Kerja

127

Penulis: Dharma Setyawan

Di kota ini yang menjalani pekerjaan sebagai tenaga kesehatan sukarela (TKS) cukup banyak. Bahkan di situs dpr.co.id menyebut hal tersebut adalah perbudakan modern. Bagaimana tidak, orang tua membayar kuliah kesehatan mahal-mahal, setelah lulus mereka hanya jadi tenaga sukarela. Atau guru-guru honorer yang bergaji 100 ribu dan dibayar rapel 3 bulan sekali.

Makna kerja itu menjadi sempit, saat para sarjana sejak awal dituntut untuk mencari pekerjaan bukan menciptakan lapangan kerja. Roy anak muda yang mengelola budidaya lebah mengatakan saat main ke Payungi,”kalau mau cari kerja tidak usah kuliah, tapi kalau kuliah ya cari pengetahuan dan digunakan untuk menciptakan lapangan kerja.” Anak muda ini kreatif dan berani menolak ajakan saya tahun ini untuk kuliah di S-1 Ekonomi Syariah IAIN Metro.

Malam-malam mati lampu, dia datang ke rumah dan kondisi saya mengantuk berat. Dia teruas lempar pertanyaan-pertanyaan sulit, apa yang ditawarkan kalau dia kuliah di Ekonomi Syariah? Apa output yang didapat jika kuliah di Ekonomi Syariah? Dengan argumen malas, saya hanya menjawab,”kita berdua akan buat wisata lebah di kota ini.” Mungkin dengan agak kecewa dia pulang tanpa mendapat jawaban yang memuaskan. Mungkin Roy berpikir, dia sudah cukup punya pengetahuan soal lebah ngapain belajar wisata lebah di Kampus, anak muda umur 19 tahun punya 50 kotak lebah dan menarget pendapatan perkotak 100 ribu atau 5 juta per bulan.

Pura-pura kerja itu lebih menyakitkan. Apalagi saat-saat seperti sekarang, tiap tahun ada 400 ribu sarjana pendidikan menganggur. Mungkin juga ditambah dengan fakta lapangan lulus kuliah tanpa skill memadai. Banyak lulusan S-1 dia bingung mau apa setelah lulus. Dia merasa cukup di ruang kelas, dan berusaha mendapatkan IPK yang baik. Tidak hanya itu tugas-tugas dosen dia kerjakan secara tertib dan bahkan menyita waktu untuk dia belajar menjinakkan lingkungan sosial. Keluarga, masyarakat, komunitas, organisasi, lembaga pelatihan, basis sosial, telah lama dia abaikan.

Sebagai sarjana ada dua yang wajib dipelajari yaitu marketing dan manajemen. Jika ingin menjadi enterpreneurship dua di atas penting. Mahasiswa perguruan tinggi swasta di kota ini nongkrong diacara Payungi membaur. Dia mengatakan,”saya sarjana hukum ujungnya jadi marketing rokok. Kawan saya sarjana politik Unila eh malah jadi marketing FIF. Jadi ilmu marketing itu milik semua jurusan. Selain itu ya manajemen, kalau itu berantakan kita nggak bisa menata keuangan hidup kita.”

Soft skill seperti public speaking, leadership, komunikatif dan lainnya sangat penting dimiliki. Hard skill seperti bahasa asing, media digital, menulis, dan keterampilan kreatif menjadi hal utama. Gelar sarjana hanya jadi pajangan saat skill di atas ternyata diabaikan saat menjalani proses kuliah. Ada yang risau karena tidak segera bekerja. Padahal berbeda antara bekerja dan berkarya. Bekerja mengikuti uang dan berkarya diikuti uang.

Jadi kita tidak bisa menganggap rendah mereka yang terus memiliki semangat bekerja dan berkarya. Penulis, pelukis, penggerak, youtuber, animator dan lainnya. Banyak manusia yang kelihatannya menganggur, atau masih berdamai dengan dunia kerjanya hari ini, namun dia menyiapkan roadmap karya dimasa depan. Yang pasti kerja di Indonesia lahir dari tradisi karena tidak ingin dianggap menganggur. Nikmati pekerjaan hari ini, dan terus siapkan skill yang baik sampai kita naik kelas ditahap selanjutnya. Jadi manakah yang lebih penting, ingin cepat jadi sarjana agar segera bekerja, atau menjadi mahasiswa slow tapi pasti namun punya banyak skill untuk berkarya dimasa depan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here