Internalized Misogyny

75

Jujur saya pernah punya anggapan yang kalau diingat-ingat itu termasuk misoginis. Ketika ada kasus pelecehan seksual, utamanya yang menimpa perempuan yang saya kenal. Pikiran yang pertama kali muncul adalah ‘Seperti apa panampilan dia saat itu?”.

Dalam artian ya pakaian atau dandanannya. Alam bawah sadar saya beranggapan bahwa seseorang yang benar-benar menjaga penampilan dan tingkah lakunya cenderung tidak akan menerima sebuah pelecehan. Tapi nyatanya tidak sesederhana itu.

Belakangan saya terus membaca dan belajar, hingga akhirnya mengerti bahwa hal semacam itu tidaklah adil bagi si penyintas (korban pelecehan seksual). Saya jadi berasumsi bahwa pikiran itu muncul karena pengaruh budaya society yang ada. Sehingga ketika sekarang, ada seseorang atau bahkan perempuan yang men-justice perempuan lain dengan pertanyaan serupa, saya jadi punya pikiran lain.

Barangkali, hal semacam itu terjadi karena minimnya pengetahuan mereka. Bukan kurangnya rasa empati terhadap sesama perempuan. Budaya yang terus memandang berbagai fenomena dari point of view laki-laki, seolah telah membangun alam bawah sadar elemen masyarakat untuk punya kesadaran seperti itu.
Saya yakin, sebagian besar perempuan tidak sadar, bahwa dirinya sering terobjektifikasi budaya patriarki di lingkungannya. Bahkan boleh jadi, sejak dalam keluarga, ibunya selalu mendidik bahwa perempuan harus begini dan begitu. Sementara anak laki-laki lebih memiliki previlise dibanding anak perempuan.

“Ya wajar, mas mu kan laki-laki, kamu perempuan tidak boleh seperti itu” mungkin merupakan ungkapan yang sering terdengar bagi mereka yang punya saudara laki-laki.
Budaya patriarki sedikit banyak memang sangat memengaruhi lapisan masyarakat kita.
Alam bawah sadar sering autodrive bahwa yang berkewajiban menjaga dari hal-hal yang menyebabkan pelecehan seksual adalah perempuan sendiri. Sementara laki-laki diibaratkan kucing, yang selalu mendapat pemakluman ketika ia melakukan pelecehan.
“Yaa gimana wong kucing kok dikasih ikan asin, jelas diembatlah..” Sungguh istilah yang sangat tidak adil bagi perempuan.

Kembali kepada tipologi dandanan atau pakaian yang oleh sebagian besar masyarakat kita dianggap sebagai pemicu seorang perempuan dilecehkan. Ada semacam standardisasi ‘Perempuan berpakaian sopan’ untuk mendikotomikan siapa-siapa yang pantas mendapat pelecehan. Padahal tetap tidak menutup kemungkinan yang pakaiannya sopan tetap mendapat pelecehan seksual.

Masalah ketidakadilan itu timbul tentang bagaimana perintah menjaga pandangan justru dibebankan kepada yang bukan tanggungjawabnya. Lah kan yang disuruh jaga pandangan laki-laki, tapi kenapa perempuan terus yang kejar untuk menutup pakaiannya. Terus kalau perempuan sudah menutup pakaiannya, jadi terhindar dari pelecehan? Ah belum tentu juga kan? Jadi laki-laki harus menutup apanya supaya tidak melakukan pelecehan?

Ironisnya beberapa perempuan juga ikut mengamini situasi yang terus mendiskreditkan perempuan ini. “Salahnya dia juga sih pakaiannya menggoda..” , “Makanya mbak kalau dandan tuh nggak usah berlebihan..” Nah boleh jadi saya juga pernah mengalami internalized misogyny seperti ini. Dimana kita tidak memberi pembelaan atau simpati kepada seseorang yang punya ikatan emosional sebagai sesama perempuan.
Secara tidak sadar sebagai perempuan kita turut serta memiliki point of view yang terus membela laki-laki. Bahwa dalam sebuah kasus pelecehan justru perempuan yang disorot untuk disalahkan karena penampilannya. Sementara laki-laki terus diberi pemakluman dengan “Tidak mungkin bisa melakukan pelecehan kalau tidak digoda..”

Perempuan jadi pihak yang terus inferior bahkan ketika ia mengalami ketidakadilan. Ibaratnya sudah diperkosa tapi untuk menuntut keadilan dirinya ia harus diperkosa lagi dengan pertanyaan mengenai penampilannya. Yang tentu saja itu membuka ruang untuk tidak sepenuhnya memposisikan dirinya sebagai korban.

Maka berangkat dari ketidaktahuan ini, para perempuan semestinya tidak berhenti belajar dan berjuang untuk menyetarakan statusnya. Sesama perempuan harus saling mentransfer energi agar tidak ada lagi barisan inferior yang menerima pelecehan-pelecehan dalam bentuk apapun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here