Dayat: Keliling Indonesia untuk Aceh

Hidayatullah Ramadhan, Pemuda umur 29 tahun ini adalah sedikit orang yang melakukan perjalanan mengelilingi Indonesia menggunakan sepeda motor. Dayat sudah berniat ingin mengelilingi Indonesia sejak tahun 2010. Akhirnya impian keliling Indonesia baru kesampaian dimulai 12 November 2013. Sebagaimana dirinya bercerita di komunitas Cangkir Kamisan, bahwa yang paling menjadi kendala dalam melakukan perjalanan yaitu terkait biaya. Sebelum Dayat, Komunitas Cangkir Kamisan juga kedatangan tamu Ekspedisi Indonesia Biru yaitu Dandhy Dwi Laksono dan Ucok Suparta Arz. Mereka berdua mengelilingi Indonesia dengan membuat film dokumenter terkait budaya dan ekonomi lokal di Indonesia.

Pada saat melakukan perjalanan, Dayat tidak berpikir tema apa yang akan diangkat. “Banyak orang melakukan perjalanan dengan berbagai tujuan.”ucap Dayat malam itu. Misal, ada yang melakukan perjalanan karena mau berjumpa Presiden. Namun ketika sampai di Jogja dia merasakan penting untuk mengambil tema perjalanan. Kota Jogja menjadi inspirasi untuk mengambil jalan berpikir bahwa dalam perjalanan tersebut yang dibangun adalah “silaturahmi dari hati.” Dayat menghubungi teman-teman AMCI di Jogja.

Sebagaimana pepatah Aceh,”Matee Aneuk Meupat Jeurat, Matee Adat Pat Tamita (Matek anak tahu kuburan, mati adat tidak tahu dimana dicari.”ucap Dayat. Tema “Silaurahmi dari Hati” sesuai dengan tradisi Aceh. Budaya yang sering kita pahami Indonesia bagi saya adalah Indonesia. “Indahnya Indonesia karena masyarakatnya.”Ucap Dayat yang juga alumni Universitas Muhammadiyah Aceh.

Dalam perjalanan banyak cerita mengenai jalur Sumatra yang orang sering katakan rawan. Dayat berusaha mengenalkan Aceh kepada penduduk di Provinsi yang dia singgahi. Berbekal modal 15 juta dan menggunakan jejaring AMCI, Dayat berjuang mengelilingi Indonesia dengan berjualan kaos. Selain itu di setiap tempat yang dia singgahi, Dayat juga mau bekerja untuk menyambung hidup ke perjalanan selanjutnya.

“Tidak ada daerah yang menjelekan daerahnya sendiri. Selama kita waspada dan punya niat silaturahmi, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang ramah.” Tegas Dayat.

Ketika ditanya Indonesia mana yang indah? Dayat lebih memilih menjawab “Aceh yang indah”. Pilihan ini baginya lebih adil, bahwa misinya mengelilingi Indonesia bukan hanya melihat keindahan Indonesia saja, tapi juga mengenal budaya masyarakat Indonesia yang sangat kaya dan beragam. Tapi untuk menilai makanan mana yang enak, keindahan alam mana yang paling bagus, Dayat selalu memilih untuk mengatakan Aceh yang paling bagus.

Beberapa penuturan malam itu, Dayat menceritakan dengan sangat mengalir bagaimana dirinya hidup selama 8 bulan di Papua. Di sana dia belajar banyak soal kejujuran dan bagaimana orang Papua sangat menghargai tamu yang datang. Dayat juga mengatakan tidak pernah takut tersesat. “Tersesat bagi saya bukan persoalan, malah saya memilih jalan orang yang selama ini tidak dilalui orang, atau jarang diketahui orang. Karena saya yakin jalan itu akan mempertemukan kita pada jalan lainnya. Selama masih terus berjalan kita tidak akan tersesat, kalau lupa jalan, artinya lupa pulang.”Ucap pria berumur 29 tahun ini. Izin sama Bapaknya,”saya mencari kerja selama 2 tahun. Tapi saya berbohong, padahal saya sedang melakukan perjalanan keliling Indonesia. Ketika bapak saya melihat berita saya di media, lalu kemudian menelepon, dan mengetahui saya sedang melakukan perjalanan keliling Indonesia, akhirnya beliau memahami yang terpenting tahu jalan untuk pulang.”

“Indonesia indah bray!” Ucap alumni Hukum ini. “Motor saya namanya Baron “barang Rangsokan”. Motor Dayat memang terlihat seperti barang rongsokan. Semakin berjalan menyusuri pulau ke pulau, barang bawaan Dayat semakin berat. Dayat mengatakan bahwa,“Saya juga baru tahu kalau berat motor saya sampai 300 kg ketika saya naikan di atas pesawat Hercules saat menuju Papua.” Motor Honda Supra itu tidak kuat menampung barang bawaan Dayat dari tempat satu ke tempat lainnya. Untuk itu barang-barang yang menjadi cindera mata, dikirim melalui Post ke Aceh. Banyak hal yang diceritakan Dayat malam itu. Sejarah, kebudayaan, Bahasa, Ekonomi, dan segudang kearifan lokal lainnya.

