Artificial Intelligence Pada Revolusi Mental

Artificial Intelligence disingkat AI didefinisikan sebagai kecerdasan entitas ilmiah. Sistem seperti ini umumnya diciptakan dan dimasukkan ke dalam suatu mesin komputer agar dapat melakukan pekerjaan seperti yang dapat dilakukan manusia, seperti mentransformasikan persamaan, menyelesaikan persamaan, melakukan clustering, asosiasi, mengetahui faktor diskriminan dan berbagai hal lain yang berkaitan dengan penerapan teknologi informasi dan lainnya. Fenomena digital yang marak saat ini akhirnya menghantarkan pada manusia untuk dapat meramu sistem kerja yang dapat memudahkan aktifitas pengukuran. Menjadikan sistem yang mampu mengukur fenomena pada permasalahan sosial dengan metodologi ilmiah, merupakan suatu keniscayaan pada alat ini.

Dunia digital dan cuaca politik merupakan garis lurus yang memiliki persamaan  dan dapat dicari determinannya. Maraknya media on-line, sosial media, dan piranti sosial lain menjadi arus baru yang mampu menggalang masa dan membangun opini publik. Terlepas dari banyaknya akun-akun sosmed robot dan media on-line yang hanya copy paste dari media mainstrem merupakan hal yang wajar. Namun arus opini publik dan pemberitaan pada ruang pencitraan akan keberhasilan program, suksesi, dan prilaku politik lain, menjadi mudah untuk dikenal dan tercitra ketika mampu memahami arus pemberitaan yang menjadi trand.

Intuisi terbantu oleh peran mesin yang meringkas sesuatu yang rumit menjadi sederhana serta mudah dipahami. Kerumitan tersebut dapat dipangkas dan banyak waktu dapat digunakan untuk pengambilan kesimpulan dan tindakan. Fenomena ini jamak terjadi pada orang-orang yang berdekatan pada wilayah pemegang kekuasan. Dapat juga berkaitan dengan manufer pencitraan yang menjadi wilayah kerja para tim sukses kandidat pemain politik praktis. Pada dunia yang berkaitan dengan pengukuran sentimen, elektabilitas dan arus isu, Artificial Intelligence akan memberikan jawaban dan solusi untuk dapat memberi rekomendasi terhadap pilihan kebijakan yang efektif dan efisien dari sebuah fenomena sosial.

Bagaimana dengan Revolusi Mental? Fenomena digital merupakan semangat zaman yang baru dan suka tidak suka harus diikuti sebagai sebuah kenyataan sejarah umat manusia. Sikap terhadap dunia baru ini tidak dapat apatis dan disikapi dengan cara lama. Potret penyikapan taxi konvensional dengan taxi on-line adalah salah satu dari berjuta kenyataan yang akan kita hadapi di masa depan, begitu pun dengan pasar digital yang antara pembeli dan penjual tidak perlu berhadapan satu sama lain. Semuanya membutuhkan regulasi dan hadirnya negara guna mengatur itu semua untuk dapat terbangun iklim usaha yang sehat.

Kenyataan ini akhirnya menjadi permasalahan yang cukup rumit untuk kalangan generasi muda. Anak-anak saat ini dihadapkan pada ruang dimana interaksi sosial nyata menjadi kejadian langka. Semua telah selesai dengan pertemuan di sosial media, ketegangan dalam perdebatan, sikap menggampangkan dan komunikasi yang tidak menyentuh pada ruang rasa akhirnya dapat membentuk generasi yang berbeda dari pendahulunya. Gradasi inilah yang harus disikapi dengan arif dan bijak, bahwa revolusi digital ini akan membentuk mental dan kepribadian yang berbeda adalah sebuah keniscahyaan.

Hal positif dari dunia baru ini adalah kecepatan dan ketidakterbatasan akses menjadi sebuah peluang besar. Gerakan sosial yang marak dengan begitu mudah dapat menggalang orang untuk dapat melakukan langkah-langkah kongkrit dalam solusi mengatasi bencana sosial, seperti banjir, gempa bumi, dan lain sebagainya. Ruang dimana batas-batas dan sekat antar usia, suku, agama, tempat tinggal, bahkan antar negara dapat mudah di atasi dengan sentuhan pada layar handphone pintar masing-masing.

Kesadaran sosial yang terbentuk pada ruang digital ini merupakan bukti nyata dimana kekuatan digital media menjadi piranti yang dapat membentuk konsolidasi sosial. Konsolidasi yang terbentuk dengan melipat batas ruang dan waktu merupakan sebuah langkah revolutif yang dijembatani oleh AI. Selanjutnya adalah ketika kita berhadapan dengan fenomena tersebut, bagaimana penyikapannya tidak menjadi sebuah langkah yang keliru dan kontra produktif.

Membangun kesadaran baru dalam membaca semangat zaman yang telah bergeser ke arah teknologi informasi merupakan sikap mental yang harus ditumbuhkan. Kesadaran itu dapat ditumbuhkan dengan serta merta mengikuti arus dan arah teknologi, teknologi menjadi alat bantu yang dapat digunakan sebagai solusi menghadapi cepatnya arus digital tersebut. Sehingga kita tidak menjadi orang yang gagap dan telat dalam menyikapi sebuah fenomena yang arusnya begitu deras.

Pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence ini hendaknya dapat dikembangkan dan digunakan pada instansi-instansi publik, media, perusahaan, guna mendorong kemudahan kerja, gerak serta efektifitas dan efisiensi. Menjadi alat bantu yang akan mendorong instansi dapat mengeluarkan kebijakan yang tepat guna, tepat sasaran dan efektif ke titik utama. Sehingga penyelesaian segala permasalahan akan sampai mendekati titik ideal dan solutif terhadap permasalahan.

Robert Edy Sudarwan (Analis di Indonesia Indicator, Kandidat Doktor Evaluasi Pendidikan UNJ)