Kalau jadi aktivis terus tidak punya duit itu biasa. Karena hakikatnya aktivis itu buang-buang tenaga dan duit. Kalau mau punya duit eranya social entrepreneurship. Misal hari ini banyak gagasan gerakan wisata warga sebagai contoh. Tetap membela kepentingan warga, menolak kepemilikan segelintir orang. Bisa juga dengan memproduksi karya ekonomi kreatif dan media digital.

Jadi kalau kamu aktivis, tapi kamu masih bergaya tahun 80 an ke bawah, baiknya contohlah Widji Tukul. Dia bisa kemanapun dengan ngamen dan bisa datang baca puisi untuk menyemangati aktivis di kampus-kampus. Jadi jangan heran jika puisinya bernyali, karena dia bukan pengrajin proposal penjual kemiskinan. Menjadi aktivis di era milenial, saya katakan berbeda dengan cara-cara lama.

Anda harus menguasai tulis menulis, itu wajib karena itu modal kita menggerakkan publik. Lebih penting adalah menjaga nafas gerakan, saat anda buntu dengan kebutuhan hidup yang makin mahal. Skill selain menulis bisa dengan design grafis, video maker, kampanye clothing, juga media branding lewat instagram, fanpages, youtube dan website.

Jadi gerakan social entrepreneurship ini juga akan menjangkau mereka-mereka yang tidak paham gerakan pro wong cilik–meminjam bahasa salah satu partai penguasa yang juga kesulitan menerjemahkannya. Gerakan ini dimaksud, dapat memikat orang-orang umum untuk mau membantu atau minimal support gerakan. Kalau gerakanmu masih kurang jejaring, ya berjejaringlah dengan para senior yang kamu anggap punya hati dan pikiran yang baik. Kalau raja olah banyak, itu yang wajib dihindari.

Instagram dan fanpages gerakanmu harus meningkat. Jangan segitu-gitu aja. Yakinlah teorimu yang rumit itu tidak semua bisa di daratkan, jadi tidak usah merasa paling intelektuil. Gagal itu biasa jika sudah memilih jadi aktivis. Yang perlu dipertahankan adalah keresahan. Ya… kamu harus resah saat orang-orang disekelilingmu diam. Kamu resah saat sekelilingmu tak ada perubahan positif. Umur perjuanganmu sebagai aktivis juga tidak linier dengan kematangan atau kejayaanmu dalam gerakan.

Dalam dunia aktivis kamu akan menemukan egoisme para pejuang. Kesombongan untuk mengakui pendapat orang lain. Padahal yang akan diingat adalah cara kita menghargai mereka yang berbeda, menolong mereka yang kesusahan, dan pro terhadap perubahan. Apalagi melihat orang susah itu ya kawan kawan kita yang aktivis.😊

Ternyata kaum tertindas yang diperjuangkan para aktivis itu belum sampai pada rakyat. Ternyata kaum tertindas itu kawan kawan di dunia aktivis itu sendiri. Mereka yang gagal merencanakan diri dan terlambat menyadari sudah tertinggal jauh dengan orang lain yang bukan aktivis.

Perubahan di luar sana begitu cepat, tapi dunia aktivis berkutat pada dirinya sendiri yang payah atas nama idealisme. Lalu membenci mereka mereka para kaum borjuis. Sedangkan dia juga tidak ada binaan pemberdayaan masyarakat. Jangankan rakyat atau masyarakat, komunitas binaan saja dia tidak punya. Dan hanya berimajinasi di malam hari lalu tidur di siang hari. Malam begitu lagi dan siang begitu seterusnya.

Ada lagi aktivis nggak sabaran, masuk partai politik dan mulai belajar berjanji untuk rakyat. Sembari masuk partai dia cari project-project di dalamnya. Jika untung ada bandar dari pusat ngajak tandem dia bisa jadi dewan, jika gagal ya dia tetap bertahan nunggu giliran sambil menjalankan project di dalam partai. Dia malah belajar berbusa-busa sejak dalam pikiran.

Dunia aktivis itu rumit memang. Tapi yakinlah akan banyak orang yang membantu jika kita bergerak dengan jujur. Gerakan yang memberi nilai tambah bagi tumbuhnya ekonomi kerakyatan yang kita teriakkan sejak mahasiswa. Bahkan sampai kita lupa konsep itu memang tidak mudah menerapkannya. Karena kita lupa bagaimana harus menjadi bagian elit yang tetap jujur atau menjadi bagian para alit yang baik tanpa mengeluh.

Dharma Setyawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here