Dia juga salut dengan beberapa orang yang melakukan perjalanan keliling Indonesia sebelumnya. Termasuk Ekspedisi Indonesia Biru yang keliling Indonesia dan membuat film dokumenter. Ada juga Lucky selama 7 tahun, dari 2006-2013 selesai keliling Indonesia. Malam itu juga hadir Fritz Anton Kasim dari MACI (Motor Antik Community Indonesia). Anton—nama akrab sapaan—bercerita persoalan dunia gelap anak motor. Bahwa sejak awal klub motor itu berasal dari kelompok-kelompok kriminal. Namun seiring waktu, klub ini ada yang berkumpul untuk menjadi komunitas hobi, bisnis dan gerakan persaudaraan. Tentu semua perkumpulan ada plus minus, yaitu terkait dengan efek negatif yang selama ini dianggap meresahkan masyarakat. MACI berusaha untuk menghapus stigma tersebut. Misal kejadian motor gede di Jogja, dimana Elanto Wijoyono menyegat rombongan yang menerobos lampu merah. Semua klub motor hampir kena imbas akibat kejadian tersebut.

“Siapa yang harus memperbaiki?”Tanya Anton. Tentu anak motor sendiri. Misalnya MACI Lampung, kami menolak penggunaan Jasa Voorijder, yang mengganggu lalu lintas terutama di perempatan lampu merah.

“Bagi saya berjalan ber-iringan apa adanya lebih mendekatkan kita pada masyarakat. Apalagi mereka melihat motor MACI ini aneh dan antik-antik.” Ucap Anton yang juga berprofesi seorang pedagang ini.

“Karena motor harus berhenti, mesin harus istirahat tidak bisa dipaksakan, maka saya bisa menjalankan sholat 5 waktu. Saya juga meminum air putih, tidak minum minuman keras. Saya membawa identitas, yaitu saya membawa kopi dari Lampung.                                              Kalau kita bikers sejati, kita harus memulai dari diri kita untuk merubah budaya negatif, yaitu mulai sekarang kita harus mau merubah citra bikers yang ugal-ugalan. Jangan bangga dengan perilaku menyimpang—minuman keras dari seorang bikers. “Bagaimana bisa menikmati keindahan, jika diajak ngomong harus touchscreen—disentuh dulu—baru paham.” Pesan Anton.

Ketika ada yang bertanya kepada Dayat. “Wanita cantik di Indonesia dimana?

Dia akan menjawab,“Aceh.”

“Pun kemudian makanan yang enak,  saya akan jawab, makanan Aceh. Kalau makanan yang aneh pernah  saya makan adalah ‘sabeta’ dan saya makannya di suku Asmat ketika saya makan panas dan bintik-bintik. Selain keanehan itu di Paua ada daun pembungkus, daun untuk membungkus alat pembesar kelamin.” Jelasnya.

Papua yang indah satu, yaitu bahasa Indonesianya. Betapa mengagumkan bahasa Indonesia orang-orang Papua. Respect agama, juga ditemukan Dayat di bumi Papua. Jika ada konflik agama terjadi di sana hal itu bukan dari jiwa-jiwa Papua. Orang Papua sangat memahami toleransi dan menghormati tamu dengan baik. Pengalaman Dayat ketika mencari tempat sholat Idul Adha di Papua.

“Saat idul Adha saya diantarkan mencari masjid di Papua. Dan ketika sudah sampai masjid, mereka mengatakan kalau tidak tahu arah jalan nanti dijemput lagi. Saya belajar banyak dari orang Papua. Disana hanya ada 2 warga dan 1 gereja dari Bintuni menuju Manokwari. Distrik tahota, 13 kk dan 1 gereja dan 2 rumah yang terisi. Sekali menaikkan barang motor dan orang ke hercules biaya 16 juta. Menaikkan 1 ekor babi 20 juta. Papua sangat sulit akses.” Jelas Dayat.

“Disini tidak usah pakai uang, kami lebih punya uang. Di sini tidak usah pakai pikiran, di sini kami berpikir lebih keras, sumber daya alam kita luas. Kita pakai hati saja.” Dayat mengulang perkataan warga Papua.

“34 propinsi sudah saya jelajahi, dari sini saya kembali melanjutkan perjalanan pulang ke Aceh melewati Palembang, Belitung, Bengkulu, Padang, Jambi, Riau, Medan, dan kembali Aceh. Saya telah habis ban belakang 4 dan ban depan 6. Kalau ditanya habis berapa bensin saya susah menjawab, yang jelas motor saya Supra 2004 full bensinnya 27 ribu. Budaya Indonesia, banyak keindahan terutama sosial masyarakatnya. Orang Indonesia itu mufakatnya kuat. Orang Indonesia mau menghormati orang lain datang ke rumahnya, tapi dia berselisih sama kakak, adik dan saudara lainnya. Kenapa orang Indonesia tidak menyadari ini sebagai kebangkitan wisata kita untuk menghargai keuntungan masyarakat luas bukan hanya menguntungkan pihak asing. Kita harus bisa saling bekerjasama dengan baik dengan orang-orang di sekeliling kita untuk Indonesia.”Pesan Dayat sebelum mengakhiri cerita di Komunitas Cangkir Kamisan.

Dharma Setyawan (Penggiat Komunitas Cangkir Kamisan)