Soe Hoek Gie Mati Muda

Soe Hok Gie

Malam inI, aku menonton film Soe Hoek Gie. Sebenarnya aku sudah punya film ini lama, tapi baru kali ini aku ingat dan ingin menontonnya. Kalimat terakhir dari film ini “yang paling beruntung adalah tak pernah di lahirkan, yang kedua mati muda.” Mengingat umur ku, jika aku mati di umur yang sekarang aku masih tergolong mati muda. Benarkah beruntung ketika mati muda?

Bukan mati muda yang ku takutkan, hanya saja jika aku mati muda benarkah aku beruntung seperti yang Soe Hoek Gie katakan? Di umur 21 tahun ini, rasanya belum ada yang bisa ku banggakan. Kemungkinan untuk beruntung mati muda juga sangat ku ragukan. Aku bukan Soe Hoek Gie yang begitu cerdas menggoresan tinta dan membawa perubahan melalui gagasan dan tulisan-tulisannya.

Soe Hoek Gie adalah pionir yang mengawali langkah perubahan luar biasa. Buku hariannya yang digandrungi mahasiswa, perjalanan hidupnya yang mengispirasi ribuan mahasiswa menjadikannya sangat beruntung mati muda. Kenapa? Karena ia telah meninggalkan sebuah semangat perubahan yang luar biasa bagi negaranya. Keberuntungan lainnya saat ia mati muda adalah ia tak menyaksikan ribuan mahasiswa yang hanya sekedar tahu perjalanan hidupnya dan bertindak sok herois tanpa memahami hakikat perubahan yang sebenarnya.

Aku yakin Soe Hoek Gie akan sangat sedih melihat ribuan mahasiswa yang menjadi apatis dan sok herois. Berkoar tentang idealisme, demokrasi, perubahan, dan keadilan tapi sejatinya tak mengerti tentang apa yang diucapkan. Bermesraan dengan buku dan teori serta pencapaian indeks prestasi tinggi tapi tak pernah peduli dengan rakyat yang selalu ditindas dan dibodohi. Dan tragisnya para mahasiswa ini sering menjadikan Soe Hoek Gie sebagai idolanya, mengaku menjunjug idealisme dan bertindak untuk perubahan, tragis.

Nilai kebhinekaan yang tertanam tanpa memandang golongan juga telah terlupakan. Saat ini mahasiswa berbondong-bondong bergerak untuk kepentingan kelompok, suku, ras, atau agama. Dengan terang berkoar melawan pemerintahan yang buruk namun tetap menyimpan kepentingan golongan. Mahasiswa sudah menjadi kaki tangan kelompok dan sering kali dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok. Agama, dakwah, keadilan adalah embel-embel yang sering dipakai menyelimuti kepentingan kelompok. Aku menyadari sepenuhnya itu, akupun melihat di depan mataku realita mahasiwa apatis atau yang sok herois.

Beruntungnya Soe Hoek Gie  mati muda, ia telah bertindak mengawali pergerakan perubahan. Jika aku yang mati muda, tak tahu apa yang telah ku lakukan untuk membuat perubahan. Melihat teman-teman mahasiswa yang dengan bodohnya mau ditunggangi kepentigan partai, dimanfaatkan untuk politik atas nama agama, aku tak bisa apa-apa. Aku hanya sebatas melihat dan bertanya mengapa bisa seperti ini?

Bahkan sampai saat ini aku belum tahu, bagaimana caranya agar beruntung saat mati muda. mati saat masih muda dan meninggakan sesuatu yang berharga bagi generasi muda berikutnya. Sangat sulit rasanya menjadi orang yang berguna bagi negara dan orang-orang disekitar, membawa perubahan menuju lebih baik, mati muda dan dikenang generasi penerusnya sebagai orang baik. kurasa inilah yang dimaksud Soe Heok Gie beruntung saat mati muda. Mati muda dan dikenang baik oleh penerusnya.

Intinya “Bukan bagaimana kita di lahirkan, tapi bagaimana kita dikenang”. tidak penting mati muda atau berumur tua yang beruntung, tapi bagaimana kita dikenang setelah mati. Tapi aku ingin mati muda dan dikenang baik oleh generasi sesudahku, itu bukan hanya beruntung tapi sangat beruntung.

Puji Astuti (Mahasiswi IAIN Metro)