Belajar Ikhlas Pada K.H. Abdul Karim Lirboyo

Ikhlas merupakan kata kunci yang sangat penting dalam ajaran Islam. Ikhlas menjadi konsep yang memperoleh perhatian luas dari kalangan ulama karena sedemikian pentingnya peranan ikhlas dalam segenap aktivitas hidup seorang Muslim. Umar Sulayman al-Asyqar (2006) menulis bahwa ada sangat banyak ulama yang memberi perhatian secara khusus terhadap konsep ikhlas. A-Raghib menyatakan bahwa yang dimaksud dengan ikhlas adalah menyingkirkan segala sesuatu selain Allah. Adapun Abu al-Qasim al-Qusyairi mendefinisikan orang yang ikhlas sebagai orang yang berkeinginan untuk menegaskan hak-hak Allah Swt. dalam setiap perbuatan ketaatannya. Dengan ketaatannya itu ia ingin mendekatkan diri kepada Allah, bukan kepada yang lain. Ia berbuat bukan untuk makhluk, bukan untuk mendapat pujian manusia, atau sanjungan dari siapapun. Satu-satunya yang ia harapkan adalah kedekatan kepada Allah Swt. Secara ringkas, demikian al-Qusyairi, ikhlas adalah memurnikan perbuatan dari pamrih apapun terhadap makhluk.

Sementara Izz ibn Abdussalam menyatakan bahwa ikhlas adalah melakukan ketaatan karena dan demi Allah semata, bukan karena ingin diagungkan atau dimuliakan oleh manusia; juga bukan untuk memperoleh keuntungan agama, atau menolak kemudharatan dunia.

Ulama yang lain, Harits al-Muhasibi menyatakan bahwa yang dimaksudkan dengan ikhlas adalah mengenyahkan makhluk dari hubungan antara seseorang dan Tuhan.

Definisi yang lain dikemukakan oleh Sahl ibn Abdullah, bahwa ikhlas adalah menjadikan seluruh gerak dan diam hanya untuk Allah Swt.

Secara mendasar, tidak terdapat perbedaan yang mencolok dari berbagai definisi tentang ikhlas sebagaimana diuraikan di atas. Semua definisi tersebut mengarah pada upaya untuk memurnikan maksud dan tujuan kepada Allah Swt. dari segala bentuk noda, campuran, dan segala hal lain yang merusak yang melekati maksud dan tujuan itu. Artinya, semua bentuk kegiatan manusia, termasuk bagi guru yang mengajar, dilakukan dan dimaksudkan secara murni sebagai manifestasi ibadah kepada Allah, bukan untuk maksud yang lainnya.

Guru yang mengajar bukan karena dilandasi oleh keikhlasan, tetapi karena semata-mata mencari nafkah, maka pekerjaannya sebagai guru akan dinilainya hanya dari segi capaian materi semata. Apabila yang menjadi orientasi utamanya adalah materi, maka si guru akan mengalami kegoncangan psikologis apabila ia merasa tidak seimbang antara apa yang ia kerjakan dengan honorarium yang ia terima. Sebagai akibatnya, ia akan kehilangan semangat mengajar. Mengajar dilakukan hanya sekedarnya sebagai bagian untuk memenuhi syarat mendapatkan gaji. Tidak ada visi yang jauh dan lebih luas. Bagi guru semacam ini, mengajar adalah mencari bayaran.

Sementara bagi guru yang mengajar dengan landasan ikhlas, mengajar merupakan sebuah tugas yang akan dijalankan dengan penuh kekusyukan. Tidak ada pamrih apapun dari tugasnya sebagai pendidik, selain tujuan untuk memberikan ilmu yang bermanfaat kepada siswanya. Kebahagiaan guru semacam ini terlihat ketika siswanya sukses dalam menerima pelajaran, dan juga sukses dalam kehidupannya setelah keluar dari bangku sekolah.

Iklhas memang merupakan hal yang mudah dikatakan, tetapi sulit untuk dilaksanakan, sebab ia lebih terkait dengan urusan hati. Mungkin seseorang bisa saja menyatakan bahwa dirinya ikhlas, tetapi sesungguhnya ikhlas itu hanya di bibir saja, sementara hatinya dongkol dan penuh ketidakikhlasan. Ikhlas yang sungguh-sungguh adalah hal yang paling sulit untuk kita lakukan. Itulah sebabnya ikhlas menjadi akar dari segala bentuk perbuatan hati (qalbî), lisan (qawlî), ataupun badan (badanî).

Seorang guru yang mengajar dengan ikhlas akan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan siswanya. Pengaruh ini memang kadang tidak bisa diukur secara empiris-matematis sesaat saja, tetapi dalam jangka waktu yang panjang, siswa akan merasakan manfaat dari pembelajaran yang diberikan oleh gurunya. Karakteristik keikhlasan ini sangat mudah kita temukan dalam sistem pendidikan di pondok pesantren.

