Belajar Menjadi Manusia pada Desmond Doss

While everybody is taking life I’m going to be saving it.” – Desmond Doss

Apa yang terjadi belakangan bagi saya begitu melelahkan bagi hati dan pikiran. Sulit menemukan keteduhan di tengah kegaduhan. Terlepas dari siapa yang benar dan salah, betapa hinaan dibalas makian, serangan cyber dibalas serangan cyber, aksi massa dibalas aksi massa, hingga tuntutan hukum dibalas tuntutan hukum, seolah tak ada habisnya. Setiap orang diliputi kebencian satu kubu dengan kubu yang lain, seolah yang berbeda harus selalu dipertentangkan. Dan puncaknya adalah ketika terjadi pengeboman di sebuah gereja di Samarinda, 2 orang balita jadi korbannya. Seharusnya semua pihak sibuk mengutuk pelaku kekerasan yang dilakukan, namun yang terjadi justru saling sibuk menyalahkan. Satu pihak mengkaitkan pengeboman dengan serangkaian aksi damai umat Islam yang disebut mereka satu barisan dengan pengebom sebagai pembenci kebhinnekaan, satu pihak sibuk mengatakan bahwa pengeboman tersebut sebagai pengalihan isu atau bahkan operasi intelejen. Tak bisakah kita cukup berempati saja dan membantu para korban tanpa sibuk saling menyalahkan?.

Dan akhirnya saya merasa menemukan keteduhan di tengah kegaduhan dari sebuah film. Film itu berjudul Hacksaw Ridge yang disutradarai oleh Mel Gibson dan dibintangi oleh Andrew Garfield. Ia terinspirasi dari kisah nyata seorang prajurit Amerika Serikat dalam Perang Dunia II, Desmond Doss. Desmond merupakan tentara yang aneh dimana ia tidak mau membunuh, namun justru ingin menyelamatkan nyawa sebanyak-banyaknya. Prinsipnya ini terinspirasi dari ajaran agamanya bahwa membunuh manusia merupakan dosa terbesar, dan trauma masa kecilnya dimana Desmond berkelahi dan tanpa sengaja melukai kakaknya.

Kemudian setelah menolong satu orang dalam sebuah kecelakaan, Desmond merasa mendapatkan panggilan jiwa untuk menyelamatkan lebih banyak manusia. Dan akhirnya Desmond memutuskan untuk bergabung dengan militer sebagai paramedis. Namun Desmond tak menyangka ternyata dalam camp pelatihan dia juga harus berlatih mengangkat senjata, Desmond merasa hal itu tidak sesuai dengan suara hatinya. Dan Desmond bersikukuh untuk tidak mengangkat senjata walau sekedar latihan dan walau harus menolak perintah Komandannya. Karena sikapnya tersebut Desmond harus menjalani sanksi dari Komandannya bahkan dibenci oleh kawan satu unitnya karena satu unitnya juga ikut mendapatkan hukuman. Selain itu Desmond harus mempertanggungjawabkan perbuatannya tersebut di Pengadilan Militer. Namun karena apa yang dilakukan Desmond sejatinya tidak dilarang dalam konstitusi, pengadilan militer memutuskan bahwa ia tidak bersalah.

Desmond Doss dan pasukan lain di unitnya diterjunkan ke Okinawa dan peperangan ini cukup terkenal dalam sejarah yang biasa disebut Battle of Okinawa. Ketika perang berkecamuk dan korban satu per satu berjatuhan, Desmond dengan lihai menyelamatkan pasukan yang terluka dan membawanya kembali kembali ke garis belakang pertempuran. Bahkan ketika seluruh pasukan ditarik karena kewalahan menghadapi bombardir dari Jepang, Desmond masih memilih untuk bertahan dan menyelamatkan pasukan yang terluka walau hanya sendiri. Apa yang dilakukan Desmond tanpa bantuan siapa pun ini mengejutkan pasukan lain dan membuat mereka kembali ke medan pertempuran untuk membantu Desmond. Meski sendiri, terluka dan kelelahan, Desmond tak berhenti dan terus mengevakuasi mereka yang terluka. Desmond terus berdoa “Lord, help me get one more” terus menerus tanpa henti. Dan total jumlah nyawa yang berhasil diselamatkan Desmond seorang diri ialah 75 orang, bahkan termasuk 2 orang pasukan Jepang yang terluka. Upaya Desmond ini memberikan suntikan semangat luar biasa bagi pasukan Amerika Serikat dan konon pada akhirnya membuat mereka mampu memukul mundur pasukan Jepang dan masuk ke Okinawa. Dan setelah perang usai Desmond mendapatkan penghargaan tertinggi dalam perang dunia II dari negaranya, yakni Medal of Honor.

Ketika perang membuat satu sama lain saling bunuh, dimana nyawa dibalas nyawa. Desmond melakukan hal sebaliknya. Bahkan dalam perang setelah semua pasukan mundur dari medan perang, pasukan lawan menyisir pasukan yang masih hidup dan sekarat lalu membunuhinya satu per satu. Desmond Doss memberikan saya jawaban bahwa kita bisa melawan arus, yakni ketika yang lain sibuk “membunuh”, dimana nyawa dibalas nyawa, cacian dibalas cacian, tuntutan dibalas tuntutan, dan seterusnya, kita bisa melakukan hal yang berbeda sesuai suara hati kita. Bahkan walau ketika kondisi seolah tak memungkinkan kita melakukan hal yang berbeda, Desmond menunjukkan selama prinsip kita kuat dan tak goyah, sebuah perbedaan yang bermakna bisa kita lakukan.

Dan sejatinya Desmond Doss telah mematahkan peribahasa latin “SI VIS PACEM, PARA BELLUM” yang artinya “Jika kau mendambakan perdamaian, maka bersiaplah untuk berperang”. Desmond menginginkan perdamaian namun ia tak ingin membunuh dalam peperangan, dan ia bisa melakukannya dengan menolong yang lain agar tetap hidup bahkan menolong musuhnya sekalipun. Karena Desmond meyakini bahwa setiap manusia layak mendapatkan kehidupan selama masih bisa ditolong. Maka kita tak harus membalas setiap apa yang tidak kita sukai dengan balasan yang sama, dimana kebencian dibalas dengan kebencian. Meski berbeda atau bahkan bertentangan, kita cukup menjadi manusia untuk menghargai manusia lain. Sebagaimana Desmond begitu menghargai nyawa manusia.

Ahmad Jilul Qurani Farid (Penyuka Film)