Desa yang bersemi

50

Disaat dunia panik dengan virus Corona yang merajalela, keadaan ekonomi yang acak amburadul dan mental yang tergoncang membuat virus ini menghantui di berbagai negara. Saya tidak akan membahas tentang virus ini, karena sudah banyak berita yang hampir setiap menit dibahas. Mari kita lebih membuka sedikit pikiran mengenai desa dalam situasi seperti ini.

Tidak asing lagi jika desa sering dianggap kurang populer, dana anggaran yang lebih besar kepada daerah kota menambah tertinggalnya daerah pedesaan, namun sekarang kini desa menjawab semua persoalan dalam menghadapi kindisi dimana uang tidak membuat orang menjadi hebat terhadap virus ini. Bayak penduduk perkotaan yang bingung bagaimana kedepannya mereka hanya untuk sekedar makan.
Mereka bahkan sangat membutuhkan bantuan pemerintah yang menjadikan anggaran semakin membengkak, untuk mencari nafkah yang biasa hidup dengan berdagang di daerah kota menjadikan yang paling menderita dalam situasi ini, mereka tidak mendapatkan penghasilan dan tak tau caranya agar mereka tetap dapat menghasilkan uang untuk menjalani kehidupannya. Masalah yang sangat kompleks dalam mengatasi semua ini.

Lalu apa yang terjadi di desa? Ya, Desa yang biasa hidup dengan kepedulian sosial tinggi membuktikan dengan saling berbagi, mereka walaupun dirugikan dengan kondisi ini, tetapi setidaknya mereka tidak terlalu terbebani dalam masalah pangan, desa yang terbiasa untuk memanam tanaman akan kembali seperti dahulu, semua hasil pertanian yang mereka tanam akan dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan pangan. Uang tidak terlalu dijadikan sebagai barang yang dimuliakan, yang terpenting mereka bisa makan dan saling berbagai ke sesama.

Pada dasarnya tuhan menciptakan alam untuk dimanfaatkan manusia, banyak yang lupa dengan manfaat itu, hanya untuk kepentingan yang lain. Keegoisan dan keserakahan akan alam, membuat lupa akan semua itu. Mungkin tuhan menugur kita agar sedikit bersyukur terhadap yang diberikan oleh alam.
Pekerjaan petani yang banyak disepelekan atau bahkan banyak yang menghindari demi bekerja kantoran yang berdasi.

Statement yang dibangun di masa kini menyebabkan semua menjadi salah kaprah. Jika tak ada yang bertani apakah semua pekerjaan akan digantikan oleh mesin? Saya rasa semua itu tidak semua bisa dilakukan oleh mesin, menurut teori goblok saya yang saya buat sendiri yang mungkin tidak sesuai dengan teori di bangku sekolah atau perkuliahan bahwa “jika masyarakat semua menjadi pekerjaan kantor maka tak ada lagi sumber pangan yang bisa digunakan, uang yang bertumpuk dan tidak berseri tidak membuat menjadi kenyang, perut bukan persoalan keinginan yang bisa dirubah sesuai dengan keadaan, perut hanya butuh makanan, sayur sayuran tak mungkin dicetak dengan mesin yang dibuat manusia.

Penulis : Adi Chandra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here