Orang yang paling pintar dan hebah belum tentu bisa berbaur dengan masyarakat, terutama dilingkungan tempat tinggalnya. Di bangku sekolah kita tidak diajarkan bagaimana kita bisa berinteraksi maupun sekedar saling sapa, kita disibukkan dengan PR yang diberikan dan besoknya harus dikumpulkan.

Waktu kita yang seharusnya untuk berinteraksi dengan masyarakat , habis terbuang hanya untuk mengerjakan tugas sekolah, bahkan PR yang dikerjakan belum tentu dapat bermanfaat di dunia nyata yang hidup perlu adanya saling berbaur dengan masyarakat agar kita tidak dianggap sebagai orang yang hidup cuma untuk beristirahat dan hilang saat dicari.

Jangan dianggap remeh masalah hubungan dan interaksi antara pemuda dan Masyarakat sekitar, sudah terbukti jika pemuda hanya berdiam diri tanpa berkontribusi dalam lingkungannya, maka desa yang ia tempati akan tertinggal dibandingkan dengan desa lain yang pemuda solid dan mau untuk berbaur dengan masyarakat.

Bisa berinteraksi maupun tukar fikiran dengan masyarakat membuat kita semakin tinggi wawasan akan pentingnya saling berbaur, kita dalam masyarakat akan dikucilkan ketika gagal dalam berinteraksi dengan masyarakat.

Seorang budayawan, Sujiwo Tejo pernah mengatakan dalam acara ILC yang mungkin anak muda sekarang lebih memilih menonton TV yang berbau sinetron. Ia mengatakan “saya akan berusaha menahan ketawa ketika melihat adanya kerjaan baru, jika kita memposisikan sebagai orang kerajaan kita juga akan sama tertawa melihat sistem demokrasi kita. Apa bedanya kerajaan dengan demokrasi, jika kebenaran diukur dari benarnya orang banyak dan ditentukan oleh para ahli.

Jangan menganggap kita lah yang paling benar, diluar sana banyak orang hebat yang berkontribusi terhadap kemajuan masyarakat sekitarnya. Belajar berbaur dalam masyarakat sangatlah penting, Karena hakekatnya orang belajar pasti akan mengalami kegagalan dalam belajarnya.

Melakukan perubahan dan berinteraksi dengan masyarakat dimulai dengan kita terus bergerak, dan langkah kaki pertama merupakan awal dari pergerakan, ketika kita tidak mau untuk melangkahkan kaki pertama, bagaimana mau melakukan pergerakan.

Penulis: Arif Adi Chandra (Mahasiswa Esy IAIN Metro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here