Cita-Citaku: Menjadi Tukang Tambal Ban

Sore itu saya sedang bepergian. Kebetulan ban motor saya kempis. Saya menghampiri bengkel di seberang jalan, dan alhamdulillah menyediakan jasa tambal ban.

Agak lama memang, si penambal ban itu bernama Marbun, sore itu antriannya 2 mobil dan 2 motor. Dia bekerja sendirian. Karena motor penanganannya tidak begitu lama maka motor lebih dulu ditangani.

Saya jadi teringat beberapa tahun lalu saat saya masih kuliah di jombang karena sering ngopi dan jalan keluar kota dengan motor, dan tentunya sering bocor ban juga, saya jadi penasaran dengan tukang tambal ban. Namanya Agus. Dia anak tukang tambal ban pinggir jalan, pelanggan bapaknya adalah pengendara sepeda motor yang bannya bocor. Tidak banyak memang tapi selalu saja ada yang menggunakan jasanya. Kadang 5 sampai 7 motor. Tarifnya 5000 rupiah.

Agus usianya 12 tahun, dia duduk di bangku SLTP di salah satu SLTP Sidoarjo, saya bertanya pada Agus.

Saya : Kamu sekolah, Gus?
Agus : Sekolah, Mas.
Saya : Kelas berapa?
Agus : Kelas 1 SMP Mas.
Saya : Apa cita citamu, Gus?
Agus : Jadi tukang tambal ban, Mas.

Saya sedikit terkejut, anak seusia Agus bercita cita yang tidak muluk-muluk dalam bercita.  Dia hanya ingin menjadi “Tukang Tambal Ban”.

Menurut Agus tukang tambal itu bagus, karena tukang tambal ban bisa membantu orang lain, sekaligus mendapat bonus uang, dan tentunya akan membantu orang tuanya nantinya untuk kebutuhan keseharian. Agus ingin sekolah sampai SMA saja, mengingat ayahnya yang harus menanggung biaya sekolah yang mahal. Ya meski kabarnya sekolah gratis. Tetapi Agus masih harus membayar untuk pembelian buku dan seragam sekolah.

Menurut saya cita cita Agus itu baik, dan istimewa. untuk anak seusia Agus sudah memiliki pandangan untuk membantu orang lain, dibanding dengan fenomena hari ini banyak anak yg disorientasi (baca: tidak punya cita cita) pada proses pembelajaran. Terlebih yang mengenaskan adalah saat guru dan tenaga kependidikan disorientasi pada proses belajar mengajar.

Guru punya tanggung jawab lebih dalam proses mengajarnya, bukan hanya mengajar (menyampaikan materi dalam buku) tapi juga punya orientasi mendidik (prilaku dan menanamkan nilai dan karakter) agar pendidikan memiliki tujuan dan terarah.

Anak yang tidak semangat belajar bisa jadi karena tidak memiliki tujuan dari belajar, sehingga makna pendidikan kembali pada hal lama Scholer (mengisi waktu menganggur) sebagaimanan awal makna pendidikan pada zaman Athena.

Mungkin lebih baik Agus yang memiliki orientasi menjadi “tukang tambal ban” ketimbang kita mahasiswa, guru, dan tenaga didik yang disorientasi pendidikan.

Guru lebih banyak disibukan pemberkasan dan menyelesaikan kenaikan tingkat dan sertifikasi, belum lagi ketika guru honor yang nasibnya tak jelas harus menerima gaji per 3 bulan atau 6 bulan sekali karena lambatnya dana BOS, mereka mengeluh.

Seharusnya guru lebih fokus pada cara mengajar, cara menangani siswa terbelakang, mengarahkan siswa berprestasi, ketimbang hanya mengurus perangkat yang hanya dijadikan formalitas dan penyibukan.

Maka orientasi tenaga ajar yang mustinya memahami karakter peserta didik dan mengarahkan peserta didik untuk dapat memahami pelajaran secara kontekstual waktu mereka banyak untuk membicarakan peningkatan jabatan, sertifikasi dan berkas-berkas peningkatan kesejahteraan.

Maka wajar jika peserta didik Disorientasi karena partner belajarnya Disorientasi. Semoga negara memprioritaskan kesejahteraan guru sebagai langkah awal peningkatan mutu pendidikan.

Agar muncul banyak Agus tukang tambal ban dengan nilai karakter membangun dan manusiawai

Mari kita songsong Hari Guru dengan semangat Kemanusiaan

H.Wahid Imam Rifai (NU Kultural Lampung)