Dermawan

Penulis: Dharma Setyawan

Pagi jam jam 07.00 saya dibangunkan istri karena Pak Ahmad Tsauban mengajak ke seseorang yang telah meminjamkan tanahnya untuk taman payungi. Kata Pak Tsauban pagi jam 06.00, beliau pemilik tanah tadi keliling gang-gang melihat area payungi. Ya orang tua beliau memang tinggal di pojok belakang rumah saya. Mbah Warti namanya, pensiunan Guru Agama yang sudah berumur 90 tahunan, tapi masih gesit mengisi pengajian di ibu-ibu RW 07. Anaknya ini adalah pengusaha pemilik swalayan yang tersebar diberbagai kabupaten dan kota.

Pagi ini Pak Tsauban mengajak saya untuk mengucapkan terimakasih kepada penguasaha tersebut. Orang memanggilnya Pak Wawan saya tidak tahu nama panjangnya. Tapi saya tahu bahwa Pak Wawan masih adik dari bulek Erna istri Om Wibowo alias orang tua Asticaliana Erwika. Rumit kalau dijelaskan lagi. 😊

Pak Tsauban dengan pakaian dinas siap ke kantor, sedangkan saya modal cuci muka. Waktu pagi kata Pak Tsauban lebih tepat karena kalau jam 10.00 sudah kesiangan dan Pak Tsauban harus berada dikantor. Saya juga mau bergegas takziah, suami Prof Enizar Rektor IAIN Metro meninggal setelah sholat subuh. Semoga husnul khotimah.

Kami menuju rumah beliau di Metro jalan Basuki Rahmat, Pak Wawan ini lebih banyak di Bandar Jaya, beliau mengurus Muhamamdiyah Boarding School. Sampai disana, ketemu putranya dan bertanya, ternyata Pak Wawan berada di tempat orang tuanya mbah Warti pojok belakang rumah. Kami menuju ke sana bertemu dengan Mbah Warti, Pak Wawan dan Istrinya.

Obrolan mengalir, Pak Tsauban mengucapkan terimakasih karena payungi dipinjami tanah. Lalu Pak Wawan dan istri bertanya bagaimana payungi digerakkan. Seperti biasa kami bla-bla bercerita panjang kali lebar kali tinggi.😊 Begitulah Pak Tsauban, sosok yang detail memperhatikan semua orang. Rapi mencatat keuangan, mengayomi pedagang, dan peduli pada setiap individu.

Lalu Pak Wawan bertanya apa program selanjutnya gerakan warga ini? Obrolan jelas makin serius dan dari cara beliau bicara, beliau ingin memberi kesempatan kami terus bercerita. Bahkan Istrinya memberi kode memegang tangan, agar Pak Wawan menahan pembicaraannya untuk lebih banyak mendengar kami bercerita. Kami punya mimpi terdekat membuat kampung Buku, dan merombak Mushola Sabilil Mustaqiim dibangun lantai 1 untuk meeting room dan lantai 2 untuk ibadah. Kami juga menjelaskan keinginan kami untuk meniru wisata sawah pujon kidul Malang. Dan potensi sawah itu tepat ada di RT 20 depan lokasi Payungi berada di RT 21.

La kok tiba-tiba tanya. Apa yang bisa kami bantu? Kami langsung menjawab, maksud kami pagi ini bukan untuk meminta bantuan, kami mau mengucapkan terimakasih.

“Iya, tapi kami juga mau membantu gerakan warga ini, boleh kan?”

“Saya dan Pak Tsauban tersenyum bingung dan malu.”

“Saya bantu mushola 50 juta. Dan istri saya nanti biar bantu Rak Buku.”

“Siap pak, kami juga ingin bermanfaat, Rak Buku 10 juta cukup tidak?” ucap istri beliau.

Saya dan Pak Tsauban jadi serba salah, pagi mau mengucapkan terimakasih malah mendapat banyak bantuan. Iki piye to?

“Syukur tiada akhir.” ucap Jacob Oetama.

Orang-orang soleh itu memberi kesolehan disekitarnya. Saya tidak pernah bertemu Pak Wawan sebelumnya, apalagi sebagai warga yang baru tinggal 1 tahun di Yosomulyo ini. Tapi ternyata beliau sering berkunjung, karena surganya masih ada di Yosomulyo, yaitu ibunya.

Pulang saya merenung, pada dasarnya orang-orang soleh itu tetap bermanfaat. Bukan soal kaya atau tidak kaya. Orang-orang dermawan itu terlatih sejak dini, dari yang kecil sampai yang besar. Saat kami awalnya menolak, karena kami bukan meminta bantuan. Beliau menekankan, kami juga ingin berbuat baik. Saya makin penasaran dengan Pak Wawan ini. Benar kata Rosul,”Sungguh sebaik-baik harta itu berada ditangan orang yang soleh.”