Donald Trump dan Elektabilitas Ahok

Tidak disukai banyak orang, dianggap arogan, semena-mena, bahkan sampai cemoohan telah menistakan agama adalah deskripsi dari Basuki Tjahja Purnama atau Ahok. Label kafir bahkan telah diberikan kepada dirinya oleh salah satu ormas radikal. Namun apakah kesemuanya itu akan berpengaruh terhadap elektabilitas Ahok dalam perebutan kursi nomor satu di ibukota?

Beberapa hari lalu kurang lebih puluhan ribu orang bahkan ada yang menyebutkan ratusan turun kejalanan untuk memprotes argumen Ahok yang memang sarat akan kontroversial. Meskipun demikian, sukar menafsirkan demonstrasi yang disebut dengan aksi Bela Islam II itu memang murni karena merasa dinistakan agamanya atau justru aksi tersebut disetir oleh istilah yang disebut politik.

Berbicara perihal argumen, sudah menjadi hal yang umum diketahui bahwasanya Ahok memang tipikal orang yang keras, bahkan cadas dalam berargumen banyak video ataupun berita yang menunjukan betapa “kejam” nya Ahok dalam berargumen. Ahok memang tak pandang bulu terhadap siapa saja yang dijadikan “santapan” makian-nya seperti halnya salah satu reporter stasiun televisi yang kena “semprot” olehnya seketika sedangkan acara tersebut disiarkan secara langsung.

Apa yang menarik? Lihat Donald Trump seperti yang diketahui bahwa dalam kampanyenya sebagai calon Presiden Amerika Serikat ia kerap melontarkan argumen-argumen kontroversial, bahkan menurut catatan penulis setidaknya Trump mengeluarkan 9 pernyataan yang kontroversial.

Berikut adalah pernyataan-pernyataan Trump tersebut. Menghina Islam sebagai Trouble Maker, melarang muslim masuk ke Amerika, menghina imigran Meksiko sebagai kriminal, mendeportasi etnis Hispanik, menyetujui teknik investasi kejam, mengawasi dan menutup masjid, sering menghina wanita, mengusir wartawan senior, dan yang terakhir adalah mengejek Hillary Clinton.

Apabila dikomparasikan antara Ahok dan Trump jelas dalam suatu kondisi politik yang jauh berbeda karena ruang lingkupnya, akan tetapi kesamaan dari keduanya adalah gemar berbicara keras dan cadas, serta lebih condong sisi arogansinya. Trump yang awalnya dianggap sebagai under dog  dalam pemilihan presiden, dibenci banyak orang, bahkan Meksiko yang murka terhadap pernyataan Trump memutuskan hubungan kerjasamanya dengan Amerika.

Faktanya kini miliyarder dan juga politisi Partai Republik itu justru memenangkan perhitungan suara mengalahkan rivalnya Hilary Clinton. Dilansir dari Washington Post, (9/11/2016) Trump memperoleh 276 electoral vote, sedangkan Hillary berada dibawahnya dengan hanya memperoleh 218 electoral vote.

How i can say it…? um, Unpredictable. Benar, memang diluar predikisi bahwa seorang “Public Enemy” sudah bakal dipastikan menjadi presiden Amerika. That was truth, that was consequnces if you againts the Great Trump.

Lalu bagaimana dengan Ahok? Mengingat bahwasanya kedunya memiliki kesamaan, bukan tidak mungkin apabila Ahok akan bernasib serupa dengan Trump seperti yang diketahui ruang lingkupnya jauh lebih kecil. Sosok seperti Ahok yang misuhan justru memang lebih komprehensif dalam menangani problematika dan jauh dari korupsi.

Jadi, walaupun badai politik yang datang dari berbagai penjuru kini membombardir Ahok, ia masih memiliki probabilitas yang besar untuk menjadi orang nomor satu di DKI Jakarta.

Julianto Nugroho (Pegiat Jurai Siwo Corner)