Dek Umam yang Beruntung Karena Ditampar

MASKAPAI Garuda Airline (GA) adalah salah satu BUMN yang nasibnya tak sebaik PLN, KAI atau PTPN. Ketika melaporkan rugi, cecaran pedas paling mudah diberikan masyarakat sebagai perusahaan korup. Sebab, GA tidak seperti BUMN lain yang punya hak monopoli.

Bayangkan, tiket GA itu paling mahal, penumpangnya selalu penuh bagaimana mungkin bisa rugi? Sementara maskapai lain mengobral harga tiket semurah harga bus eksekutif saja untung terus.

Tidak, tidak, tulisan ini tak membahas soal kelakuan para pegawai BUMN yang tarif jadi karyawannya dibandrol puluhan juta atau berbasis kerabat itu. Melainkan, tulisan ini hanya sekadar nasehat untuk Dek Umam yang usianya jauh di bawah saya. Pegawai di bandara yang harusnya gembira karena ada yang menampar.

Bahagia karena ada yang membuat ketakutan dan sampai berpikir untuk mempersoalkannya ke aparat penegak hukum dengan tuduhan penganiayaan.

Dek Umam, ini benar. Memang selayaknya Anda ketakutan setelah visum di Rumah Sakit Natar Medika dan melapor di Polsek Natar. Anda sudah banyak dapat teror bukan? Kalau belum, berarti Dek Umam sangat beruntung. Di atas gembira sudah statusnya. Apalagi hanya dipukul. Ini alasan kenapa niku bisa disebut orang yang beruntung karena dianiaya.

Ketahuilah, Dek Umam. Nama pejabat itu, sudah sangat dikenal. Dulu, sekitar pertengahan 2013 “Yang Teramal” demikian beliau disebut, pernah bilang dengan keras pada beberapa pencari berita. “Saya ini preman!” Kalimat itu, benar-benar ancaman dan ucapan paling menakutkan. Meski bagi yang mendengar justru cengar-cengir tanpa rasa takut sedikit pun. Dek Umam paham tho?! Makna kalimat itu jika diucapkan pejabat. Ini Lampung, Dek. Gegara uang parkir saja, orang tega saling tujah. Di pasar, malah ibu-ibu kita rebutan pelanggan kopi, sampai jambak-jambakkan, tukaran hingga ke meja hukum. Divonis penjara.

Termasuk anak-anak yang bawa senjata api rakitan, Dek Umam perlu tahu. Hanya demi uang sekitar Rp.500 ribu, rela jadi begal. Artinya, jika pejabat dengan pemasukan resmi sebulan sampai 70 juta, plus saweran sana-sini, bukan soal guna mencari anak jahat untuk menghabisi meski itu anggota Brimob atau apa pun profesinya sepanjang dibayar mahal.

Izinkan, saya sebagai orang yang lebih tua menceritakan sedikit pengetahuan kenapa beliau disebut sebagai “Yang Teramal”. Tepatnya, orang yang diramalkan. Sekitar Agustus 2012, ada email bertebaran. Menyebut beliau, orang yang hanya menamparmu itu, ribut dan ngamuk di areal tugasmu, sudah disebut akan duduk di posisinya sekarang. Dek Umam bisa bayangkan, geliat pergantian atau tanda-tanda pentingnya pejabat yang duduk di kursi itu digeser, sama sekali tidak ada. Namun, namanya sudah disebut satu-satunya orang yang diusulkan. Memang, rakyat jelata macam saya, pegawai level kroco macam Dek Umam tak punya hak menentukan posisinya.

Kronologis yang diemail secara detail itu, menunjukkan betapa hebat pejabat yang menamparmu. Jadi, sudahlah, jangan macam-macam. Bukankah pertanyaan awal sebelum beliau menampar dan ngamuk itu dilontarkan. “Apa kau tak mengenal saya, saya ini ….”

Ah, itu karena Dek Umam dan kru terbiasa semena-mena pada penumpang. Selain tak pernah baca koran atau nonton televisi lokal. Coba kalau sering baca koran dan televisi lokal, pasti juga belum tentu kenal. Orang dia banyak dimusuhi para pemburu berita, fotonya juga sering diganti dengan orang yang berposisi di atas dia.

Anda yang biasa tertib, maaf bisa tunjukkan identitas bla…bla…Biasanya juga, sama sekali tak mengembangkan senyum seperti perempuan-perempuan cantik di maskapai lain.

Apalagi, kalau pejabat kita yang teramal dan terkenal arogan itu merasa buru-buru. Wajar tho, kalau dia marah. Ups. Nanti dulu, bukannya itu hari libur ya? Berarti bukan untuk dinas luar dong?

Yah, gimana sih Dek Umam. Coba berbaik sangka saja, gimana misalnya. Ini misalnya lho ya, kalau istri muda yang disembunyikan dan wajib dirahasiakan mengancam membongkar aib pribadi itu jika tidak cepat-cepat datang. Kebayangkan, bagaimana paniknya?! Jadi wajarlah kalau Anda cerewet nanya-nanya identitas sementara “yang teramal” dalam posisi panik. Bukankah dia pejabat, banyak uang, punya kekuasaan, mantan preman. Beruntung, Dek Umam benar-benar jadi orang yang beruntung karena cuma ditampar.

Tentu saja yang tidak beruntung adalah penumpang maskapai non BUMN yang masih menunggu jadwal. Harus melihat arogan, sadis dan mengerikannya wajah pejabat kita. Pejabat yang esensinya melayani itu, ternyata di kampung kita seperti raja, minta dilayani. Dek Umam, demi kebaikan dan kesejahteraan bersama, sebaiknya damai saja. Sayangkan, Anda masih muda. Penakut lagi. Sebaiknya memang, lindungi saja jiwa mudamu dari ancaman mantan preman dan yang teramal itu. Toh tidak ada untungnya. Ini di Lampung, Anda pasti tak akan punya pembela dan saksi, meski puluhan orang melihat aksi itu. Oya, belum lagi kalau statusnya belum resmi pegawai BUMN, aduh, masih honorer yang butuh SK setiap dua tahun? Sudahlah, jangan sok jadi pahlawan melawan pejabat meski kau dianiaya. Tenang saja, tidak perlu waktu lama dan tak usah pikirkan pembalasan. Nanti juga pensiun, nanti juga juga mati sendiri.

Nah, kalau Dek Umam punya keberanian, sini. Singgahlah ke NuwoBalak dan menceritakan kejadian yang sebenarnya. Nanti kami ajari untuk mengelus dada, menerima takdir dan menikmati bagaimana bahagianya jadi orang tertindas. (*)

 

Penulis : Endri Y