Melestarikan Budaya Pencak Silat ditengah Pandemi

0
126

Di desa Singapura yang dulunya bernama desa Asamkelat terdapat organisasi Pencak silat Persaudraan Setia Hati Terate yang berdiri sejak tahun 1922 dan masuk di desa singapura pada tahun 1998, didirikan oleh bapak Sarif, seorang pendekar yang pernah menjuarai pencak silat tingkat provinsi maupun nasional,

Setiap kamis sore dan minggu pagi anak-anak di desa Singapura melakukan rutinitas latihan pencak silat. Sebuah unit kegiatan yang aktif ditengah pandemi ini, walau awal dari pendemi pencak silat sempat vakum beberapa bulan.

Latihan pencak silat ini dihadiri sekitar 25-30 anak, mulai dari anak SD sampai SMA, mereka dilatih pemanasan terlebih dahulu, latihan dasar dan ditutup dengan latihan teknik atlet. Latihan ini berlangsung sekitar 3-4 jam.

Menurut Muniri, salah satu orang tua yang anaknya ikut latihan pencak silat, sangat mendukung penuh anaknya mengikuti kegiatan tersebut. Selain untuk melestarikan budaya asli Indonesia, anak juga mengurangi waktunya bermain gadget di saat pandemi ini. Ia juga berharap semoga kedepannya anak-anak yang ikut latihan bisa mengikuti ivent-ivent pencak silat dan membanggakan orang tua sampai kekanca internasional.

“melestarikan budaya pencak silat adalah kewajiban yang membanggakan agar pencak silat tidak ditelan zaman, juga dengan menjaga tradisi kita dapat menghargai jasa para leluhur, sehingga kita dapat membangun rasa cinta dan kebersamaan didalam desa tercinta ini”, ujar Apri selaku ketua Ranting PSHT Semidang Aji.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here