Antre Vs Calistung

Dewasa ini, jumlah sekolah taman kanak-kanak (TK) dan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) berkembang semakin pesat. Pada fase pendidikan tersebut, anak-anak mulai diajarkan Calistung (baca, tulis, dan hitung). Namun, sebenarnya ada hal lain yang harusnya diajarkan pada mereka pada masa itu, yaitu belajar mengantre. Bahkan dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa hanya butuh waktu 3 bulan bagi seorang anak agar lancar Calistung, tetapi dibutuhkan waktu 12 tahun bagi mereka untuk menguasai pelajaran mengantre ini. Setidaknya, ada lima hal yang ditawarkan pelajaran mengantre yang tidak diberikan oleh Calistung.

Mengantre mengajarkan anak tentang manajemen waktu. Anak diajarkan bagaimana mengatur waktu agar bisa mendapat “keuntungan” ketika mengantre. Manajemen waktu selanjutnya mengajarkan mereka arti konsekuensi dan fair play. Apabila manajemen waktu membiasakan mereka menjadi seorang yang well-prepared, maka konsekuensi dan fair play melatih mereka menjadi pribadi yang berprinsip. Mereka diajarkan untuk menerima konsekuensi dari apa yang mereka perbuat, semisal, mereka datang ketika antrean sudah panjang, maka mereka harus rela mengambil tempat di belakang.

Hal lain yang diajarkan ketika mengantre adalah masalah moral, yaitu menghormati orang lain. Ketika sedang berdiri dalam barisan panjang antrean, anak-anak diminta tetap sabar menunggu giliran. Disinilah mereka dilatih untuk menghargai hak, kesempatan, dan giliran orang lain. Akan menjadi hal yang tidak sopan apabila mereka menyerobot antrean.

Banyak hal yang dapat dilakukan ketika berada dalam sebuah antrean, seperti membaca buku, mendengarkan musik, mengobrol, merenung, atau bahkan mengkhayal. Dari beberapa contoh kegiatan tersebut harusnya guru dapat mengasah kreativitas anak didiknya. Guru juga sebaiknya mengarahkan kreativitas tersebut menjadi hal yang bermanfaat, seperti membaca buku.

Mengambil salah satu kegiatan yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu mengobrol, penulis mengasumsikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk sosialisasi. Aktivitas semacam ini juga dikenal dengan istilah interpersonal skill. Membosankan sekali berdiri berjam-jam dalam antrean dengan mulut terkatup. Untuk itulah kita setidaknya berdialog dengan mereka yang ada di depan atau di belakang posisi kita. Selebihnya, kita juga bisa melakukan kerja sama yang baik dengan mereka apabila kita ada kepentingan yang sangat mendesak. Misalnya, kita mendapat telepon darurat hingga kita harus meninggalkan barisan untuk beberapa menit, kita bisa, bahasa istilahnya, “nitip tempat” kepada orang yang ada di depan maupun di belakang kita.

Hal paling utama dari kesemuanya—disadari atau tidak—ternyata mengantre memiliki dimensi religius. Mudah saja mencontohkannya. Sebagai umat muslim, wajib meyakini adanya satu Tuhan. Ya, Tuhan memang ada satu. Tapi jangan pernah tanyakan berapa jumlah hamba-Nya. Pastinya, setiap hamba memiliki doa dan harapan masing-masing. Tidak menutup kemungkinan pula beberapa dari mereka memiliki keinginan yang serupa sehingga mereka berada dalam antrean yang sama. Jadi, apabila pengharapan kita saat ini mungkin belum terkabul, bisa saja kita masih berada di antrean belakang. Dan mengenai apakah kita sabar menunggu antrean tersebut atau tidak, tergantung pada diri kita masing-masing.

Dari uraian diatas, dapat diketahui bahwa ada lebih banyak hal yang bisa dicapai anak-anak saat mereka mengantre—lebih dari sekedar angka dan tulisan—seperti belajar mengatur waktu, menghormati orang lain, berkreasi, bersosialisasi, serta memahami dimensi religius dari kegiatan mengantre itu sendiri. Oleh karena itu, sangat disarankan bagi para tenaga pengajar untuk tidak hanya fokus pada pengembangan Calistung anak.

Mutia Retno Maharti