Agus Salim di Mata Pramoedya Ananta Toer

Sekitar 50 tahun yang lalu, pada resepsi diplomatik di London, satu orang menonjol: dia pendek untuk ukuran Eropa, dan tipis, dan ia mengenakan topi fezlike hitam di rambutnya yang putih. Dari mulutnya datang awan tak berujung asap aromatik yang merasuki ruang resepsi. Orang ini adalah Agus Salim, Duta Besar Republik Indonesia yang pertama ke Inggris. Dimaksud dalam negaranya sebagai Old Man Grand, Salim berada di antara generasi pertama dari Indonesia telah menerima pendidikan Barat. Dalam hal ini, ia adalah spesies langka, untuk pada akhir hegemoni Belanda atas Indonesia pada tahun 1943, tidak lebih dari 3,5 persen dari penduduk negara itu bisa membaca atau menulis.

Tidak mengherankan, penampilan dan sikap Salim – belum lagi bau aneh dari rokok – dengan cepat mengubahnya menjadi pusat perhatian. Seorang pria dengan kata-kata pertanyaan yang berada di bibir setiap orang:” Apa itu hal yang Anda merokok, Pak?” ” Itu, Yang Mulia,” Agus Salim dilaporkan telah mengatakan,” adalah alasan yang Barat mengalahkan dunia” Bahkan ia mengisap kretek, sebuah rokok indonesian dibumbui dengan cengkeh,! Yang selama berabad-abad adalah salah satu yang paling dicari di dunia rempah-rempah.

Apakah kisah saya tentang bahasa Indonesia di istana Raja James kisah terbesar dari milenium? Tentu saja tidak, meskipun aku harus tersenyum pada ketidaksopanan ditunjukkan oleh sebangsa saya. Saya termasuk di sini karena menyentuh pada apa yang saya berpendapat adalah dua proses yang paling penting”” milenium ini: mencari rempah-rempah oleh negara-negara Barat, yang membawa negara-negara asing dan budaya ke dalam kontak dengan satu sama lain untuk pertama kalinya; dan perluasan kesempatan pendidikan, yang kembali ke dijajah bangsa di dunia hak mereka terpaksa kehilangan bawah penjajahan Barat – hak untuk menentukan masa depan mereka sendiri.

Proses yang terakhir ini dicontohkan oleh apa yang sekarang sebuah karya sastra hampir tidak dikenal:” Max Havelaar atau Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda,” novel karya Eduard Douwes Dekker, seorang Belanda, yang diterbitkan pada tahun 1859 dengan nama samaran Multatuli (Latin untuk” Saya sangat menderita”). Buku ini menceritakan pengalaman salah Max Havelaar, seorang pejabat kolonial Belanda di Jawa idealis. Dalam cerita, Havelaar bertemu – dan kemudian memberontak terhadap – sistem tanam paksa yang dikenakan pada petani Indonesia dengan Pemerintah Belanda.[1]

Kisah perjalanan hidup Agus Salim dan Pramoedya memang terpaut umur yang cukup jauh. Tapi sedikit tulisan Pram di atas menggambarkan bagaimana para pejuang awal Negara ini mengalami kesulitan bangkit dari bentuk pendidikan. Belanda yang memberi kesempatan belajar anak-anak pribumi untuk sekolah di pendidikan Belanda, dan kelak menjadi pejuang untuk membebaskan bangsanya dari sebuah kebodohan turunan dan terlena abadi dalam penjajahan yang sakit. Pram kemudian menyebutkan, bahwa Agus Salim adalah generasi pertama yang memperoleh pendidikan Barat. Agus Salim adalah spesies langka, yang dikemudian hari spesies langka ini bertambah dan terus bertambah seperti Muhammad Hatta yang akhirnya memecahkan kebuntuan pendidikan dan merasakan langsung pendidikan sampai ke negeri Belanda. Walaupun dididik oleh Belanda mereka-mereka yang umumnya berasal dari Sumatra Barat telah memiliki basis Islam yang kuat. Jadi spesies langka menurut Pram bisa jadi adalah langkanya para pelajar yang juga memiliki ideologi Islam pondasi api tauhid yang terus melawan.

Di bumi Indonesia, dari Sabang sampai Merauke dapat kita jumpai bagaimana masyarakat Islam mampu melawan penjajah sebagai bentuk harga diri Islam yang tidak mau di jajah oleh Belanda. Aceh, Sumatra Barat, Jawab Barat, Surabaya adalah bagian Indonesia yang mencatatkan pertarungan sengit. Dalam tetralogi buru “Bumi Manusia” dikisahkan oleh Pram bagaimana, Aceh sangat sulit ditakhlukkan oleh Belanda. Daerah yang disebut sebagai Serambi Mekah itu kian beringas ketika Belanda hadir dan menginjak-injak harga diri masyarakat Aceh. Dalam Novel “Bumi Manusia” itu juga menceritakan perang Aceh adalah perang Islam dan Belanda dimana masyarakat Aceh hanya bersenjatakan bambu runcing tapi jago memainkan system gerilya. Perang Aceh adalah sejarah perang dimana Belanda selalu mengalami kekalahan. Bahka dunia mencatat bahwa Inggris pernah terkalahkan dalam perang yaitu pertempuran di Surabaya yang diperingati sebagai hari Pahlawan.

