Anggota DPRD Lampung I Made Suarjaya Sebut Mahasiswa Harus Menjadi Agen Perubahan

0
65

Bandar Lampung – Sejarah kemerdekaan Indonesia tak lepas dari peran serta mahasiswa. Sebagai aktivis kampus, mahasiswa harus punya idealisme yang baik.

Mereka juga harus mampu menyuarakan apa yang menurut mereka benar, dan apa yang menurut mereka salah di hadapan publik tanpa keragu-raguan.

Sehingga, seorang mahasiswa yang terhimpun dalam organisasi kampus benar-benar mampu menjadi agent of change (agen perubahan), dan mampu berkontribusi aktif dalam membangun peradaban di wilayahnya masing-masing.

Begitulah benang merah yang disampaikan politisi asal Partai Gerindra Provinsi Lampung, I Made Suarjaya (IMS).

Hal itu disampaikannya saat diwawancarai oleh awak media online usai menerima kunjungan dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Perhimpunan Mahasiswa Hindu (Permadu) Kampus IIB Darmajaya di kediamannya, Kabupaten Lampung Tengah, Minggu (4/4/2021).

IMS yang juga Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Lampung itu menuturkan, dalam pertemuan itu terjadi tanya jawab yang cukup menarik.

“Mereka bertanya banyak hal, seperti bagimana caranya untuk menjadi anggota dewan. Karena menutur mereka sepertinya enak. Kata saya harus nyalon. Tapi kalau mau pintar nulis berita, ya jadi wartawan,” kata IMS.

IMS sengaja menyempatkan waktunya untuk menerima kunjungan para aktivis kampus itu. Dia mengaku senang, bisa bertukar pendapat dengan para mahasiswa.

“Mereka habis diklat manajemen organisasi (MO). Kita tidak hadir langsung, tapi banyak memberi masukan pada mereka,” ucapnya.

Masukan tersebut diantaranya, jangan sampai sikap kritisme aktivis mahasiswa hilang, walau dalam kondisi pandemi.

“Kuliah mereka banyak daring (dalam jaringan). Tapi isu-isu yang memicu daya kritis mereka tetap harus bisa disalurkan, meski dalam keterbatasan ruang gerak,” jelasnya.

Untuk itu, IMS mendorong para mahasiswa untuk terus melajar. Bukan hanya secara formal, namun juga dalam lingkup keorganisasian kampus sebagai wadah menempa diri.

“Berorganisasi itu harus tuntas. Ketika berorganisasi, label mereka aktivis. Sebagai aktivis harus mengerti kondisi daerah. Daya fikir mereka yang kritis itu harus bisa meyuarakan apa yang dipandang baik dan tidak baik,” terangnya.

Untuk menyampaikan pendapat, sambung IMS, seorang aktivis mahasiswa jangan berfikir salah-bener terhadap apa yang mereka sampaikan.

“Sampaikan dulu pendapatnya, sesuai apa yang mereka pahami dan apa yang mereka pelajari. Bicara salah benarnya itu nanti, agar mereka tidak ragu menyampaikan pendapat. Kalau menimbang-nimbang malah akan timbul keraguan,” kata dia.

Meski demikian, IMS mendorong mahasiswa untuk terus mengikuti perkembangan, dan terus belajar menggali ilmu pengetahuan.

“Teruslah memformulasikan diri untuk dapat menyalurkan daya kritis, sebab mahasiswa itu harus mampu menjadi agent of change,” ungkapnya. (Red/Rls)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here