Antara Jokowi dan Soeharto

Harian The Jakarta Post pada edisi 7 Mei 2016 memuat sebuah artikel tentang Jokowi berjudul Jokowi’s Hidden Side as ‘Little Soeharto’ atau Sisi Tersembunyi Jokowi Sebagai ‘Soeharto Kecil’ yang ditulis oleh Kornelius Purba. Ini merupakan kesekian kalinya bagi koran ini mengulas secara kritis kiprah Jokowi sebagai Presiden Republik Indonesia.

Pada artikel ini, Kornelius menulis bagaimana Jokowi berhasil melakukan manuver politik di dalam melakukan negosiasi kekuasaan dengan partai-partai politik yang ada di sekelilingnya. Jokowi berhasil memutar balik posisi ‘underdog’ yang disandangnya di awal pemerintahannya, di mana sebelumnya dia dianggap hanya akan menjadi boneka dari partai-partai politik anggota koalisi dia dan rentan diserang oleh partai-partai politik yang beroposisi.

Tidak ada yang menyangka bahwa pada tahun kedua pemerintahannya, situasi berubah 180 derajat. Hampir tidak ada lagi Koalisi Merah Putih, selain Partai Gerindra yang beroposisi terhadapnya setelah PKS berhasil dirangkul menyusul PPP dan PAN. Partai-partai koalisi yang dulunya disangka akan dengan mudah mendikte Jokowi juga dinilai telah rapuh dan harus pandai merapat agar tidak kehilangan jatah kekuasaan. Sisa PDIP saja yang meradang karena Jokowi tidak bisa dikendalikan sesuka hati.

Oleh Kornelius, Jokowi dianggap belajar dari gaya kepemimpinan Soeharto yang secara perlahan mampu menaklukkan lawan-lawan politiknya. Soeharto, sebagaimana yang digambarkan oleh Jusuf Wanandi di dalam buku memoar politiknya ‘Shades of Grey’ di awal kepemimpinannya juga menghadapi banyak lawan dan pesaing dari kubunya sendiri (ABRI). Tahun-tahun awalnya digunakan untuk melakukan manuver-manuver politik untuk menaklukkan partai politik, faksi-faksi di ABRI maupun individu-individu yang berseberangan.

Tidak butuh lama, setidaknya di awal 1970-an, Soeharto sudah berhasil menyingkirkan maupun menjinakkan para pesaingnya. Jokowi digambarkan memiliki stamina dan kesabaran yang ekstrim di dalam melakukan permainan politiknya untuk mengendalikan individu-individu dan kelompok-kelompok yang berseberangan. Kornelius Purba mengibaratkan Jokowi sebagai ‘Soeharto Kecil’ yang dengan kepribadian Jawa-nya cenderung menghindari konfrontasi dan memilih untuk ‘low profile’ namun seperti Soeharto, dia juga bisa sangat keras di dalam menggunakan kekuasaannya.

Kunci bagi keberhasilan Jokowi di dalam menghadapi dan mengendalikan pihak-pihak yang berlawanan dengan dia adalah strategi manajemen konflik dan strategi ‘stick and carrot’. Jokowi berhasil memanfaatkan konflik internal di partai-partai politik untuk menyeleksi dan mendukung individu-individu yang bisa sejalan dengan dia. Dalam dua tahun pemerintahan Jokowi, sederetan partai politik mengalami regenerasi, reposisi hingga perpecahan yang kemudian bermuara pada terciptanya kepemimpinan partai-partai politik yang baru dan ‘ramah’ terhadap pemerintahan dia.

Partai-partai tersebut dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan pemerintahan Jokowi jika tidak mau kehilangan akses pada kekuasaan yang memberikan keleluasaan untuk menikmati proyek-proyek pemerintah yang dibutuhkan oleh para individu-individu yang bernaung di semua partai. Strategi yang diterapkan oleh Jokowi ini dinilai lebih mumpuni daripada strategi SBY selama dua periode kepresidenannya yang menghujani partai-partai koalisinya dengan kekuasaan namun kemudian justru seringkali dipecundangi oleh partai-partai yang dimanjakannya itu.

Selain terhadap partai, menurut saya Jokowi juga menerapkan strategi yang sama terhadap individu-individu yang ada di sekelilingnya. Manajemen konflik ala dalang wayang digunakan dengan cara saling membenturkan individu-individu kuat yang ada di sekelilingnya. Saling serang antara Rizal Ramli dengan Sudirman Said misalnya, yang ditengarai mewakili persaingan antara Luhut dan JK dan munculnya berbagai isu menyangkut tokoh-tokoh ini, seperti bocoran Panama Papers bisa dilihat sebagai pertunjukan kepiawaian Jokowi melemahkan mereka agar bisa dikendalikan.

Tokoh-tokoh yang awalnya dilihat sebagai ‘the king makers’ kini berada pada posisi yang bisa dikendalikan oleh Jokowi. Hal yang sama juga, saya yakini dialami oleh Ahok yang awalnya terlalu lincah dengan manuver-manuvernya kini berada di bawah angin dan harus bergantung pada Jokowi. Kabar angin menyebutkan bahwa Jokowi juga terusik oleh manuver-manuver Ahok sehingga perlu untuk ditertibkan.

Walaupun Jokowi dinilai kini telah berada pada posisi yang kuat, akan tetapi dia bukan tanpa kelemahan. Di luar dari kepiawaiannya melakukan manuver politik, Jokowi sendiri hingga saat ini masih lemah dalam hal ‘public speaking’. Berbeda dengan Soeharto atau bahkan SBY yang matang ketika harus berbicara di publik, Jokowi masih kedodoran ketika harus tampil bersikap di depan umum yang membuatnya rentan melakukan kesalahan pernyataan yang kemudian dijadikan sebagai bahan serangan terhadap dirinya.

Selain itu manajemen konflik yang dilakukannya dengan memiliki tokoh-tokoh yang saling berseberangan di kabinetnya juga acap kali menimbulkan kegaduhan seperti perbedaan pernyataan dan kebijakan yang justru merugikan pemerintahannya. Untuk hal ini, tampaknya Jokowi masih harus belajar lebih lanjut pada Soeharto di dalam mengharmoniskan kabinetnya. Atau ini adalah hal yang akan dia wujudkan di reshuffle berikutnya.

 

Penulis : Henky Widjaja (Mahasiswa S3 Institute of Cultural Anthropology and Social Sciences Universitas Leiden)