Kalau kita cermati, para kyai di pondok pesantren adalah cermin sosok yang mendarmabaktikan hidupnya dengan penuh keikhlasan untuk mendidik para santri. Mereka mencurahkan seluruh hidupnya untuk mendidik para santri tanpa mengenal lelah. Dalam alam kehidupan modern yang sarat dengan godaan materialisme, mereka tetap kukuh dan teguh menjalani kehidupan asketis yang dilandasi oleh nilai-nilai keikhlasan. Karena murninya niat dan besarnya keikhlasan, merupakan hal yang wajar ketika banyak santri yang kemudian berhasil menjalani kehidupannya setelah mereka selesai menjalani pendidikan di pondok pesantren.

Mungkin ini sebuah contoh yang ditinjau dari sudut pandang ilmu-ilmu empiris dan paradigma positivis kurang memuaskan, tetapi bagi dunia pesantren, cerita semacam ini adalah bagian dari tradisi mereka. Salah satu buah keikhlasan adalah keajaiban. Penulis mencatat kisah ini dari buku yang memuat biografi KH Abdul Karim, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur. Dalam buku tersebut diceritakan bahwa KH Abdul Karim memiliki satu keistimewaan, yaitu keikhlasan beliau dalam memberikan pengajian. Dengan ratusan santri yang bersimpuh di hadapan beliau, tentu saja kediaman beliau yang sempit dan kecil tidak bisa menampung. Banyak santri yang tidak kebagian tempat. Mereka berada di luar rumah, dan saking banyaknya santri, bahkan banyak yang jaraknya cukup jauh. Padahal, pada masa beliau hidup, pengeras suara belum dikenal seperti sekarang ini. Banyaknya jumlah santri yang mengaji, sementara tidak ada pengeras suara, tentu menimbulkan problema tersendiri. Namun kenyataannya tidak demikian. Memang sulit mencari rasionalitasnya, tetapi begitulah kenyataannya, bahwa para santri yang sedemikian banyak ternyata mampu menerima dan mendengarkan suara ngaji dari KH Abdul Karim yang jaraknya cukup jauh.

Cerita tentang keikhlasan pendidik sebenarnya cukup banyak kita temui dalam kehidupan dunia pendidikan kita, terutama dunia pendidikan tradisional. Mereka mengajar betul-betul diniati sebagai ibadah. Persoalan material sama sekali jauh dari pertimbangan. Sebab, bagi mereka, yang utama memang mendidik. Dan hasilnya memang jauh lebih optimal dan inspiratif bagi para siswa, dibandingkan guru yang mengajar dengan orientasi dan pertimbangan materi semata.

Materi memang perlu, karena manusia hidup memang harus dengan materi. Tetapi materi bukanlah yang utama dan segala-galanya. Ketika pertimbangan materi menjadi orientasi dan satu-satunya tujuan, maka kegiatan pembelajaran pun akan kehilangan spiritnya. Di sinilah makna penting keikhlasan seorang guru dalam pembelajaran.

Implementasi keikhlasan dalam zaman sekarang ini tetap menemukan titik relevansinya. Seorang guru yang kehilangan nilai keihklasan akan mendidik dan memposisikan para siswanya secara kalkulasi matematis. Kegiatan mendidik akan dilihat dari sisi untung ruginya. Padahal, mendidik seharusnya lebih mengedepankan hal-hal yang kualitatif. Hasil pendidikan tidak bisa semata-mata dilihat secara kuantitatif dalam angka-angka hasil pembelajaran. Seorang guru yang ikhlas akan merasakan bahagia dalam hidupnya manakala para siswanya sukses dalam menjalani studinya dan juga kehidupannya kelak setelah menamatkan jenjang pendidikan. Kesuksesan hidup para siswa merupakan kebahagiaan yang tidak terukur bagi seorang guru. Alangkah bahagianya seorang guru jika para siswa yang diajar dengan penuh keikhlasan menuai kesuksesan dalam hidupnya.

Oleh karena itu, spirit ikhlas harus senantiasa ditiupkan ke dalam jiwa para guru. Jiwa yang ikhlas akan memancarkan energi besar untuk mendidik dengan landasan semata-mata mencari ridho Allah Swt. Hal inilah yang akan menjadikan kegiatan mendidik akan penuh dengan semangat dan menggairahkan, tanpa dibebani oleh hal-hal yang secara mendasar sebenarnya justru mengganggu makna mendasar pendidikan itu sendiri.

Ngainun Naim (Dosen IAIN Tulung Agung)