Tantangan Internalisasi Nilai-nilai Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0

120

Penulis: Bobi Hidayat, Dosen FKIP UM Metro

Seiring perkembangan zaman dan diikuti dengan perkembangan teknologi, mengarah pada zaman revolusi industri 4.0. Zaman dimana terjadinya digitalisasi diberbagai bidang kehidupan manusia. Pada zaman ini bukan sekedar menciptakan teknologi secara digital, akan tetapi juga sudah pada tahapan implementasi digitalisasi teknologi dalam kehidupan manusia sehari-hari. Hal ini juga berdampak pada bidang pendidikan yang terus berkembang secara dinamis mengikuti perkembangan zaman. Perkembangan yang terjadi di dunia pendidikan direspon dan berkembang melalui penelitian dan kegiatan-kegiatan ilmiah yang bertujuan untuk menciptakan pendidikan yang berkemajuan.

Merunut pada realita di lapangan bahwa dunia pendidikan mengarah pada dunia pendidikan yang bersifat digital, ada suatu permasalahan yang muncul yaitu bagaimana nilai-nilai pendidikan masih tetap terus dapat tertanam pada diri siswa di era digitalisasi dunia pendidikan ini. Karena dengan serba digitalnya kegiatan dalam pendidikan, nilai-nilai pendidikan yang harus tertanam pada diri peserta didik tidak boleh disepelekan. Bagaimana kita menyoroti kondisi seperti ini sehingga nilai-nilai pendidikan yang luhur masih tetap mampu tertanam pada diri peserta didik. Terutama nilai-nilai pendidikan karakter bangsa yang telah dicanangkan oleh pemerintah yang merunut pada nilai luhur budaya Indonesia.

Wahana Internalisasi

Digitalisasi pendidikan akan berdampak pada bebasnya peserta didik memperoleh informasi baik dari dalam maupun dari luar negeri. Serangan budaya asing sangat prospek sekali mempengaruhi nilai pendidikan lokal. Huriah Rachmah (2014:246) mengatakan bahwa generasi saat ini yang menjadi peserta didik merupakan generasi Z, dimana anak bangun tidur dan langsung melihat smart phone atau tablet yang keduanya terkoneksi ke internet, ternyata banyak pesan masuk dari berbagai media yang diikuti olehnya dan masuk pada saat tidur. Kondisi seperti ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku pendidikan yang ingin mempertahankan nilai-nilai pendidikan luhur berdasarkan kearifan lokal (wisdom).

Dalam perspektif pendidikan, penanaman nilai pendidikan tidak dapat dilakukan secara instan. Tidak dapat hanya menjalankan seremonial sesaat, semisal upacara dan perayaan hari besar nasional. Penanaman nilai-nilai pendidikan memerlukan waktu yang dapat dikatakan tidak sebentar. Perlu proses yang lama dengan berbagai metode yang digunakan. Penanaman nilai-nilai pendidikan dapat melibatkan banyak komponen (sekolah, keluarga, masyarakat, dan pemerintah). Perjalanan sejarah dalam pendidikan, untuk menjaga konsistensi nilai-nilai pendidikan ada pada masyarakat adalah adanya waktu yang cukup dalam proses pendidikan di sekolah terutama pendidikan tentang pendidikan karakter. Namun akhir-akhir ini, pendidikan di sekolah kurang adanya waktu yang cukup untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan dan juga pemberian contoh yang baik dilingkungan sekolah yang masih belum optimal. Hal ini perlu menjadi evaluasi pendidikan di sekolah sehingga sekolah dapat menjadi wahana yang baik untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan.

Pada tataran keluarga. Perlu adanya pelibatan keluarga dalam mendidik dan menerapkan nilai-nilai pendidikan kepada anak dan anggota keluarga lainya. Keluarga merupakan masyarakat terkecil pembentuk masyarakat yang lebih luas yaitu Negara. Anggota keluarga melalui kepala keluarga memberikan contoh dan mengkoordinasikan anggotanya untuk selalu senantiasa bebuat yang baik seperti beribadah, adil, musyawarah mufakat dan hal-hal lainya hingga menjadi kebiasaan. Jika dalam keluarga sudah terwujud dan tertanam nilai-nilai pendidikan yang baik, maka dimungkinkan akan membentuk negara yang baik, yang secara konsisten masyarakatnya menjaga dan mengamalkan nilai-nilai pendidikan.

Pada tataran masyarakat. Masyarakat modern bukan berarti masyarakat yang bisa hidup sendiri dan harus meninggalkan sifat religius serta terlepas dari masyarakat umum. Masyarakat modern juga dapat terus mempertahankan budaya kereligiusan, musyawarah dan kerjasama. Sebagai anggota masyarakat harus sadar untuk meluangkan waktu guna bermasyarakat dan bersosialisasi. Hal ini penting dalam upaya mengamalkan dan mempertahankan nilai-nilai luhur pendidikan yang ada dalam masyarakat, terutama pada masyarakat modern yang cenderung pada aktivitas yang bersifat individualitas.

Pada tataran pemerintahan. Pemerintah dengan gamblang dan terbuka dapat memberikan contoh implementasi dari nilai-nilai pendidikan. Adil dalam memperlakukan rakyatnya. Bijaksana dalam mengambil keputusan dan lebih mementingkan kepentingan rakyat/umum dari pada kepentingan pribadi atau golongan. Bukan memaksakan kehendak penguasa meskipun merugikan rakyat. Dan banyak contoh-contoh lain dari pemerintah yang dapat dijadikan wahana untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan bagi masyarakat indonesia. Bukan tanpa dasar, realita di masyarakat, apa yang  dilakukan pemerintah menjadi contoh prilaku masyarakatnya. Jika minim contoh yang baik dari pemerintah, dapat berdampak buruk bagi pendidikan di masyarakat.

Jika antara wahana ini dapat menjalankan tugasnya masing-masing dengan baik, maka akan berdampak pada kehidupan keluarga yang nyaman, bermasyarakat yang damai, sejuk dan rukun serta dapat membentuk negara yang tentram, negara yang Baldatun Thayyibatun wa Robbun Ghofur meskipun adanya terpaan budaya asing yang masuk di era ini, era revolusi industri 4.0, era digitalisasi kehidupan yang dengan mudahnya manusia mengakses dunia luar meskipun di ruang yang sempit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here