Ekonomi Kreatif Kota

21

Penulis: Moes Santosa

Dalam pembangunan, pengembangan sektor ekonomi daerah perkotaan khususnya ekonomi kreatif perlu masuk ke dalam agenda prioritas. Sebab, kota menjadi pusat dari berbagai kegiatan ekonomi sekaligus sebagai ruang kreatif. Sehingga, sektor ekonomi kreatif harus dimaksimalkan peranannya untuk mendukung proses pembangunan.

Ekonomi kreatif merupakan sebuah konsep untuk merealisasikan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dengan basis kreativitas. Dimana, mengutip dari Cetak Biru Ekonomi Kreatif 2025, ekonomi kreatif lekat dengan suatu penciptaan nilai tambah – ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan – berbasis ide yang lahir dari kreatifitat sumber daya manusia dan pemanfaatan ilmu pengetahuan, warisan budaya, dan teknologi. Setidaknya ada tiga hal pokok yang menjadi dasar dari ekonomi kreatif ini, yaitu kreativitas, inovasi, dan penemuan.

Konsep ekonomi kreatif mulai hangat diperbincangkan sejak mumculnya buku karya John Howkins yang berjudul “Creative Economy, How People Make Money form Idea”. Ia menjelaskan dalam bukunya tersebut bahwa ekonomi kreatif sebagai kegiatan ekonomi yang memiliki input dan output berupa gagasan. Gagasan tersebutlah yang kemudian menjadi modal utama seseorang untuk menciptakan kreativitas yang dapat dihargai dan bernilai jual.

Selain itu, adanya pergeseran oriantasi gelombang ekonomi atau revolusi ekonomi menjadi alasan utama lahirnya ekonomi kreatif. Diawali dari ekonomi agraria atau pertanian yang bertransformasi menjadi ekonomi industri. Dimana ekonomi industri melahirkan pola kerja, produksi, dan distribusi yang semakin efektif dan efesian dari sebelumnya. Kemudian berkembang ke arah ekonomi informasi yang diikuti dengan penemuan-penemuan teknologi seperti internet hingga akhirnya lahirlah ekonomi kreatif.

Penumbuhkembangan ekonomi kreatif kota dapat diimplementasikan melalui kegiatan industri kreatif yang dijalankan oleh masyarakat, terutama oleh para generasi muda kota. Pasalnya, ekonomi kreatif menjadi bagian dari sistem transaksi penawaran dan permintaan yang bersumber dari kegiatan ekonomi yang digerakkan oleh sektor industri kreatif. Setidaknya ada 16 subsektor ekonomi kreatif yang tertuang dalam Perpres Nomor 72 Tahun 2015, meliputi arsitektur; desain interior; desain komunikasi visual; desain produk; film, animasi dan video; fotografi; kriya; kuliner; musik; fesyen; aplikasi dan game developer; penerbitan; periklanan; televisi dan radio; seni pertunjukan; dan seni rupa.

Kini, pengembangan industri kreatif berada dibawah naungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang sebelumnya dikelola oleh Badan Ekonomi Kreatif Indonesia atau Bekraf. Selama Bekraf berdiri, industri kreatif di Indonesia mengalami pertumbuhan yang pesat. Dilansir dari kompas.com, pertumbuhan industri kreatif selama tahun 2016-2018 berada di atas 5 pesen. Dimana industri musik tumbuh 7,59 persen ditahun 2018, sedangkan industri perfilman ditahun yang sama mengalami kemajuan dengan semakin bertambahnya jumlah layar bioskop hingga 1.820 unit dengan 52 juta penonton.

Disamping itu, dampak dari pertumbuhan industri kreatif ini berpengaruh pada penekanan tingkat pengangguran. Dari berbagai data yang dihimpun dari World Conference Creative Economy 2018 bahwa sektor industri kreatif di Indonesia telah menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 852 Triliun atau setara dengan 7,3 persen dari total PDB Indonesai selam 3 tahun terakhir. Selain itu, sektor industri kreatif di indonesia telah menyumbangkan ekspor senilai USD 19,4 Miliar atau setara dengan 12,88 persen dari total ekspor indonesia dan menyumbang lapangan pekerjaan bagi 15,9 juta tenaga kerja.

Pesatnya pertumbuhan industri kreatif ini tidak lepas dari peran generasi muda yang terus mengembangkan kreatifitasnya. Melalui berbagai macam bidang yang mereka geluti, pada akhirnya mampu memberikan sumbangsih bagi peningkatan perekonomian kota. Oleh karena itu, peran generasi muda harus terus dipupuk agar tumbuh semangat dalam mengembangkan sektor-sektor industri kreatif yang saat ini belum maksimal. Selain itu, pemerintah kota juga harus memberikan kebijakan dan ruang yang lebar bagi mereka untuk berkreativitas. Sehingga tidak ada lagi sekat yang membuat mereka merasa terbebani atau terganggu dalam menuangkan kreativitasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here