Beruntunglah Yang Teramal

Beruntunglah Yang Teramal – melestarikan julukan Endri Y dalam tulisan Dek Umam yang Beruntung Karena Ditampar-, dari semula mendapat cemoohan di media sosial akibat ulahnya yang diduga melakukan penganiayaan kepada salah satu karyawan Garuda Airlines, Umam (23), Sabtu (16/4/2016) dan sempat dilaporkan ke Polsek Natar, kemudian keduanya sepakat berdamai dan laporan dicabut dua hari berselang, Senin (18/4/2016).

Beruntunglah kembali Yang Teramal, bos Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Provinsi Lampung itu karena dengan enteng pada hari Selasa (19/4/2016) mengatakan kepada wartawan yang hendak mengonfirmasi dan menanyakan tindak lanjut kasus dugaan penganiayaan tersebut:

“,,,,lampung.com dan tribun, kenapa yang lain tidak? karena kamu orang cari duit,” kemudian dilanjutkan dengan ancaman, “…tunggu kamu!” terekam jelas dalam rekaman berdurasi 1:21 menit.
Lebih beruntung lagilah Yang Teramal, meskipun wartawan bereaksi keras dan tidak terima atas pernyataannya itu, ditindaklanjuti dengan aksi menuntut permintaan maaf esok harinya (Rabu, 20/4/2016), toh mereka juga tidak mendemo Yang Teramal, tetapi justeru Yang Teramallah yang mendatangi mereka di Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lampung.

Tak cukup puas karena telah menciptakan hatrick, Yang Teramal kembali menambah skor keberuntungan dengan gerakan membelah sikap para pewarta, dan yang lebih heboh lagi dan ini aksi terhebat yang layak masuk rekor, dalam rentetan pertunjukan tersebut dan wajib dicatat adalah pembelaan Ketua PWI hingga marah.

Pada hal ini, saya tak ingin membicarakannya terlalu banyak, silahkan dicek sendiri judul-judul berita yang membahas itu, seperti “Ketua PWI Lampung Marah saat Jurnalis Tuntut Sekda Arinal Minta Maaf di Luar Ruangan”, “Arinal Dituntut Minta Maaf di Luar, Ketua PWI Lampung Marah” atau dengan judul-judul serupa.

Ada banyak klarifikasi di media sosial, Ketua AJI Bandarlampung misalnya menulis “Terus terang saya tidak ikut setting aksi tersebut. AJI tidak menginisiasi, melainkan hanya ikut bersolidaritas. Setahu saya, rute aksi tadi pagi adalah: Tugu Adipura, kantor PWI, kemudian berakhir di Pemprov Lampung.

Tapi tiba-tiba, aksi berakhir di kantor PWI dengan kedatangan Sekda Provinsi Lampung. Ada kawan-kawan jurnalis yang kemudian tidak puas atas permintaan maaf dari Sekda Provinsi Lampung, karena hanya dilakukan di ruangan atas kantor PWI, tetapi tidak dilakukan juga di bawah (halaman kantor PWI).”

Isbedy Setyawan, dengan nada menyindir berkomentar di status facebook Yoso Muliawan, “Ada yg tulus ada pula yg ingin (dpt) fulus hahaha.”

Kemudian, secara lebih tegas Oyos Saroso HN menuliskan sikapnya, “Kalo saya korlap demo wartawan dan mereka percaya saya maka tak akan pernah saya arahkan wartawan menuju kantor PWI di Jl A. Yani Bandarlampung. Tak akan pernah.”

Lantas, bagaimana? Ya, Begitu.

Saya tidak mengenal Yang Teramal, dan sama sekali tidak memiliki keinginan untuk kenal, karena sebenarnya sudah sangat cukup sekedar tahu. Namun, jika anda berpikir, betapa hebatnya Yang Teramal menciptakan skor dan keberuntungan-keberuntungannya, maka sesungguhnya itu juga yang saya pikirkan, kemudian saya analisa dan selanjutnya saya bagi lewat tulisan ini.

Tak sulit menemukan jawaban, kenapa dengan mudah Yang Teramal menyelesaikan setiap kerumitan-kerumitan kelakuannya dengan tetap happy ending, sesuatu hal yang sangat mustahil terjadi dan berlaku pada kroco mumet seperti saya. Menampar, melecehkan orang lain, kemudian malah dibela! Jangan sekali-kali meniru adegan itu tanpa keahlian dan kelebihan seperti Yang Teramal miliki.

Hal yang mungkin bisa dipaksa untuk mengidentifikasi kelakuan-kelakuan hebat tersebut adalah dengan pendekatan teori Hegemoni yang dikenalkan Antonio Gramsci. Gejala-gejala yang dipraktikkan oleh Yang Teramal itu bisa disebut dalam istilah Gramsci sebagai bentuk hegemoni integral, yakni sebuah sikap yang ditandai dengan afiliasi massa secara total, dimana Yang Teramal akan menjadi poros kekuatan yang akan dibela oleh para cecunguk-nya, karena hubungan organik, hubungan organik itu tidak melulu karena kesatuan ideologis, melainkan juga bisa karena ketundukan absolut karena ketergantungan-ketergantungan materi, laksana kacung yang pasrah kepada sang majikan. Pola hubungan seperti ini akan lebih sering tampil antagonis, baik secara sosial maupun etis.

Namun, apapun analisa dan istilah yang digunakan untuk mendeteksi kehebatan-kehebatan Yang Teramal khususnya yang terkait dengan kelakuannya selama lima hari ini (Sabtu, Minggu, Senin, Selasa dan Rabu), bukanlah kehebatan-kehebatan yang bisa ditiru dan diperagakan oleh manusia-manusia yang masih mengandalkan kewarasan dalam bertindak.

Tabik.

Penulis : Rahmatul Ummah