa aksi demonstrasi ini berlebihan dan tidak perlu, setelah melihat, membaca dan mendengar kesaksian mereka yang hadir langsung. Merasa aksi ini adalah aksi keimanan, bukan sekedar perkara simbol yang tak substantif, sentimen identitas, atau tirani mayoritas. Tapi aksi ini adalah demonstrasi keimanan. Mereka tergerak karena Iman, terikat dalam komando iman, dan berlomba-lomba melakukan pembuktian keimanan dengan menjaga perdamaian, saling tolong menolong dan memberi satu sama lain.

Dan puncaknya mereka melakukan pengorbanan atas nama iman, para Ulama’ dan Habaib rela terkena gas air mata karena memilih tak lari agar tak terjadi kericuhan yang semakin besar, para laskar rela memasang badan menghadapi mereka yang anarkis, bahkan ada seorang bapak tua bernama Pak Oye yang mengorbankan nyawanya saat gas air mata ditumpahkan. Andai saja Presiden datang dan tak banyak beralasan, tak perlu ada korban berjatuhan.

Dan kini saya menyesali sikap saya, tak menentukan keberpihakan sejak awal. Pikiran saya dipenuhi berbagai prasangka buruk tentang aksi ini yang ternyata tak terbukti. Dan saya teringat kutipan dari Dante Alghieri, bahwa tempat tergelap di neraka, disiapkan untuk mereka yang tetap bersikap netral ketika terjadi krisis moral. Dan kini nyata krisis moral ini terjadi, mereka yang berusaha membela keimanannya dituduh dengan berbagai tuduhan buruk, sang terduga penista asyik berselfie ria di depan gambar demonstran, seorang presiden yang katanya rajin blusukan untuk menemui rakyat langsung justru tak ada ketika jutaan rakyat mendatanginya.
Kita tak boleh diam saja kawan, karena diam adalah pengkhianatan!

Ahmad Jilul Qurani Farid (Mahasiswa Universitas Airlangga)