Belajar Hukum Lewat Film

“A lawyer with his briefcase can steal more than a hundred men with guns”.

(Vito Andolini Corleone dalam The Godfather)

Kutipan diatas adalah salah satu perkataan Vito Andolini dalam film The Good Father yang telah saya tonton berulang-ulang.  Selain main leng, menonton film adalah salah satu hobi saya. Selain film dokumenter, saya sangat menyukai film-film kolosal khususnya yang bertema Romawi atau Yunani. Belakangan saya juga menyukai  film-film bergenre legal thriller.

Ketertarikan pada film-film bergenre legal thriller ini sebenarnya muncul belakangan setelah mengikuti kuliah almarhum Prof. Soetandyo. Saat itu film yang direkomendasikannya adalah  Les Miserables yang diangkat dari novel legendaris karya Victor Hugo. Film berlatar belakang Perancis di Abad 18 ini menampilkan bagaimana aspek kepastian hukum disatu sisi dan aspek keadilan disisi yang lain. Lewat film ini Pa Tandyo tampaknya hendak menyampaikan pesan bahwasannya pendidikan adalah educating the brain and heart, pendidikan itu mendidik otak dan hati sekaligus.

Film dengan genre legal thriller yang menjadikan dunia hukum, keadilan dan  pengacara sebagai isu sentralnya. Kita  mungkin tak asing dengan nama  John Grisham. Novelis asal Amerika Serikat yang juga berlatar belakang pendidikan hukum dan menjadikan isu seputar hukum dalam karya-karyannya.  Sebut saja  A Time To Kill, The Rainmaker dan masih banyak lagi. Kebanyakan novel-novel karya John Grisham juga kemudian diangkat ke layar lebar.

Belakangan saya juga acap menggunakan film sebagai salah satu media belajar. Menurut saya film menjadi media yang efektif untuk menyampaikan pesan dalam kuliah. Kadang saya memandang bahwa mahasiswa –tentu saja dikelas saya- justru lebih mudah mencerna informasi melalui medium visual ketimbang teks. Pada konteks inilah film mampu menjadi medium pendidikan yang efektif, meski hal tersebut tentu saja tidak berlaku selamanya. Setidaknya saya menilai sejauh ini  film yang tepat akan mampu merangsang rasa ingin tau mahasiswa.

Biasanya saya menggunakan film-film dokumenter pendek sebelum masuk menjelaskan  materi perkuliahan. Tampak tidak biasa memang tapi saya menikmatinya dan mahasiswa dikelas juga sejauh ini tampaknya antusias menerima materi kuliah. Meski saya menduga ketertarikan mereka lebih disebabkan faktor daripada mendengarkan dosen berbicara sepanjang jam kuliah.

Beberapa film  dokumenter produksi watchdcoc misalnya saya gunakan untuk menjelaskan hukum dalam konteks sosial. Terlebih isu-isu yang diangkat watchdcoc  amat kontekstual dengan apa yang sedang diperbincangkan publik secara luas. Intinya kalo ada film baru yang durasinnya tidak terlalu lama, saya pasti akan memutarnya di kelas.

Michael Asimow seorang Profesor hukum di Universty of California dalam artikelnya yang berjudul  How I Learned to Litigate at the Movies mengatakan bahwa masyarakat Amerika Serikat justru mengetahui sistem hukum negaranya melalui medium seperti film atau produk dari budaya pop lainnya.

Tak heran, American Bar Association Journal misalnya sampai menyusun menyusun daftar The 25 Greatest Legal Movies  Penyusunan daftar film ini melibatkan ahli hukum dan pengacara, yang sering memberikan kuliah mengenai film ataupun hukum yang berkaitan dengan industri film.

Meski tak semua film diangkat dari kisah nyata, tapi film bergenre legal thriler yang ditawarkan setidaknya mampu membangun imajinasi tentang sebuah konteks yang sedang kita pelajari. Lewat film seperti The Firm, The Rainmaker, A Few Good Men, The Judge misalnya kita bisa belajar bagaimana peran seorang pengacara dalam dunia hukum di Amerika. Begitu juga lewat film The Runaway Jury kita belajar bagaimana peran juri dalam persidangan di Amerika.

Memang sistem hukum yang dianut Indonesia dan Amerika Serikat berbeda. Meski demikian mempelajari hukum dan keadilan tentu tak terbatas pada ruang dan waktu. Terlebih apapun perbedaan sistem hukum tersebut , keadilan menjadi tema besar yang menjadi muaranya.

Bagi saya mempelajari hukum lewat film juga sekaligus mengajak kita untuk tidak sekedar mempertajam kecerdasan tapi juga  menghaluskan perasaan. Akhirnya meski tulisan ini mencoba serius tapi sebenarnya  artikel ini ditulis karena penulis tengah galau menunggu kapan film Rayuan Pulau Palsu produksi watchdoc diunggah ke youtube, he he he  he.

 

Penulis : Oki Hajiansyah Wahab