Wisata merupakan tempat yang banyak dikunjungi orang yang ingin sekedar untuk refreshing akibat padatnya kehidupan yang menuntut untuk terus bekerja. Kumpul bersama keluarga dinilai sedikit menghilangkan rasa lelah. Bercanda dan tertawa menjadikan beban pikiran lebih menurut. Pekerjaan banyak menyita waktu kebersamaan dalam keluarga. Ini yang menjadi orang yang kaya belum tentu hidup dengan bahagia.
Walaupun hadirnya teknologi handphone membawa dampak positif dalam perkembangan suatu negara, tetapi terkadang kita terlena dengan handphone yang dipegang. Dulu waktu sebelum adanya handphone, anak-anak sering bermain bersama yang kita menganggapnya sekarang adalah kuno. Anak kecil bermain kelereng, lompat karet, bola plastik di lapangan terlihat sangat senang.
Anak-anak bermain dengan penuh gembira dan menikmati permainan yang mereka lakukan bahkan, kadang hingga bertengkar satu sama lain, itu merupakan hal yang wajar dan mereka kembali bermain bersama-sama. Kondisi ini yang sekarang sungguh memperihatinkan. Anak-anak dari kecil sudah memakai handphone untuk sekedar bermain game, padahal yang mereka lakukan menghambat daya pikir yang seharusnya dimiliki anak pada umumnya hingga mereka sibuk dengan handphone masing-masing yang menjadikan sulit untuk bersosialisasi bahkan canggung untuk sekedar bermain dengan anak sepantaran mereka.
Kepedulian akan lingkungan sekitar dirasa kurang tumbuh dalam kehidupan anak-anak. Pada masa pertumbuhan anak diberikan kebebasan untuk bermain dengan temannya saling berbaur yang dapat merangsang pola pikirnya. Tidak hanya itu, kebanyakan masyarakat sekarang lebih suka dengan hal yang baru dan paling dicari orang. Mereka lupa bahwa yang diwariskan para leluhurnya tidak kalah dengan yang lain. Kurangnya edukasi terhadap kelestarian budaya yang kita miliki sejak dulu, menjadikan lama-kelamaan akan hilang ditelan zaman.
Menghidupkan hal yang lama terlupakan seharusnya menjadi tugas kita. Masyarakat pada umumnya bosan dengan kehidupan yang sekarang ini. Kurangnya edukasi terhadap kelestarian budaya yang menyebabkan ketidaktahuan akan potensi yang dimiliki bangsa kita sendiri. Kebiasaan dengan yang mengenai budaya asing menjadi masalah yang harus diselesaikan.
Seperti dalam segi kuliner, masyarakat lebih suka makanan yang ada di restoran mewah yang makanannya dari Eropa maupun negara lain dengan nama yang sulit untuk diucapkan dibandingkan dengan makanan tradisional yang ada sejak dulu. Padahal makanan khas yang dimiliki enak dan memiliki cita rasa yang tidak dimiliki makanan lain.
Yang perlu diubah adalah cara pandang orang lain yang mengagap makan yang dulu kurang diminati dibandingkan dengan negara lain. Lidah tidak bisa berbohong, makanan tradisional memang enak dan memiliki rempah-rempah yang banyak yang menjadi cita rasa masakan lebih lezat. Orang yang hidup di perkotaan akan lebih banyak minatnya dibanding orang dari daerah pedesaan karena masyarakat desa sering merasakan makanan tradisional, sedangkan masyarakat daerah perkotaan yang jarang untuk menjumpai makanan tradisional.
Penulis: Arif Adi Chandra (Mahasiswa Esy IAIN Metro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here