Peran Kecil

22

Saya jadi teringat tentang pakde kopi di payungi. Saya sebut begitu karena tidak tau namanya tapi beliau memiliki peran walaupun boleh dibilang kecil. Pakde ini saya perhatikan selalu ada disetiap diskusi malam di payungi terlebih pada diskusi refleksi akhir tahun kemarin. Perannya sederhana hanya membuat kopi ataupun teh untuk peserta diskusi maupun untuk pematerinya. Hal ini lain yang saya ingat adalah beliau selalu menanyakan hal kecil yang bisa jadi kita anggap sepele yaitu, “wes podo kebagian minum urung?” setiap nampan kembali diberikan kepadanya.

Peran kecil tersebut mengingatkan saya ketika Tahun 2018. Karena ditahun tersebut saya berhenti dari organisasi dan alhasil menjadi seseorang yang aneh ketika tidak ada kegiatan. Lalu yang berpikir untuk memiliki peran kecil di tempat dimana saya tinggal. Karena saya bisa foto, ngedit video dan desain walaupun hanya bisanya dikit-dikit saya putuskan untuk membuat akun @hadimulyotimur di Instagram maupun Facebook. Untuk sekedar membagikan postingan foto, video kegiatan-kegiatan masyarakat ataupun potensi yang ada di Hadimulyo Timur.

Sempat “mandek” hampir 10 bulan karena bingung mau membagikan postingan apa lalu akhirnya pada Desember 2018 kembali mencoba mengaktifkan akun tersebut. Perjuangan mencari konten hampir dilakukan tiap hari dengan keliling disetiap ujung kelurahan lalu ke ujung lainnya dengan sepeda motor lengkap dengan topi dan celana pendek, biar dikira warga lokal, hehehe. Ketika hari itu tidak menemukan konten lalu malamnya pasti akan buka Browser. Facebook ataupun Instagram dengan modal search, tag lokasi ataupun hastag untuk mencari postingan-postingan yang berkaitan dengan Hadimulyo Timur. Dari situ mulai ketemu beberapa tempat atau kegiatan masyarakat yang dapat dipostingkan di Sosial Media tapi tetap esensi keliling di penjuru Hadimulyo Timur tetap di pertahankan.

Puncaknya sebelum 17 Agustus 2019 hampir tiap kesempatan mencari info event-event di tiap RT dan RW. Yang pasti dengan keliling karena bisa dipastikan info tersebut selain melalui mulut ke mulut pasti ada masyarakat yang menempelkan pengumuman tersebut di dinding, tiang listrik, kaca tempat ibadah, maupun dirumah-rumah. Ketika sudah mengetahui waktu kegiatan tiap RT dan RW lalu giliran peran hape untuk mendokumentasikan kegiatan tersebut berupa foto, video ataupun desain.

Rasa capek, berkorban bensin, waktu dan belum diapresiasi menjadi seni disetiap perjuangan. Peran kecil untuk mempopulerkan Hadimulyo Timur melalui Sosial Media memang dilakukan dengan sendirian. Hal ini membuat saya berpikir ditahun kedua ini untuk membuat semacam wadah diskusi berupa grup WhatsApp. Harapannya saya bisa ketemu orang-orang yang satu frekuensi yang dapat dijadikan teman untuk berbagi ide, gagasan ataupun saling mengingatkan.

Penulis : Aan Fergian

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here