Dalam hal lain ada  ‘spesies langka”  yaitu Aktor Minke dalam Bumi Manusia oleh Pram sangat dilukiskan sebagai pelajar cerdas pribumi yang mampu berbahasa, menulis dan memliki kecerdasan yang setara dengan pelajar Belanda saat itu. Tokoh Minke yang kuat digambarkan sebagai bentuk kiasan tokoh Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo adalah tokoh Pers awal Indonesia. Pram dalam sadarnya ingin membangun persepsi besar bahwa Indonesia saat penjajahan Belanda saat itu itu butuh spesies langka yang mampu membaca dan menulis. Dengan itu maka akan lahir spesies-spesies baru yang mampu membangun narasi besar tentang perjuangan bukan hanya dengan bambu runcing, bedil atau people power. Hematnya Indonesia membutuhkan pejuang yang mampu membangun isu-isu temporal dengan kata dan pena.

Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo (Blora, 1880–1918) adalah seorang tokoh pers dan tokoh kebangkitan nasional Indonesia, dikenal juga sebagai perintis persuratkabaran dan kewartawanan nasional Indonesia. Namanya sering disingkat T.A.S. Tirto menerbitkan surat kabar Soenda Berita (1903-1905), Medan Prijaji (1907) dan Putri Hindia (1908). Tirto juga mendirikan Sarikat Dagang Islam. Medan Prijaji dikenal sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia), dan seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan dan wartawannya adalah pribumi Indonesia asli. Tirto adalah orang pertama yang menggunakan surat kabar sebagai alat propaganda dan pembentuk pendapat umum. Dia juga berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu. Akhirnya Tirto ditangkap dan disingkirkan dari Pulau Jawa dan dibuang ke Pulau Bacan, dekat Halmahera (Provinsi Maluku Utara). Setelah selesai masa pembuangannya, Tirto kembali ke Batavia, dan meninggal dunia pada 17 Agustus 1918.

Sedangkan Agus Salim, Pram menulis artikel awal pada tulisan ini adalah sebagai bentuk awal kesamaan sosok The Grand Old Man dengan Minke atau Tirto Adhi Soerjo yang mampu membaca dan menulis. Mereka sama-sama prototype awal pejuang Indonesia yang mengenyam pendidikan Belanda. Kemampuan berdebat cerdas, berbahasa asing yang baik dan menulis dengan militan adalah anugerah besar yang mereka miliki. Spesies ini kelak akan menjadi pemantik spesies yang lebih militan dan terorganisir seperti Soekarno, Tan Malaka, Muhammad Hatta, M Natsir, Hamka dan lainnya, yang semuanya memiliki kemampuan dialektika, membaca, menulis dengan sempurna. Maka spesies awal seperti Agus Salim ini adalah bentuk paling otentik dan genuine dari banyaknya pejuang saat itu dan ‘Pak Tua’ ini memang sampai saat ini tetap langka. Pribadi yang mampu menjadikan Sarekat Islam dan  Sosialisme dalam satu tubuh untuk melawan Belanda. Seorang Tua yang sampai akhir hidupnya dijalani dengan kehidupan Proletar. Seorang tua yang mengajari anak-anaknya berbagai bahasa tanpa pendidikan formal, seorang Tua yang menggunakan rokok sebagai bentuk perlawanan untuk mencibir asing yang merebut rempah-rempah di Indonesia.

Seorang Ulama, intelektual, diplomat, satrawan, ahli debat ulung, guru yang amat sangat jenius, menguasai sekurang-kurangnya nya 7 bahasa dengan amat sangat baik, bahkan dikatakan bahasa arab Agus Salim mengalahkan sarjana-sarjana Mesir karena ketinggian bahasanya. Maka wajar jika Bung Hatta menyebut “…dia itu adalah yang jenial, yang mendapat pikiran yg penting-penting secara tiba-tiba dan mudah saja mengeluarkannya sepintas lalu. Sikapnya yang tangkas dan ada rem, itu memberikan garam pada ucapannya, biasanya terdapat dalam perdebatan atau tulisan yang menangkis serangan lawan atau dalam pertukaran pikiran yang berisikan lelucon. Di situlah terdapat apa yang dikatakan orang Belanda “Salim op zijn best”. Suatu penghargaan yang tepat bagi dia julukan “Indonesia’s Grand Old Man.”

Dharma Setyawan

 

 

 

[1] Oleh Pramoedya Ananta Toer, diterbitkan 18 April 1999, Artikel ini diterjemahkan oleh John H. McGlynn dari bahasa Indonesia.